PESAN ADVEN-NATAL 2018 SUPERIOR JENDERAL PASIONIS

Author | Minggu, 09 Desember 2018 22:21 | Dibaca : : 581
PESAN ADVEN-NATAL 2018 SUPERIOR JENDERAL PASIONIS

Saudara-saudari, para sahabat keluarga Pasionis terkasih,

Masa Liturgi Adven adalah periode persiapan untuk pesta agung Natal ... “pesta agung” karena itu adalah perayaan Allah yang menjadi manusia dalam kelahiran pribadi Yesus. Betapa indahnya merenungkan misteri Inkarnasi ini! Masa persiapan ini harus dilakukan dengan cara yang terorganisir dan meminta komitmen. Ini semua bertujuan untuk memperbarui komitmen kita dalam mengikuti Yesus. Tetapi bukan untuk mengukur apa yang terjadi. Apa pun yang “terjadi” akan menjadi karya Allah; itu tidak tergantung pada saya. Kita harus menciptakan kondisi dan menanti dengan penuh harapan; Tuhan akan membuat pohon itu berbuah.

Adven adalah saat MENANTI ... tapi menanti apa? Menanti suatu perjumpaan dengan Tuhan yang datang dan yang kehadiranNya kita dambakan. Ini bukan sesuatu yang dapat dikontrol atau diwujudkan dengan mengikuti langkah-langkah sederhana. Seperti Bunda Maria (tokoh penting dalam masa Adven ini), seseorang harus mengadopsi posisi kontemplatif MENDENGARKAN semua aspek kehidupannya sendiri. Orang hanya perlu MENANTI, menanti dengan penuh KESABARAN dan HARAPAN. Tetapi menanti bukanlah sesuatu yang hanya kita lakukan dengan sukarela. Seolah-olah tinggal dalam suasana kosong dan membuang waktu yang berharga. Terutama sekarang ini, kita hidup dalam waktu serba "instan" ... kita ingin jawaban segera, kalau tidak kita menjadi tidak sabar. Selain itu semua, kita hidup di zaman Google, Istagram dan Twitter, yang menawarkan hasil segera dan instan hanya dengan menekan sebuah tombol. Menunggu atau menanti tidak produktif; dalam melakukannya, banyak waktu berharga hilang.

Seseorang mungkin dapat mengatakan bahwa dalam dunia yang berteknologi maju sekarang ini, kita menghadapi bahaya menjadi semacam "makhluk otomatis" yang merugikan siapa kita sebenarnya dan apa yang Tuhan ciptakan untuk kita: manusia, makhluk yang masuk akal dalam kaitannya dengan dunia alam dan spiritual, yang diciptakan segambar dan secitra dengan Allah. Dan dalam kelahiran dan kedatangan Yesus kita merayakan kemanusiaan dalam kepenuhanNya dan dalam kebaikanNya ... Allah yang menjadi manusia.

Selama satu bulan kita telah menyelesaikan Kapitel Jenderal ke-47, yang pada akhirnya saya telah mengatakan beberapa hal yang ingin saya ulangi di sini dan saya mendorong Anda semua untuk merenungkan secara pribadi dan dalam komunitas.

Pertemuan dan perjalanan Kapitel yang baru saja kita selesaikan, atau lebih tepatnya, yang baru saja kita mulai, bukan soal apa yang telah kita hasilkan. Ini menyangkut pengalaman semua yang telah terjadi dalam diri kita masing-masing. Merenungkan pengalaman!

Sejak awal kita merefleksikan pembaruan misi kita dalam terang pembaharuan kita sendiri. Saya berharap dan berdoa, bahwa kita masing-masing, pada masa ini, telah mencapai suatu kebaruan, suatu pertumbuhan yang diperbarui dalam diri kita.

Bagaimana saya kembali berpaling kepada Tuhan? Bagaimana saya mulai di sini hari ini, berusaha mendengarkan Tuhan lebih banyak?

Dalam Kapitel ini ada saat-saat ketika kita mendengar kata-kata penuh kenabian dan juga saling bertukar kenabian, terutama saat kita memiliki kesempatan untuk berbicara dari hati kita.

Dan beberapa kata kenabian, frase kenabian, yang saya ingat adalah ini :

“Kita ingin menjadi komunitas yang saling menerima, ramah, sekolah doa”.

Bagaimana Anda dan komunitas Anda melakukan  ini dan ini bisa menjadi efektif dan nyata? Apa artinya menjadi “sekolah doa”? Apakah hanya dari apa yang terjadi di dalam rumah kita, gedung kita, ketika orang berkumpul untuk doa bersama pada waktu-waktu tertentu dalam sehari? Apakah hanya soal ini?

Lalu, apa itu “doa”? Apakah ini hanya sebuah pertunjukan, memenuhi suatu kewajiban, atau apakah ini benar merupakan perjumpaan nyata dengan Yesus, dengan Tuhan?

Bagaimana kita dapat membuka komunitas kita, rumah kita, biara kita, rumah retret kita, sehingga semuanya dapat melayani misi ini? Bisakah kita berpikir bahwa setiap komunitas, setiap rumah, menjadi “tempat kudus” bagi Sengsara Yesus? Suatu tempat, yaitu di mana orang-orang merasakan penerimaan dan keramahan, di mana mereka diizinkan masuk ke dalam dan tidak hanya berdiri di depan pintu; ruang di mana mereka benar-benar mengalami dan berjumpa kehadiran cinta yang berasal dari Sengsara Yesus.

“Kita ingin pergi ke pinggiran kota, ke orang-orang terpinggirkan, ke tempat-tempat di mana tidak ada orang yang mau pergi”.

Tetapi bagaimana kita menerjemahkan ini sehingga dapat dipraktekkan dalam kenyataan? Apakah kita menyerahkan semua ini pada para Superior untuk memutuskan? (...ini persoalan mereka!) Para Superior mendorong kita untuk mengikuti panggilan Roh, atau mereka berkata, “Tidak, tidak, tidak ... masih banyak yang harus dilakukan di sini. Kita sudah melakukan cukup banyak hal”? Apa yang sedang diminta oleh karisma? Karisma adalah karunia Roh, anugerah Allah untuk kebaikan komunitas, sehingga Kerajaan Allah datang.

Dalam pidatonya, selama audiensi, Paus Fransiskus menyampaikan kepada kita kata-kata kenabian. Paus menantang kita untuk memiliki “kesetiaan kreatif terhadap karisma”.

Karisma bukan sesuatu yang terbatas, dikurung di dalam kotak. Karisma adalah daya kekuatan Roh yang hidup dan berhembus kemana Dia mau. Kita jangan mengontrolnya, tetapi mendengarkan Roh.

“Kita perlu mendengarkan”.

Seringkali kita mendengar soal ini selama Kapitel!

Mendengarkan, kita perlu memahami: “Apa yang Tuhan minta kepada kita? Bagaimana Tuhan meminta kita untuk menghidupkan kembali karisma kita sekarang ini, artinya, menghidupinya dengan setia dan kreatif di zaman sekarang?”

Ya, saya yakin kita bisa melakukan ini! Tapi kita butuh keberanian. Kita harus berani. Kita harus mengambil risiko ... bahkan jika itu akan gagal, itu tidak masalah. Mari kita bersiap untuk memutus kelekatan dengan apa yang kita lakukan secara rutin dan bagaimana kita melakukannya.

"Mendengarkan tanda-tanda zaman".

Apa yang sedang terjadi sekarang? Apa yang terjadi dalam Gereja, dalam dunia dan di dalam kehidupan kita?  Dan bagaimana kita melihat semua itu? Bagaimana seharusnya kita menanggapi?

Ini adalah hal-hal kenabian yang telah kita bicarakan, yang telah kita bagikan, khususnya di tiga bidang di mana kita ingin fokus: kehidupan komunitas, pembinaan awal dan berkelanjutan dan revitalisasi solidaritas dalam Konfigurasi.

Selama masa persiapan Adven, kita mendengar undangan dari nabi terbesar, Yohanes Pembaptis, yang mendesak kita: “Siapkan jalan bagi Tuhan!”.

Bagaimana kita mendengarkannya? Bagaimana kita menanggapi, baik secara pribadi maupun secara komuniter?

Kita harus menjadi nabi. Kita perlu berdoa untuk memiliki keberanian, berdoa untuk menjadi teguh, berdoa agar tidak menjadi tahanan, lumpuh oleh ketakutan kita, yang membuat kita terikat dalam keterbatasan. Tetapi nubuat kenabian mengharuskan kita menghancurkannya dan kita bebas untuk berbicara dan bersaksi bagi Tuhan, bersama Tuhan dan dalam Tuhan.

Seperti tukang kebun bijaksana yang berkata, “Jangan merobohkan pohon itu; dia belum menghasilkan buah, belum. Tetapi dari waktu ke waktu, bersabarlah”, kita juga harus beristirahat dalam harapan bahwa Tuhan akan datang pada saat yang tepat. Kita menunggu. Kita mendengarkan.

Karena itu, janganlah kita berkecil hati, jangan kita tinggal tanpa rasa harapan - bukan harapan bahwa semua akan berjalan dengan baik, tetapi dengan harapan yang mengandalkan Tuhan.

Kita bersabar. Kita menunggu. Kita melanjutkan untuk mendengarkan, merefleksikan, berdoa, berjumpa Tuhan ... dan Tuhan akan menunjukkan kepada kita jalan di dalam Yesus, yang kedatanganNya sedang kita siapkan saat ini

Kita terus berjuang dan mencari dan tidak menyerah kepada keputusasaan. Tetapi percaya kepada Tuhan - TUNGGU dan BERHARAPLAH.
 

Dalam masa Adven ini, teguhkanlah kami  agar menjadi orang penuh pengharapan.
Doronglah kami untuk tidak tamak akan barang-barang material, tetapi untuk keadilan dan kebenaran.

Kobarkanlah kami dengan cinta untuk orang lain, yang mengatasi hambatan ras, agama dan bangsa.

Berikanlah kepada kami kemampuan untuk menghargai keindahan bumi yang luar biasa.
T
inggallah bersama kami, Tuhan, pada saat ini, agar kami bisa menjadi orang penuh pengharapan.
AMIN.

 

Joachim Rego CP

Superior Jenderal

 

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment