Kita Bhineka, Kita Pasionis

  • Drama: Puisi Berantai
Author | Senin, 25 Maret 2019 19:54 | Dibaca : : 163
Kita Bhineka, Kita Pasionis

Pengantar Ke Bagian I

Kala malam gelap gulita dan kesepian melanda dunia, bayangkan betapa pekatnya kehidupan. Ketika bintang-bintang bermuculan dan langit biru menghadirkan keteduhan, alam tidak saja sedang melukiskan keindahan, tetapi juga mengukir kesempurnaan. Bagi siapanpun yang dibekali kepekaan dan hati jernih, malam bertabur bintang serupa dengan piano tua penuh makna yang terbuka. Ia rindu untuk dimainkan. Bintang-bintang dan rembulan adalah simbol kelembutan. Ketika keduanya berpelukan mesra, cahaya terang kesejukan terpancar bagi dunia.

 

Bagian I

1 (a)

Aku tak pernah berkata malam itu gulita.

Selalu ada bintang di segala arah mata.

Rona purnama di langit biru mempercantik suasana.

Nyanyian jangkrik, liukkan ilalang, desiran angin malam dan tarian kunang-kunang beradu dendang dalam orkestra malam.

Aku juga tak pernah meragu tentang damainya malam.

Meski sang malam selalu membawaku ke peziarahan dunia tak terselami.

Saat ragaku ternyenyak pulas, jiwaku terjaga ke pelancongan wisata malam.

Tak lupa selalu kubawa bekal doa dan kata semoga.

 

1 (b)

Memang indah nian malam yang melelapkan nubari para insan.

Namun, bila sang malam hanya sang malam tanpa teman.

Tanpa ada pawai dari penghuni malam yang menebarkan aroma persahabatan.

Tanpa ditemani indahnya sinar bintang dan terang rembulan, apa yang kau rasa kawan?

Malam tanpa penghuni malam bak raga tanpa jiwa, bak syair tanpa sajak, bak bunga tanpa kelopak, bak siang tanpa mentari.

Bagaimana bisa malam hanya sendiri, tak ada mimpi, tak ada bunyi, seperti mati?

Malam tak boleh sendiri, harus ditemani.

Malam tak boleh hampa, harus diisi, dihiasi bak pelangi sehabis hujan warnai senja di ujung hari.

 

1(c)

Dan begitulah wahai saudara.

Akan selalu sepi dunia bila tanpa warna.

Kita hidup dalam rumah bersama.

Maka mari hiasi malam-malam Pasionis kita dengan gemerlap cahayamu, desis bunyi laguku serta riuh tawa bersama agar tak ada lagi kata mereka.

Benarlah apa yang dikata.

Malam tak akan hidup tanpa aneka suara dan cahaya.

Bersama bukan berarti sama.

Kita Pasionis, kita bhineka, kita diperkaya, kita satu jua.

 

***

Pengantar Ke Bagian II

 

Nyanyian jangkrik, liukkan ilalang, desiran angin malam dan tarian kunang-kunang yang beradu dendang dalam orkestra malam dari tempat mereka berada tersenyum memanggil: ‘Hai manusia, mari ciptakan harmoni. Mari wujudkan perdamaian. Mari satukan rasa persaudaraan. Mari tersenyumlah untuk keanekaan. Karena dalam senyuman terletak kebahagiaan, dalam senyuman tersembunyi persahabatan dengan kehidupan, melalui senyuman semua dipeluk dengan kelembutan untuk terciptanya harmoni.”  
Bagian II

 

2 (a)

Riuhan gelak tawa menghiasi istana duka,

Derapan tarian tapak menggilas lara nestapa.

Kita insan sengsara raga, namun elok rupa jiwa.

Demi Sang Tersalib, lenyap senyap raga derita.

Kawan, walau dulu Kutak tahu di mana liang sarangmu.

Tapi kini kudengar nyanyian hatimu lantang merdu nan syahdu.

Hanya waktu bertapak, kita berlabuh di telaga biru,

Mengukir indah harapan kalbu untuk berpadu, menyatu, bersatu…selalu…

 

2 (b)

Kita Pasionis, menyimpan indah berlaksa

warna kemilau cahaya,Kita berbeda, ya itu hanya secuil rasa.

Ceria kita harus terus mempesona bagai pelangi di cakrawala mata.

Bhinneka Tunggal Ikka, kita Pasionis, kita berbeda, kita tetap satu jua.

Kala badai menghantam garang, keras, terjang,

Gundukan buih memuntah belerang, meluap tak terbilang.

Kita para malaikat abdi sengsara terang,

Berjalan riang di ladang duri luas terbentang.

 

2 (c)

Banyak pedang berkawan duri,

Menembus lawang berkarib cemeti.

Jangan takut bila hati berpadu abadi.

Dentingan waktu kan menggilas terik di siang hari.

Berhembus angin menyapa buritan kembara.

Riakkan gelombang, mengundang camar menari indah berpadu jiwa.

Jangan ragu-ragu, apalagi malu-malu.

Kita bhinneka, kita Pasionis, kita indah, asal hati tak boleh lelah ‘tuk berpadu.

 

***

 

Pengantar Adegan III

Hidup dalam harmoni akan menjadi segenggam syair dan sekeranjang bintang. Segenggam syair karena semua bermakna. Lebih dari bermakna, ia sudah dalam genggaman, menjadi kekuatan yang membimbing setiap jengkat langkah. Sekeranjang bintang karena mereka bersatu menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita. Tidak ada lagi tersisa kegelapan. Semuanya terang benderang…

 

Bagian III

3 (a)

Batu karang itu tempatku berpijak jadi kenangan

Saat gelombang cinta membawaku pada kenyataan

Aku terbuai lena dalam lembutnya hanyutan arus panggilan

Aku terlelap dalam hangatnya bungkusan selimut lautan iman.

Kini…aku terapung, melayang dan tenggelam dalam rayuan surgawi

Ombak dahsyat yang mengguncangkan hatiku telah berlalu…pergi

Terumbu karang nan indah yang kerap menggodaku di senja hari

Tinggal cerita pengantar tidur dalam catatan buku harian memori.

 

3 (b)

Ia Yang di atas sana, Yang sesungguhnya ada di hati ini

Memanggilku lembut dalam kesunyian batin

Menuntunku ramah dalam nyanyian kasih abadi

Membawaku jauh dalam kerinduan ‘tuk menjadi insan sejati.

Ia mengundangku menikmati perjamuan malam terakhir.

Untuk menatap jauh bahwa getsemani bukanlah takdir.

Untuk menikmati bahwa Golgota hanyalah lukisan di atas pasir.

Karena sinar kemenangan, dan cahaya kebangkitan akan pasti terlahir.

  

3 (c)

Pasionis adalah himpunan berbeda latar belakang.

Namun bukan kumpulan insan-insan terbelakang.

Aku siap maju dan memasuki gelanggang.

Karena perbedaan adalah tantangan sekaligus peluang.

Flores , Dayak, Batak, Tionghoa dan juga Jawa.

Kita Bhineka, kita Pasionis, kita Indonesia.

Kita di sini untuk karya dengan misi yang sama

Jangan takut akan gelapnya malam atau redupnya senja.

 

***

 

Pengantar Ke Bagian IV

Seekor burung itu sungguh-sungguh burung, bila ia terbang. Sekuntum bunga itu sungguh-sungguh bunga, bila ia mekar. Seorang manusia itu sungguh-sungguh manusia, bila ia mencinta. Apa jadinya jika burung tidak lagi bisa terbang? Bila bunga tidak lagi mekar? Bila manusia tidak lagi mencinta? Kerinduan untuk kembali ke rumah penuh cinta sesudah kehilangan firdaus terpahat dalam lubuk hati setiap manusia. Namun, jalan hidup terkadang menggiring manusia kepada pekatnya kegelapan. Hanya manusia yang memiliki cinta akan terus berharap akan turunnya embun kedamaian untuk melegakan tenggorokan yang gersang oleh teriakan kekejian.

 

4 (a)

Di tengah hingar bingarnya dunia

Tersadar bahwa semuanya bermuara pada kata sementara.

Ingin sekali menyandungkan kaki ke batu.

Agar lebih tahu bahwa semuanya tidak menentu.

 

4 (b)

Sempat bertanya-tanya ketika menoleh ke belakang.

Karena perasaan heran terus tergiang.

Dalam kepalaku tiba-tiba ada yang datang menantang.

Namun, bersama desiran angin aku maju, berjuang, menerjang.

 

4 (c)

Mari bulatkan tekad dan teguhkan hati.

Bersama berpacu dalam derap langkah sejati.

Biarkan keindahan hari ini bertumbuh abadi.

Meneguhkan iman, harapan dan kasih demi ciptakan damai.

 

4 (d)

Perbedaan akan terus jadi kenyataan yang tak pernah bisa dihindari.

Jangan beri kesempatan kepada ragu untuk mengecilkan hati.

Perbedaan adalah panorama bak pelangi di senja hari.

Yang menuntun kita pada indahnya kilauan lembut fajar di pagi hari.

 

4 (e)

Mari bersama ayunkan langkah pasti.

Buat hidup kita jadi makin berarti.

Nikmati rahmat yang mengalir di setiap hari.

Bersyukurlah kepada Sang Khalik yang tak pernah ingkar janji.

 

4 (f)

Mari perjuangkan misi kita bersama.

Ciptakan bumi jadi indah mempesona.

Wujudkan Pasionis jadi keluarga sejahtera

Bagai indahnya gemerlap taman surga.

 

4 (g)

Dengan semangat St. Paulus dari Salib, Kristus tersalib selamanya kita wartakan.

Berbekalkan teladan St. Gabriel dari Bunda Berdukacita, Maria berduka selalu kita renungkan.

Mari terus setia mengabdi Tuhan dalam pasang dan surutnya jalan panggilan.

Demi tercipta dunia baru, damai, indah dan aman.

 

4 (h)

Kita sadar di depan ada banyak tantangan.

Namun, yakinlah bahwa itu bukanlah halangan.

Ketika kita masih bersama memadu cinta dalam eratnya gandengan tangan.

Percayalah semuanya akan baik-baik saja dan menyenangkan.

 

4 (i)

Pasionis telah membawa kita sejauh ini untuk mengerti.

Bahwa perbedaan adalah harta bernilai sejati.

Mari kita padukan cinta suci di hati.

Untuk merawat mutiara indah yang bernilai abadi.

 

4 (j)

Akhirnya, mari kita samakan rasa

Mulai hari ini dan untuk selamanya

Biarkan Pasionis bergema dan kita selalu bersama

Biarkan kisah indah cinta kita terpatri indah sampai menutup mata.

 

Penutup

“Jika engkau mendambakan sesuatu, alam semesta bekerja sama membantumu memperolehnya.”  Kata-kata ini selalu terpatri dalam diri setiap manusia yang memiliki kejernihan hati dan ketenangan jiwa. Inilah seruan jiwa-jiwa yang penuh harapan akan terbitnya seberkas cahaya di pagi yang sepi. Manusia yang memiliki harapan mampu menjalani hari-hari hidup dengan membawa sekeranjang bintang dan segenggam syair tentang keindahan di hari esok. Pasionis mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati tetap abadi di tengah prahara kehidupan. Cinta sejati tak akan pernah mati oleh kerasnya himpitan manusia-manusia berjiwa iblis. Badai kehidupan adalah kenyataan yang tak pernah berakhir. Ia akan selalu datang menerjang ketika kita hampir kehilangan harapan. Namun, manusia yang telah dicerahkan oleh cinta sejati dapat berdiri teguh di antara sayap-sayap tragedi kehidupan di alam ini. Mari kita renungkan lebih dalam lagi…dalam ketenangan jiwa…membiarkan cinta Pasionis menuntun kita melewati siang-siang dan malam-malam kita...menuju ke keabadian.... damai..... harmoni... Mari kita bergandengan tangan dan dengan satu  rasa dan satu nada kita berkata: “KITA BHINNEKA, KITA PASIONIS.”
P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment