Menyibak Visi Dan Misi Kongregasi Pasionis Provinsi “Regina Pacis” Indonesia

  • Ditulis oleh : P. Pius Pandor, CP
Author | Kamis, 23 Agustus 2018 14:05 | Dibaca : : 1261
Menyibak Visi Dan Misi Kongregasi Pasionis Provinsi “Regina Pacis” Indonesia

Banyak orang mengatakan bahwa Pasionis sedang sakit, barangkali sekarat, tapi saya yakin Gereja dan dunia sedang berkata kepada Pasionis : “Bangkit dan Berjalanlah”.

Ungkapan di atas dengan terang menunjukkan bahwa kita hidup di sebuah era yang bisa disebut sebagai ‘era sekaratnya segala sesuatu”.Berapa banyak buku dan artikel yang terbit dengan judul, misalnya, ‘Matinya atau Redupnya Nalar’, ‘Matinya yang Spiritual’, ‘Matinya yang Sosial’, dan sebagainya.Situasi sinis dan pesimistis ini tentu tak lepas dari trend pemikiran jaman sekarang yang menolak klaim-klaim absolut dan narasi-narasi besar tentang segala sesuatu. Segala upaya pencarian kepastian dipandang sebagai produk modernisme yang hanya akan membawa ‘keresahan’ bagi umat manusia. Selain itu, ungkapan di atas merupakan salah bentuk sikap sinis sekaligus optimisme kebanyakan orang terhadap terhadap peran dan kehadiran Pasionis dalam dunia secara umum dan secara khusus dalam konteks Gereja Indonesia.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban identitas kita sebagai Pasionis di tengah dunia dan Gereja. Secara fenomenologis, salah satu hal yang menunjukkan bahwa suatu lembaga hidup bakti ada dan berperan, tentu bisa dilihat secara kasat mata lewat identitasnya. Identitas biasanya termuat dalam visi dan misi.Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa visi dan misi merupakan ‘hati, kepala, tangan, dan kaki” yang menggerakan sebuah lembaga hidup bakti untuk menunjukkan peran dan kehadirannya dalam dunia dan Gereja.Sebagai salah satu lembaga hidup bakti, Pasionis Indonesia memiliki visi dan misi.Visi Kongregasi Pasionis Indonesia adalah “Keluarga religius Pasionis yang dijiwai oleh kenangan akan Sengsara Yesus (memoria Pasionis) sebagai karya paling agung dan mengagumkan cinta kasih Allah, ditantang oleh ‘orang-orang tersalib’ zaman ini, dipanggil dalam perutusan Gereja Indonesia yang terus bangkit dan bergerak, untuk mewartakan Kabar Gembira Kristus yang menyelamatkan. Sedangkan misinya adalah “ Membangun keluarga Religius Pasionis yang sehati sejiwa, profetis, solider dan peka dengan dijiwai kebijaksanaan Salib, membangun pribadi dan komunitas yang mandiri, berkualitas, dan saling mendukung sebagai saudara sepanggilan dalam doa dan karya kerasulan dengan terus menerus membaharui diri dan ikut berjuang bersama orang-orang tersalib zaman ini dan tanpa kenal lelah mewartakan Sabda Salib demi mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah”.

Berdasarkan gagasan dasar di atas, tulisan ini bermaksud merefleksikan tema “Menyibak visi dan misi Kongregasi Pasionis Provinsi “Regina Pacis” Indonesia”. Dari tema ini muncullah beberapa sub tema. Subtema pertama berbicara Menyibak Kekayaan Spiritualitas Pasionis. Lewat sub tema ini, kita diantar untuk memelihatkan bahwa Spiritualitas Pasionis berada dalam jantung perutusan Gereja. Pembahasan dilanjutkan dengan menonjolkan visi dan misi Kongregasi Pasionis Provinsi Regina Pacis Indonesia.Akhirnya tulisan ini ditutup dengan menampilkan kesimpulan yang menekankan tanggung jawab manusia terhadap yang lain.

 

1. Menyibak kekayaan Identitas Pasionis.

 

Dengan tajam Paulus menyelidiki kejahatan-kejahatan sezaman dan dengan tegas memaklumkan bahwa Sengsara Yesus, Karya tebesar dan agung kasih Ilahi adalah obat mujarabnya. (Konstitusi Pasionis, 7)

Ungkapan padat dan bermakna di atas, menjadi titik tolak untuk merefleksikan kekayaan Spiritualitas Pasionis. Dalam merefleksikan subtemaini akan digunakan model pendekatan hermeneutika, sebuah model refleksi yang setia mengikuti irama biner, teks dan konteks kehidupan. Pada titik ini, untuk memahami sebuah teks maka kita perlu kembali kepada konteks kehidupan, yang dalam terminologi filsafat sebagai life world atau dunia kehidupan. Artinya, keseluruhan dari ruang lingkup saya, relasi saya dengan dunia, peristiwa-peristiwa kehidupan, aneka informasi yang mengerumuni saya, budaya dengan segala ungkapannya sehari-sehari yang menjadi konteks hidup saya, pengalaman duka dan kecemasan, harapan dan kegembiraan yang membentuk identitasku sebagai subjek.

Spiritualitas Pasionis diwarisi dari dunia kehidupan pendiri, yakni Paulus dari Salib. Beliau lahir pada tanggal 3 januari 1694 di Ovada dan meninggal di Roma pada tanggal 18 Oktober 1775. Ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang saleh, dan kedua orang tuanya memperkenalkan kepadanya sejak ia masih kecil bagaimana menanggung berbagai penderitaan hidup dengan menimba kekuatan dari Yesus tersalib.Saya mencatat beberapa momen penting dalam formasi spiritual Paulus yang memusat pada Yesus tersalib. Pertama, pertobatan pada tahun 1713 di mana ia berkata, Allah yang penuh kasih mengubah jalan hidupku dan memanggilku untuk bertobat. Kedua, keinginan untuk mati sebagai martir dalam perang salib (1715-1716).Ketiga, tahun 1717-1718 ia terdorong untuk hidup dalam kesunyian, kemiskinan yang sungguh-sungguh, menjalani hidup bertapa dan mengumpulkan para sahabat untuk mempromosikan rasa hormat atau takut akan Allah. Keempat, pada tahun 1720, ia mendapatkan pencerahan batin mengenai panggilannya untuk mendirikan kongregasi baru yang mendasarkan spiritualitasnya pada Sengsara Yesus di dalam gereja. Pengalaman itu mengantarnya untuk menjalani retret 40 hari (22 november 1720-1 Januari 1721) di Castellazo di mana ia menuliskan regula bagi kongregasi yang didirikannya.

Momen-momen penting dari dunia kehidupan St. Paulus dari Salib di atas, mengantar kita untuk memahami inti semangat hidupnya yang memusat pada misteri Sengsara Yesus sebagai tindakan kasih terbesar Allah (Martin Bialas, 1944: 72-78). Menanggapi kasih Allah ini, Paulus mengabdikan hidupnya secara penuh untuk mengikuti dan meneladani Yesus Tersalib lewat partisipasi pada sengsaraNya. Kongregasi Pasionis mewarisi spiritualitas Paulus dari Salib dan menekankan pokok-pokok yang diajarkannya. Inti sari semangat Kongregasi Pasionis saya rumuskan dalam bentuk proposisi berikut ini:

Proposisi Pertama, partisipasi pada sengsara Yesus. Partisipasi ini sekaligus secara pribadi, bersama, dan apostolis (Konstitusi No. 6)dinyatakan dengan konsekrasi diri pada Yesus tersalib: untuk menghayati sengsaraNya dan mewartakan kenangannya (Konstitusi 25-26). Konsekrasi diri pada memoria Pasionis ini menjiwai penghayatan nasihat Injil lainnya: kemiskinan, kemurnian, ketaatandan menempatkan para Pasionis di dalam jantung Gereja dan pada perutusannya.

Proposisi kedua, hidup bersama dalam kepenuhan cinta kasih Kristiani (Konstitusi 25-26). Hidup bersama ini disebut sebagai persekutuan hidup berdasarkan cinta kasih Kristus tersalib. Hukum kasih Kristus dihayati dalam semangat persaudaraan, sehati sejiwa dalam cinta kasih. Hidup berkomunitas merupakan unsur konstitutif dalam Kongregasi sebagai wujud rahmat Kristus Tersalib yang merobohkan tembok pemisah dan menyatukan seluruh bangsa menjadi satu umat.

Proposisi ketiga, hidup doa sebagai fondamen dalam hidup berkomunitas. Hidup doa memusat pada kontemplasi tanpa henti pada Kristus Tersalib untuk semakin menyerupai Dia dalam wafat dan kebangkitanNya, (Konstitusi, 50 ) dan mendorong pertobatan terus menerus (Konstitusi, 56). Semangat doa ini ditopang oleh semangat cinta akan kesunyian dan tapa. Hidup doa sekaligus sebagai unsur fundamental dalam kerasulan kongregasi.

Proposisi keempat, semangat kerasulan yang berpusat pada pewartaan Injil Sengsara. Kongregasi Pasionis mewartakan Sengsara Yesus dan wafatNya “bukan sebagai peristiwa yang telah lewat, tetapi sebagai suatu realitas yang berlangsung sekarang dalam kehidupan tiap-tiap orang yang disalibkan oleh ketidakadilan, oleh kehilangan arti yang mendalamatas kehidupan dan oleh kelaparan akan kedamaian, kebenaran dan hidup (Kontitusi, 6). Singkatnya para Pasionis dipanggilmengajar umat untuk merenungkan Sengsara Yesus dan menimba darinya keutamaan-keutamaan Kristus untuk kesempurnaan hidup Kristiani.

Empat proposisi yang penulis tampilkan di atas, mengantar kita untuk memahami life world St. Paulus dari Salib,dunia kehidupan yang terajut dari teks dan konteks kehidupan.Dalam membacadunia keseharianPaulus dari Salib yang telah diuraikan di atas,saya menggunakan paradigmateologi pemerdekaan. Pertama-tama harus dikatakan bahwa menurut Paulus dari Salib spiritualitas mesti bertolak dari praksis, yakni pengalaman akan misteri SengsaraYesus Kristus sebagai karya Kasih Allah yang paling Agung dalam kontemplasi (meditasi)dan aksi (komitmen).Alasannya, hanya dengan mulai dari tataran praksis, seseorang dapat mewartakan Kristus tersalib secara tepat. Pada titik ini, Paulus berbicara tentang Sengsara Yesus sebagai kasih agung cinta kasih Allahdari praksis “diam” atau hening yang dilakukannya.Hal ini berartispiritualitas sesungguhnya adalah kegiatan kedua (the second act) yang mengikuti praksis sebagai kegiatan pertama (the first act).

 

1.1.Kegiatan pertama: Praksis (saat diam/hening di hadapan Kristus tersalib).

Manusia menerima komunikasi dari Allah melalui kontemplasi dan aksi dalam life world, dunia kehidupan.Dalam kontemplasi dan aksi, manusia bertemu dengan misteri Sengsara Yesus sebagai karya cinta kasih Allah yang paling agung dan mengagumkan. Karena itu, refleksi iman tanpa mediasi kontemplasi dan aksi tidak akan menemukan misteri Allah seperti yang dialami St. Paulus dari Salib. Pembicaraan tentang Kristus tersalib harus bertolak dari pengalaman akanNya dalam life wolrd, yakni dalam kontemplasi dan aksi.

St. Paulus dari Salib memandang kontemplasi dan aksi sebagai praksis. Kontemplasi dan aksi ini disebut pula sebagai saat diam atau saat hening di hadapan misteri Sengsara Yesus, dan dibedakan dari pasiologi yang merupakan saat bicara tentang Kristus tersalib. Pasiologi merupakan kegiatan kedua yang mengikuti kegiatan pertama yakni kontemplasi dan aksi dalam life world, dunia kehidupan. Dengan demikian, pembicaraan tentang Kristus tersalib merupakan fase kedua yang dilakukan setelah fase pertamayaitu fase diam atau hening di hadapan misteri Yesus Kristus tersalib.

 

Dalam fase diam/hening di hadapan misteri Sengsara Yesus, ada dua segi yang saling terkait.Pertama, diam dalam kontemplasi.Dalam tahap ini, manusia memperoleh kekuatan untuk melakukan perjuangan konkret di tengah-tengah dunia.Pada titik ini, kontemplasi tidak dimengerti sebagai fuga mundiatau lari dari urusan dunia, melainkan masuk dalam kesunyian untuk menghayati rahmat Allah yang menginspirasi dan mengorientasi keterlibatan seseorang dalam drama kemanusiaan zaman ini.Kedua, diam dalam aksi. Diam dalam aksi berarti keterlibatan diri dalam kehidupan bersama orang lain sesuai kehendak Allah. Dalam konteks life worldSt.Paulus dari Salib, kita tentu ingat keinginan untuk ikut serta dalam perang salib dan keterlibatannya dengan mereka yang sederhana dan menderita. Jadi, baik kontemplasi maupun aksi saling menentukan satu sama lain dan bersama-sama membentuk fase diam/hening di hadapan misteri Sengsara Yesus.

 

1.2. Kegiatan kedua: Pasiologi yaitu saat bicara tentang Kristus tersalib.

Kami mewartakan Kristus tersalib. (1 Kor 1:23)

Pasiologi adalah kegiatan kedua berupa refleksi kritis dalam terang iman terhadap kegiatan pertama, kontemplasi dan aksi dalam dunia kehidupan.Pada titik ini, teologi salibmerupakan pembicaraan tentang misteri Sengsara Yesus yang sudah dihayati dalam dunia kehidupan. Karena itu, kondisi dunia kehidupan akan sangat menentukan perspektif berteologi. Perspektif berteologi menurut penulis berarti merefleksikan iman dalam penderitaanorang-orang tersalib, dan perjuangan pemerdekaan mereka. Hal inilah yang telah dilakukan oleh St. Paulus dari Salib lewat misi populer yang dirintisnya.

Dari praksis misi populer yang dirintisnya, maka muncul dua tugas penting teologi.Pertama, menganalisis situasi masyarakat.Dalam situasi sosial yang tidak adil, teologi mesti sanggup menghubungkan kehidupan iman dengan kebutuhan-kebutuhan konkret untuk membangun masyarakat yang adil dan manusiawi.Di sini, teologi mesti mengartikulasikan penderitaan, harapan dan perjuangan pembebasan mereka dari belenggu ketersaliban.Kedua, menganalisis situasi Gereja baik dalam arti keseluruhan sebagai umat Allah maupun pelbagi elemen yang ada di dalam Gereja seperti klerus, awam, kelompok-kelompok kristiani. Dalam kaitan ini perlu dilihat relasi Gereja dengan masyarakat: Apakah Gereja terlibat dalam perjuangan membebasan orang-orang yang tersalib zaman ini? Atau hanya sekedar menjadi penonton di hadapan drama kemanusiaan zaman ini?

Perjuangan terhadap orang-orang tersalibpada gilirannya akan menentukan bahasa penderitaan model apa yang kita gunakan.Sebagai model, saya mengambil contoh kehidupan Ayub yang sebenarnya berhak untuk bahagia tetapi mengalami penderitaan yang luar biasa.Ayub digambarkan sebagai figur manusia beriman yang menderita secara tak bersalah. Meskipun hidupnya saleh, ia ditimpa pelbagai bencana: hartanya habis, anak-anaknya mati, dirinya menderita penyakit barah yang ganas (Ayub 1-2). Karena itu, masalah utama yang direfleksikan dalam Kitab Ayub adalah bagaimana berbicara tentang Allah dalam penderitaan orang-orang tak bersalah yang seharusnya berhak menikmati kebahagiaan dalam hidupnya. Persoalan yang sama juga berlaku untuk situasi Indonesia, yaitu bagaimana mewartakan kehadiran Allah dalam sejarah di mana banyak orang berada dalam ‘kotak ketidakbahagiaan’ akibat struktur sosial yang tidak adil. Maka, ketidakbersalahan Ayub dapat membantu pemahaman ketidakbersalahan orang-orang tersalib zaman kita yang dililiti oleh budaya kematian.

Saat menderita, Ayub mengalamai tantangan dari konsep relgius-etis zaman itu tentang doktrin pembalasan di bumi.Doktrin ini menyatakan bahwa penderitaan merupakan hukuman Allah atas kejahatan manusia dan kebahagiaan merupakan balasan Allah atas kebaikan manusia di bumi.Dalam perspektif ini penderitaan Ayub merupakan hukuman Allah atas kejahatan yang dibuatnya di bumi. Namun Ayub menolak pandangan ini sebab ia tidak menemukan kesalahan dalam dirinya yang layak ditimpali oleh hukuman. Di sini persoalan muncul bagi Ayub kalau doktrin pembalasan di bumi gagal menjelaskan penderitaan yang dialaminya, bagaimana ia sebagai orang beriman mesti memahami penderitaan tersebut? Bagaimana ia mesti berbicara tentang Allah dalam penderitaan tak bersalah itu?

Dari pengalaman Ayub di atas, sebenarnya terdapat dua paradigma berpikir. Paradigma berpikir ketiga teman Ayub (Elifas, Bildad, Zofar) bertolak dari teori pembalasan di bumi dan menerapkan prinsip-prinsip abstrak teori ini pada kenyataan konkret Ayub. Jadi, dari teori menuju praktek.Sebaliknya, paradigma berpikir Ayub bertitik tolak dari pengalaman eksistensial sebagai orang menderita yang tak bersalah. Kemudian ia berusaha menemukan bahasa yang tepat untuk berbicara tentang Allah dalam situasi itu. Kemudian melalui pergulatan yang lama, Ayub menemukan bahasa yang tepat untuk membicarakan penderitaan orang tak bersalah yakini bahasa profetis dan bahasa kontemplatif.Kedua bahasa tersebut tidak boleh dipisahkan karena merupakan satu kesatuan.

a.Bahasa profetis.

Ayubsadar bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang menderita secara tak bersalah. Kaum miskin juga mengalami situasi yang sama, yakni mereka yang menderita oleh kejahatan orang-orang yang mengeksploitasi dan menjarah mereka (Ayb 24:2-14). Mereka menderita bukan karena nasib melainkan akibat dari perbuatan-perbuatan yang tidak adil oleh pihak lain. Berdasarkan hal ini, kita dapat menarik konklusi bahwa beriman kepada Allah menuntut solidaritas terhadap orang-orang tersalib zaman ini yangmenderita secara tak bersalah dengan menegakkan keadilan dan kebenaran.

Berhadapan dengan situasi penderitaan orang-orang miskin yang tak bersalah, Ayub mengenang lagi perbuatan-perbuatan selama hidupnya yang membantunya meringankan penderitaan orang-orang miskin (Ayb 29:12-17; 30:24-25).Jadi, bahasa profetis berarti pembicaraan tentang Allah bertolak dari solidaritas dalam kehidupan orang-orang tersalib zaman ini untuk menyatakan keadilan dan kebenaran dalam masyarakat.

b.Bahasa kontemplatif.

Namun pembicaraan tentang Allahtidak memadai jika dilukiskan secara profetis saja.Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan harus berdasarkan perjumpaan secara pribadi dengan Allah.Inilah bahasa kontemplatif.Dan itulah yang terjadi pada diri Ayub.Ia telah berdiskusi lama dengan tiga temannya dalam rangka memahami penderitaannya. Namun ia tak memperoleh jawaban yang memuaskan dari mereka. Sebagai orang beriman ia percaya bahwa Allah akan membela orang-orang yang menderita yang tak bersalah. Ayub menuntut pembebas dari surga untuk membebaskannya dari penderitaan.

Dalam perjumpaan dengan Allah Ayub menemukan beberapa hal penting.Pertama, pengakuan iman tentang kekuasaan Allah dan rencanaNya. Kedua, penemuan misteri kasih Allah sebagai dasar semua eksistensi. Ketiga, pertemuan menggembirakan dengan Allah yang mengubah kehidupan. Keempat, Ayub mengubah sikapnya dari orang yang berkeluh kesah menjadi seorang anak yang pasrah di haribaan Allah sebagai Bapanya.

Berdasarkan gagasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa profetis dan kontemplatif harus dikombinasikan menjadi satu bahasa. Artinya, pembicaraan tentang Kristus tersalib harus berpangkal pada perjumpaan dengan kasih Allah (kontemplatif) dan sekaligus terungkap dalam solidaritas bersama orang-orang tersalib zaman ini dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Model pembacaan spritualitas Pasionis dari perspektif teologi pemerdekaan di atas, menurut saya akan menentukan identitas yang memuat visi dan misi Pasionis.

 

2. Menelisik Visi Kongregasi Pasionis Provinsi Regina Pacis Indonesia.

 

 

Visi Kongregasi Pasionis Provinsi Regina Pacis Indonesia tahun 2015-2019: “Keluarga religius Pasionis yang dijiwai oleh kenangan akan Sengsara Yesus (memoria Pasionis) sebagai karya paling agung dan mengagumkan cinta kasih Allah, ditantang oleh ‘orang-orang tersalib’ zaman ini, dipanggil dalam perutusan Gereja Indonesia yang terus bangkit dan bergerak, untuk mewartakan Kabar Gembira Kristus yang menyelamatkan”.

Makna yang terkandung dalam visi di atas menurut saya sangat kaya untuk direfleksikan lebih lanjut. Sangat kaya karena menampilkan beberapaelemen kunci yang akan membentuk identitasPasionis.Untuk mempermudah pemahaman kita, saya menampilkannya dalam bentuk bagan.

 

 

Identitas Pasionis terbentuk dari beberapa unsur.

Pertama, Aku sebagai Pasionis.

Kesadaran pertama ialah bahwa yang menghayati spiritualitas Pasionis adalah aku (subjek), yang dengan tahu dan mau mengkonsekrasikan diri dalam Kongregasi Pasionis. Aku sebagai Pasionis perludimengerti dalam tiga aspek: pertama, sebagai ‘aku’ yang unik dan khas, artinya ‘aku’ yang berbeda dengan ‘engkau’. Kedua,sebagaiaku relasional, ‘aku’ yang selalu berelasi denganyang lainsehingga disebut sebagai keluarga Pasionis. Ketiga, sebagai ‘aku’ yang terbatas karena kodrat kemanusiaan.Di sini tentu dibutuhkan kehadiran dari ‘Yang Melampaui’ yaitu Allah yang menolong, dan menguatkan kita. Kesadaran inidapat kita bacadalam konstitusi yang mengafirmasi: “Dengan percaya pada pertolongan Allah, kita berniat untuk tetap setia kepada semangat Injil dan warisan pendiri, sekalipun ada keterbatasan manusiawi kita.”(Konstitusi, 2). Aku yang relasional berani masuk dalam jalinan persaudaraan dalam komunitas, sehingga terbentuklah komunitas Pasionis, komunitas yang terjalin karenaaku, dan engkau untuk menghayati kepenuhan cinta kasih Kristiani (Konstitusi, 25). Dalam komunitas Pasionis semua menjadi saudara (Bdk. Konstitusi 26-30). Hal ini diwujudkan dengan adanya tindakan untuksaling memperhatikan, meneguhkan, mendoakan, dan mengampuni.

Kedua, Memoria Pasionis mempersatukan kita.

Dalam Sengsara Yesus Kristus kita menemukan kesatuan hidup kita.Sengsara itu menyatakan kuasa Allah yang memasuki dunia untuk membinasakan kuasa kejahatan dan membangun kerajaan Allah (Konstitusi, 5).Kesatuan hidup sebagai Pasionis dimeterai oleh kaul Memoria Pasionis. Kesatuan kita berdasarkan konsekrasi pada Sengsara Yesus Kristus, kita hayati dalam doa, dan kontemplasi.

Ketiga, berjumpa dengan aneka peristiwa kehidupan dan orang-orang tersalib zaman ini.

Persatuan kita dengan Kristus tersalib pada gilirannya membantu kita untuk berjumpa dengan aneka peristiwa kehidupan dan orang-orang tersalib zaman ini.Perjumpaan tersebut merupakan sebuah perjumpaan yang bercorak formatif dan preformatif.Artinya, sebuah perjumpaan yang mengantar saya menjadi murid yang setia mendengarkan. Mendengarkan kisah-kisah tragis mereka yang tersalib dan membentuk persekutuan dengan mereka, baik secara fisik maupun metafisik

Keempat, Komitmen.

Dalam menunjukkan komitmen sebagai Pasionis, disadari bahwa kita dipanggil dalam perutusan Gereja Indonesia yang terus bangkit dan bergerak, untuk mewartakan Kabar Gembira Kristus yang menyelamatkan.Persekutuan dengan orang-orang tersalib zaman ini merupakan optio fundamentalis dari jati diri Pasionisitas kita. Persekutuan itu lantas membut kita berani berkomitmen dengan mengadakan fokus perhatian (pilihan pastoral).Hal iniperlu dilakukan dalam semangat kerja sama (jaringan). Jaringan kerja sama tersebut, kita bangun dalam konteks Gereja Indonesia yang memiliki tiga fokus perhatian atau pilihan pastoral yaitu keberpihakan kepada mereka yang miskin dan menderita, keberagaman budaya, dan keragaman agama.

Dua tokoh kuncidalam Kitab Suciyang menjadi ikon dalam penghayatan identitas kita sebagai Pasionis adalah wanita Samaria (Yoh 4:4-42) dan pria Samaria (Lukas 10:25-37).Dari wanita Samaria kita belajar bahwa perjumpaan dengan Yesus bisa terjadi di mana saja. Perjumpaan itu pada gilirannya membentuk struktur pengenalan, yang pada akhirnya mengubah gaya hidup wanita Samaria tersebut. Jadi, perubahan cara pandang tentang hidup dan cara menilai realitas terjadi berkat perjumpaan secara pribadi dengan Yesus Sang Kebenaran. Sedangkan dari pria Samaria, kita belajar untuk tidak takut menghayati drama kemanusiaan zaman ini yang ditandai oleh menjamurnya budaya kematian. Ketika orang menganut prinsip manusia adalah lupus (serigala) bagi sesamanya, pria Samaria justru menampilkan dirinya sebagai socius (sahabat/teman) bagi sesamanya. Pengakuan sebagai sahabat ia wujudkan dengan komitmen untuk fokus membantu orang yang jatuh dipinggir jalan dan membangun jaringan dengan pemilik rumah penginapan.

Berdasarkan hal di atas, dapat ditarik sebuah konklusi bahwa ada dua gerakan dalam menghayati identitas Pasionis yang memuat visi hidup kita: pertama, gerak menukik ke tempat yang lebihdalam untuk berjumpa dengan Kristus (kontemplasi). Kedua, gerak ke luar untuk berjumpa dengan orang-orang tersalib zaman ini.Dua gerak dialektis ini pada gilirannya membentuk identitas misi Pasionis.

 

3. Misi Kongregasi Pasionis Provinsi “Regina Pacis” Indonesia.

 

 

Cinta yang otentik tidak mungkin tanpa melalui penderitaan.
Ia adalah sebuah logika yang paling tinggi, supranatural dan ilahi.
Melaluinya kita berjuang mengembangkan budaya kehidupan.

Logika penderitaan merupakan logika ilahi, sebuah logika yang mengantar kita untuk bertanggung jawab terhadap kehadiran yang lain, terutama terhadap teman-teman seperjalanan kita yang tersalib zaman ini. Tanggung jawab ini tentu selaras dengan perutusan yang diberikan Gereja kepada Pasionis. “Dengan mengikuti teladan Yesus yang melibatkan diri dalam hidup dan sejarah sezaman, sambil berjalan berkeliling dengan berbuat baik dan menyembuhkan semua orang, kita akan menjadi pelaksana Sabda, baik dengan memberi kesaksian Injili dan dengan kekuatan kenabian pewartaan, maupun dengan melibatkan diri dalam keperluan bangsa-bangsa”(Konstitusi, 63). Dengan demikian perutusan Pasionis adalah membela kehidupan, pro-eksistensi.

Untuk mewujudkan apa yang menjadi panggilan Pasionis dalam Gereja dan dunia, maka dirumuskan misi Kongregasi Pasionis Provinsi Regina Pacis Indonesia yaitu “Membangun keluarga Religius Pasionis yang sehati sejiwa, profetis, solider dan peka dengan dijiwai kebijaksanaan Salib, membangun pribadi dan komunitas yang mandiri, berkualitas, dan saling mendukung sebagai saudara sepanggilan dalam doa dan karya kerasulan dengan terus menerus membaharui diri dan ikut berjuang bersama orang-orang tersalib zaman ini dan tanpa kenal lelah mewartakan Sabda Salib demi mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah”.

Rumusan misi di atas menurut saya memuat beberapa poin penting untuk direfleksikan lebih lanjut.Poin-poin yang mau direfleksikan adalah sebagai berikut.

Pertama, Pasionis sebagai Keluarga.

Pasionis pertama-tama perlu dilihat sebagai suatu keluarga.Sebagai suatu keluarga, Pasionis dibangun berdasarkan persekutuan spiritual yang dimeterai oleh misteri Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Kristus atau Memoria Pasionis. Oleh karena itu, setiap anggota Pasionis sama-sama dipanggil dan saman-sama “minum” dari sumber yang sama yaitu Memoria Pasionis sebagai karya terbesar Cinta Kasih Allah. Kalau demikian yang terjadi, maka setiap anggota yang mengkonsekrasikan dirinya dalam Kongregasi Pasionis harus memupuk semangat kerja sama sehati sejiwa untuk ‘membesarkan’ keluarga Pasionis. Dalam konteks ini, maju mundurnya Pasionis sangat bergantung pada spirit ‘kekitaan’ sebagai keluarga besar Pasionis. Di sini, spirit ‘keakuan’ atau pun ‘kekamian’ harus didelete dari paradigma pikir kita sebagai Pasionis.

Kedua, Keutamaan-keutamaan hidup Pasionis.

Untuk mewujudkan spirit kekitaan sebagaimana telah diuraikan di atas, maka perlu didukung oleh keutamaan-keutamaan hidup Pasionis yaitu sehati sejiwa, profetis, solider, peka, membangun pribadi dan komunitas yang mandiri, berkualitas, terus-menerus membaharui diri, dan saling mendukung. Keutamaan-keutamaan hidup Pasionis ini pada gilirannya harus dijiwai oleh kebijaksanaan Salib.Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa kebijaksanaan Salib merupakan fondamen yang menjadi jiwa dari persekutuan hidup sebagai keluarga besar Pasionis.

Ketiga, Akar dan sayap Pasionis: Doa dan Karya.

Akar dan sayap dalam hidup kita sebagai Pasionis adalah doa dan karya. Terkait doa sebagai akar, Konstitusi art 37 menegaskan, “Santo Paulus dari Salib, seorang pendoa besar, berulang kali mengajarkan pentingnya doa dengan perkataan dan teladannya. Ia menghendaki agar putra-putranya berdoa tanpa henti-hentinya, sehingga komunitas-komunitas kita menjadi tempat yang baik untuk memperoleh pengalaman kuat tentang Allah, lagipula menjadi sekolah doa autentik”.Apa yang digariskan Konstitusi art 37 ini dengan jelas menunjukkan bahwa doa merupakan tempat untuk memperoleh pengalaman tentang Allah. Pengalaman akan Allah menjadi akar dalam karya yang kita lakukan. Terkait karya sebagai sayap, kita mengambil alih ucapan Santo Paulus “KamiMewartakan Kristus Tersalib”(1 Kor 1:23). Kata-kata inilah yang mendorong kita sebagai Pasionis ‘mengepakan’ sayap dalam Gereja dan dunia.

Keempat, Mewartakan Sabda Salib

Mewartakan Sabda Salib merupakan inti panggilan Pasionis.Untuk mewujudkan panggilan tersebut, kita ikut berjuang bersama orang-orang tersalib jaman ini.Finalitas dari perjuangan tersebut adalah tumbuhnya nilai-nilai Kerajaan Allah.Nilai-nilai tersebut adalah cinta kasih, persaudaraan, pengampunan, solidaritas, belas kasih dan sebagainya.Dengan demikian, pewartaan Salib menjadi efektif jika berbuah dalam kehidupan yaitu tumbuhnya benih-benih Kerajaan Allah.

Dalam menumbuhkan benih-benih Kerajaan Allah, kita perlu berbicara tentang manusia.Manusia tidak dimengerti sebagai makhluk yang tertutup dalam dirinya sendiri tetapi memiliki keterarahan untuk keluar dari dirinya sendiri. Karena karakter khasnya ini, ia disebut bereksistensi.Kalau manusia dikatakan bereksistensi maka serentak kita mengafirmasi bahwa eksistensinya selalu berada dalam jalinan dengan eksistensi lain. Afirmasi ini mengantar pada sebuah konklusi bahwa eksistensi berarti ko-eksistensi, ada selalu berarti ada bersama.Ada bersama merupakan sebuah tuntutan yang berasal dari kodrat manusia sendiri. Tuntutan ini memanggilsetiap orang agar ia menggenapinya dalam suatu prinsip persekutuan yang berlangsung di dalam persaudaraan antara manusia.

Jika gagasan eksistensi berarti ko-eksistensi yang telah diuraikan di atas dibaca dalam konteks usaha menyibak Visi dan Misi Kongregasi Pasionis Provinsi Regina Pacis Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa panggilan dasar Pasionis adalah panggilan untukberbela rasa dengan orang-orang tersalib zaman ini.Gerak bela rasa ini merupakan kristalisasi dari gagasan manusia sebagai ada bersama (ko-eksistensi). Kehadiran bersama itu akan bermakna jika dilengkapi dengan pendekatan pro-eksistensi. Pesan sentral pendekatan pro-eksistensi adalah bahwakita semuatidak hanya hidup berdampingan dengan orang-orang yang tersalib zaman ini, tetapi menuntut agar kita memiliki kepedulian terhadap mereka.

Sikap peduli terhadap orang-orang tersalib zaman ini, menurut saya memilikiduacorak khasyaitu afirmatif-promotif dan formatif-preformatif. Ciri yang pertama menekankan afirmasi atau pengakuan terhadap eksistensi lain dan tindakan memanusiakan yang lain. Ciri yang kedua ini, mau menekankan bahwa ketika kita memiliki kepedulian terhadap orang-orang tersalib zaman ini,maka harus ada proses pembelajaran. Artinya penderitaan orang lain harus menjadi sarana yang membentuk dan mengubah hidup kita. St. Paulus dari Salib sendiri merasakan bagaimana keterlibatannya dalam mendekati orang-orang tersalib zamannya sebagai kesempatan untuk membentuk dan mengubah dirinya.

Opsi untuk mempromosikan paradigma pro-eksistensi selaras dengan ikon Pasionis yang pernahmengusung tema Passion for Christ, Passion for life.Komitmen untuk mencintai kehidupandalam totalitasnyajustru karena Salib Yesus menyatakan dengan jelas kekudusan hidup yang dibela Allah dengan radikalitas cintaNya yang absolut. Karena itu, Pasionis meneguhkan komitmen untuk mencintai kehidupan dengan totalitasnya dengan mempromosikan budaya kehidupan

 

4. Kesimpulan

Menyibak Visi  dan Misi Kongregasi Pasionis Provinsi “Regina Pacis” Indonesia yang menjadi judul tulisan ini sejatinya merupakan salah satuupaya untuk mempertanggungjawabkan kehadiran kita di hadapan orang-orang tersalib jaman ini. Oleh karena itu, perayaan syukur 70 tahun kehadiran Kongregasi Pasionis di Indonesia dan 25 tahun Biara Beato Pio Campidelli, kiranya perlu dilihat sebagai nostalgia untuk sejenak ‘menoleh ke belakang’ tetapi sekaligus sebagai imajinasi kreatif untuk ‘menatap’ ke depan, sehingga mampu mendengar ‘jeritan’ orang-orang tersalib jaman ini, kini dan di sini serta berusaha melibatkan diri. Dengan demikian, seruan “bangkit dan berjalanlah” di awal tulisan ini merupakan ajakan bagi kita semua untuk sejati sejiwa mengakarkan visi dan misi Kongregasi Pasionis Provinsi Regina Pacis Indonesia dalam berbagai lini kehidupan, baik dalam pembinaan, dan dalam komunitas, maupun dalam karya kerasulan.

Ajakan untuk bangkit dan berjalanlah ini merupakan sebuah seruan yang mendesak terutama ketika “Kita menemukan jiwa-jiwa yang menderita, menjerit, menangis, dan putus asa. Secara sistematis mereka dimasukkan dalam ‘kotak ketidakbahagiaan’ oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan oleh struktur sosial, ekonomi, politik, budaya yang dominatif dan manipulatif” (Pandor, 2014: 71). Situasi ini mengundang kita sebagai satu keluarga besar Pasionis untuk sejati sejiwa terlibat dan melibatkan diri bersama orang-orang yang tersalib jaman ini.

 

SUMBER INSPIRASI

  • Konstitusi Kongregasi Pasionis. Malang: Dioma, 1983.
  • Martin Bialas, In This Sign, Dublin: The Leinster Leader Ltd., 1988.
  • Pius Pandor, Seni Merawat Jiwa: Refleksi Filosofis. Jakarta: Obor, 2014.
  • Viktor E.Frank, Homo Patiens: soffrire con dignita. Brecia: Queriniana, 1998.

 

Salam Passion!!!

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

1 comment

  • Comment Link stef Liem Senin, 23 September 2019 16:55 posted by stef Liem

    kagum dan hormat saya akan visi misi dari CP Conggregation, karena menimba dari sengsara Kristus tersalib.
    saya tidk bisa merasakan bagaimana pedih nya disalib.
    saya ingin belajar dan tahu banyak akan karya pelayanan dari CP Conggregation ini.

    Report

Leave a comment