3 Hari Mencari Cinta

Author | Rabu, 28 Maret 2018 08:34 | Dibaca : : 781
The Passion of Christ The Passion of Christ

"Ingatlah bahwa Yesus Kristus telah mati bagi kita dan bangkit dari kematian. Dia adalah Tuhan kita yang menyelamatkan, Dia adalah sukacita bagi semua bangsa di segala zaman.” (Lucien Deiss)

Kita telah memulai pekan terbaik di seluruh tahun liturgi. Berabad-abad yang lalu pekan ini  disebut ‘Pekan Agung'. Sekarang kita menyebutnya 'Pekan Suci'. Kita berjalan dengan Yesus di setiap langkah-Nya di jalan ke Kalvari.

Kita telah memulai hari ini dengan kemenangan-Nya memasuki Yerusalem. Di sana kita telah bergabung dengan orang banyak yang mengaku, menyambut, dan bertepuk tangan sebagai Juruselamat mereka. Kita melakukannya dengan antusiasme dan kegembiraan yang tak terbatas.

Pada hari Kamis kita akan berkumpul di sekeliling meja altar-Nya. Sekali lagi kita akan mendengarkan dan merefleksikan perintah-Nya: ‘Cintailah seorang akan yang lain seperti Aku telah mencintaimu’, dan bertindak dalam Pembasuhan Kaki. Sekali lagi kita akan menerima hadiah penuh kasih dari diri-Nya sendiri dalam roti dan anggur. Kemudian di akhir perjamuan kita akan berangkat bersama Dia di sepanjang jalan dari Ruang Atas ke Taman Zaitun di Yerusalem. Di sana kita akan melihat Dia jatuh ke tanah dalam ketakutan dan kecemasan atas kematian yang kejam dan tidak adil yang menunggu-Nya. Dan ketika kita melihat dan mendengar Dia menangis tersedu-sedu dan bahkan berkeringat darah, hati kita seharusnya dapat merasakan apa yang Dia alami saat itu dan mata kita sendiri akan penuh dengan air mata.

Pada hari Jumat kita akan menemukan diri kita berdiri bersama ibu Yesus dan beberapa sahabat-Nya yang setia di kaki salib. Kita akan tergerak oleh belas kasihan, baik kepada Maria, Bunda Sang Tersalib maupun kepada Dia yang Tersalib dalam siksaan mental dan fisik yang mereka rasakan. Kita akan merasakan sebagian dari kesendirian-Nya dan ditinggalkan, dikhianati dan diabaikan, tidak hanya oleh teman dan pengikut-Nya, tetapi bahkan oleh Tuhan. Bersama St Paulus kita akan berkata: “Aku telah disalibkan bersama dengan Kristus, dan bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam aku. Dan kehidupan yang sekarang aku jalani adalah hidup oleh iman di dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan memberikan diri-Nya bagiku.” (Galatia 2: 19b-20)

Pada hari Sabtu kita akan tenang dan diam di sekitar makam-Nya sambil terus mengingat ketidakadilan, kekejaman, kebencian dan permusuhan dari semua orang jahat yang membunuh-Nya. Kemudian pada penghujung hari Sabtu kita akan keluar dari kegelapan Jalan Salib ke tempat api yang menyala terang. Di sana kita akan bergabung dengan prosesi Lilin Paskah yang agung, yang berarti Kristus yang Bangkit, Terang Dunia, menerangi kegelapan gereja kita, dunia kita, dan kehidupan kita. Di sana segala rasa sakit dan kesedihan dari perjalanan kita bersama Yesus akan membuka bagi kita jalan menuju sukacita dan harapan, yang datang dari iman kita yang baru bangkit kembali bersama Dia. Yesus Kristus tidak mati dan tidak pernah mati! Dia selalu hidup, kuat dan berkuasa. Ia hidup dalam diri-Nya sendiri, dan hidup di dalam kita melalui karunia Roh-Nya! Kita akan mendengar di kedalaman hati kita masing-masing kata-kata penghiburan dari Dia yang bangkit: 'Semua akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja, segala macam hal akan membaik. Percayalah!'

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment