Natal - Merayakan Seni dan Pengorbanan Hidup

  • Oleh; P. Hermanus Beda, CP
Author | Jumat, 11 Januari 2019 10:03 | Dibaca : : 596
Ilustrasi Ilustrasi

Legem de leviratu, adalah tulisan di sepotong kertas yang terselip di surat kabar, ketika Ayub membuka koran yang barusan dibelinya. Ia kaget melihat kalimat yang tertulis di situ, yang begitu asing baginya. Ia hendak menukar surat kabar itu. Atau paling tidak, bisa mencari tahu mengapa sampai bisa terselip sepotong kertas itu.

Kembalilah ia ke kios koran dan berkata kepada penjaga kios: bu, tadi saya beli koran dan dalam koran itu terselip sepotong kertas dengan tulisan ini, mungkin ini catatannya ibu, saya kembalikan.

Oh tidak pak, bukan catatanku. Saya hanya menjual dan tidak pernah membaca koran-koran yang ada. Setiap pagi petugas koran datang membawa sekitar limapuluh lembar, lalu menghitung berapa yang dijual kemarin, saya bayarkan sesuai jumlah yang terjual, dan dia membawa pulang yang tak terjual, setiap hari begitu. Mungkin kertas itu milik petugas koran itu. Besok pagi, kalau bapak mau tahu saya tanyakan. Jawab si ibu dengan sopan.

Terima kasih ya bu, coba tanyakan besok, tambahnya: tapii.. ibu tahu bahasa apa ini dan kira-kira apa artinya?

Maaf pak, jawab si ibu, saya cuma tamatan SD saja, bahasa indonesia saja pun saya tidak pandai. Ayub kembali kerumah, dan menyimpan sepotong kertas itu di laci dan lanjut membaca koran seperti biasanya.

Ayub, telah bekerja sebagai pegawai pos puluhan tahun. Selama masih aktif sebagai pegawai dia sering dipindahkan ke beberapa kota, dan bisa mengerti beberapa bahasa daerah di mana dia pernah ditugaskan. Hanya saja, ini adalah kalimat yang betul-betul asing baginya. Kini ia sudah pensiun dan menikmati masa pensiunnya dengan melakukan hobi yang tidak sempat ia lakukan sebelumnya. Membaca surat kabar adalah salah satu kebiasaanya setiap pagi sebelum sarapan.

Setelah sarapan, ia coba menanyakan kepada sang istri, yang sopan dan lembut tapi, dalam hal-hal tertentu cepat galak. Katanya: bu, tadi saya beli koran seperti biasa dan ada yang aneh, dalam koran itu terselip sepotong kertas dengan tulisan yang saya pun tidak tahu itu bahasa apa dan apa artinya.

Ahh sok pintar, banyak baca, gaya ilmuwan, ujung-ujung tanya orang juga, mana kertas itu?, jawab Klara istrinya. Saya simpan di dalam laci di lemari di depanmu, jawab Ayub.

Sang istri membuka laci lemari dan mengambil kertas itu, sahutnya: aahh ini bahasa latin, saya tidak terlalu mengerti, tapi yang pasti ini bahasa latin, walaupun saya tidak banyak membaca, tapi tahu, sindirnya.

Tidak terlalu mengerti berarti mengerti pas-pasan, lalu apa yang kamu tahu dari kalimat itu? Tanya Ayub. Ini kalau tidak salah menyangkut pernikahan, jawab Klara. Pernikahan yang bagaimana?, tanya Ayub yang ingin mengetahui lebih dalam dan pasti. Dalam hatinya ia pun kaget kalau istrinya bisa mengerti bahasa latin dan sebelum memberikan kesempatan kepada istrinya untuk menjawab, sambungnya, pernah belajar bahasa latin?, sambil memandang wajah istrinya.

Klara adalah seorang ibu rumah tangga yang tertib, teratur dan sangat teliti; mendengar pertanyaan suaminya, ia pun menyahut, “mau jawab mana yang duluan, pertama atau kedua? Jawab Ayub: sesuai urutan, yang pertama duluan”.

Kalau menyangkut pernikahan, masa tidak tahu nikah itu apa, aneh sekali bapak pagi ini. Sudah empat puluh lima tahun kita menikah, belum mengerti juga? Selama ini tidak mengerti ya? Itu jawaban pertanyaan yang pertama. Kalau yang kedua, tidak pernah belajar sih, tapi tahu dari pergaulan. Sambungnya, eeh pastor paroki kita tuh pandai bahasa latin, mereka sejak dari seminari sudah belajar bahasa latin, sampai sudah jadi pastor pun mereka masih belajar juga. Yang lanjut studi ke Roma itu karena pandai bahasa latin, kalau tidak mana mau dikirim. Kalau mau tahu artinya, besok ikut misa pagi dan setelah itu mampir ke sakristi dan tanya. Dan rajin-rajin lah ikut misa pagi.

Ayub, sambil membolak balik majalah dan dengan senyum menjawab: ooohhh ibu mengerti bahasa latin karena rajin ikut misa pagi yaaa? Klara tidak mendengar karena sudah masuk ke dapur.

Karena penasaran, Ayub pun mengikuti saran istrinya. Keesokan harinya, ketika matahari masih menikmati fajar dan belum memancarkan sinar kehidupan, ia bergegas untuk mengikuti misa pagi. Setelah misa ia merapat ke sakristi dan menyapa pastor: Selama pagi bapa pastor! Salamat pagi pa Ayub, apa kabar? Jawab pastor. Kabar baik, bapa pastor, saya ingin memahami sesuatu, mungkin bapa pastor bisa membantu saya, kata pa Ayub. Oh silahkan duduk pak Ayub, ini sudah menjadi panggilan dan pelayanan kami sebagai pastor, kalau memang saya bisa membantu ya saya berikan sekarang juga, kalau tidak, mungkin saya butuh pemahaman yang lebih lanjut, yaaa bapak bisa balik dua atau tiga hari lagi, silahkan pak Ayub, jawab bapa pastor.

Begini bapa pastor, saya menemukan suatu kalimat bahasa latin dan saya tidak mengerti apa artinya, mungkin bapa pastor bisa menjelaskan apa artinya, istri saya mengatakan bahwa para pastor itu pandai bahasa latin, kalimatnya singkat, legem de leviratu kata Ayub.

Bapa pastor kaget dan ingin tahu dari mana didapatnya kalimat itu, dan ketika ia hendak bertanya, teringat dalam benaknya buku yang pernah ia baca. Buku itu berjudul “Berjalan dengan dua tangan”. Dalam buku itu digambarkan bahwa ketika kita pertama kali bertemu dan berdialog dengan orang, ada baiknya kita meredam rasa ingin tahu dan juga sok tahu. Tidak perlu juga kita menilai, menginterpretasi, atau memberikan solusi. Ada baiknya kita mendengar, biar dia yang berbicara dengan kita mengungkapkan apa yang menjadi perasaan dan isi hatinya; kita memperlihatkan sikap bahwa kita bersedia mendengar dan memahami apa yang menjadi keluhannya. Dan kalau memang dia menginginkan pendapat kita, kita cukup berkata: kalau ada yang bisa saya bantu, ini saran saya; atau, ada kalimat …. ada buku yang menceritakan begini, bagaimana menurut Anda?

Pastor terdiam sebentar lalu menjawab, saya tidak terlalu mengerti bahasa latin pak Ayub, yang saya tahu, itu kalimat mengenai pernikahan. Dalam Kitab Kejadian bab tiga puluh delapan diceritakan bahwa Yehuda mengawinkan anak sulungnya Er, dengan Tamar. Er kemudian meninggal tanpa anak. Sesuai keinginan Yehuda dan adat istiadat waktu itu saudaranya Er harus menikah dengan Tamar agar bisa membuahkan keturunan. Menikahlah adiknya Er, Onan dengan Tamar. Mungkin ini adalah episode yang dibawakan kaum Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan, ketika hendak mencobai Yesus [Jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya (Mat 22,24-25)].

Oh ya?, jawab Ayub. Bukan hanya itu. Lanjut pastor. Nama Yehuda dan Tamar kita bacakan dalam silsilah keturunan Yesus. Ada lagi satu episode yang mempunyai cerita demikian yakni Kitab Rut.

Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana. Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.

Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku.

Orpa menuruti permintaan Naomi kembali ke keluarganya dan tetap tinggal di Moab. Sementara Rut bersikeras ikut Naomi kembali ke Betlehem, katanya: janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Tibalah mereka di Betlehem dan sesuai dengan tradisi yang ada, Rut boleh dinikahi oleh seorang dari keluarga Elimelekh untuk memberikan keturunan. Keluarga Elimelekh, Booz, menikahi Rut dan menlahirkan Obed. Dalam silsilah keturunan Yesus, dari Obed itulah kemudian lahir Isai bapa raja Daud.

Keturunan Daud itulah yang dikabarkan oleh malaikat Tuhan kepada Bunda Maria: Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya; maupun kepada Santo Yosep: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

Itulah yang dimaksudkan dengan legem de leviratu: seseorang boleh menikahi iparnya kalau saudaranya meninggal tanpa anak dan dia tidak boleh menolak.

[…] Ketika Ayub dan pastor berdiskusi, Klara dirumah bersama empat orang anak mereka menyiapkan santap siang yang lezat. Sebenarnya, dialah yang menyimpan sepotong kertas itu dalam surat kabar. Ketika pulang dari kios koran, Ayub meletakkan surat kabar diatas meja dan langsung ke teras untuk merokok. Dia diingatkan selalu agar sedapat mungkin bisa merokok di luar rumah. Hanya dia sendiri yang rajin membaca koran. Klara jarang, dan kalau pun ingin tahu sesuatu, dia hanya bertanya apa yang terjadi dan apa yang dituliskan. Riwayatnya mirip dengan Tamar atau Rut. Sebelum menikah dengan Ayub, ia berpacaran dengan kakaknya Ayub, Simon yang meninggal karena kecelakaan bus. Setelah kematian Simon, karena cantik dan seumuran, Ayub pun jatuh cinta padanya, mereka berpacaran, menikah dan Tuhan mengaruniai mereka lima anak. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Yang sulung laki-laki menjadi pastor. Karena sudah jadi milik Tuhan, Klara tidak banyak lagi memberikan apa-apa, dalam hal material atau nasihat. Setiap kali anaknya pastor berulang tahun dia hanya menghadiahkan sepasang sandal atau sepatu sebagai tanda cintanya, karena menurut  dia itulah hal yang paling pertama yang dibutuhkan anaknya ketika bertugas. Dari anaknya pastor itulah dia memahami apa yang telah menjadi riwayat hidupnya dengan pengalaman Tamar dan Rut. Dia menginginkan agar Ayub pun bisa memahami riwayat perjalanan hidup mereka sebagai anugerah yang maha kuasa […].   

Ayub termenung dan menjawab, oohh itu artinya, ada pesan Natal ya. Itulah zaman dulu, zaman kami pastor. Sekarang banyak yang sudah berubah. Hampir setiap orang merindukan ketenangan batin, keharmonisan hidup, tertib dan teraturnya keseharian. Banyak studi yang diraih, banyak ilmu yang didapatkan, banyak pengetahuan yang diperoleh, semuanya hanya untuk mencari dan menjadikan sesuatu damai dan indah. Namun itu, kadang hanyalah sebuah mimpi.

Kalau boleh saya tambahkan, kata pastor, mungkin yang kurang sekarang adalah seni dan pengorbanan hidup. Kita sekarang disistemkan untuk berbuat dan mengkonsumsi sesuatu yang sama: kita bangun pagi kira-kira jam yang sama, ke kantor atau ke tempat kerja jam yang sama, berseragam yang sama, melakukan pekerjaan sesuai dengan bidang, tapi sama: misalnya di rumah sakit, para perawat melakukan hal yang sama sesuai perintah dan target atau guru-guru di sekolah, pulang kerja jam yang sama, kalau tidak punya waktu untuk masak, makan di restoran menu yang sama, yang dibuat juga untuk orang lain. Hilang seni dan pengorbanan hidup. Saya jadi ingat oma saya dulu, sesuatu dikerjakannya dengan seni dan pengorbanan, goreng pisang misalnya: ia mengupasnya, mengirisnya dengan seni, menggoreng lalu ia panggil kami cucu-cuccnya berkumpul dan makan. Sekarang saya memahami betapa besar cintanya kepada kami dengan mengingat seni hidup dan pengorbanan yang telah dia berikan kepada kami. Di rumah sekarang tidak ada lagi seni dan pengorbanan seperti itu, dan kalau mau makan, cukup beli saja, atau pesan lewat ojek online.   

Belum selesai bicara, ada yang mengetuk pintu, pastor melihat jam dinding waktu menunjukkan pukul 11.30 dan berkata, oh ya pak Ayub saya harus memberikan komuni kepada seorang ibu yang sakit, pak Ayub masih menginginkan sesuatu? Kalau tidak, mungkin pembicaraan kita hari ini cukup di sini, kita bisa lanjutkan pada lain kesempatan.

Terima kasih pastor, sudah meluangkan waktu untuk saya, saya pun pamit, jawab Ayub. Berjalanlah Ayub menuju rumah membayangkan kalau sepotong kertas itu adalah pesan Natal karya istrinya. Tiba di rumah ia melihat keadaan rumah penuh dengan suasana pesta. Berkatalah ia kepada istrinya: saya tahu sekarang.

Jawab Klara: kadang kita tidak merayakan bersama, cinta, pengorbanan dan seni hidup yang kita telah lalui bersama dan ketika Natal tiba kita hanya mempersiapkan segala sesuatu untuk berpesta bersama keluarga, rekan dan sahabat-sahabat kita. Ada baiknya kalau sekarang kita merayakan bersama cinta dan pengorbanan kita dalam membangun hidup yang rukun walaupun itu tak terlepas dari rintangan dan duka. Di hari Natal esok kita akan bergembira bersama keluarga yang lain, rekan dan sahabat kita.

Begitu selesai berbicara, tiba juga dirumah anak mereka yang pastor dan berkata: dan untuk itulah saya datang. Sebelum menyantap hidangan yang telah disiapkan, mereka saling berpelukan dan mengucapkan Selamat Natal

 

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment