SYUKUR ATAS KASIH TUHAN

  • Refleksi 25 Tahun Hidup Membiara Fr. Gabriel Hali, CP
Author | Rabu, 28 Agustus 2019 11:28 | Dibaca : : 1252
SYUKUR ATAS KASIH TUHAN

Para Romo, Suster, Frater, Bruder, Bapak, Ibu, Saudara dan Saudari yang dikasihi Tuhan,

          Pada hari yang istimewa ini, saya mengajak kita semua untuk bersyukur atas kasih Tuhan yang begitu luar biasa dalam hidup kita teristimewa bagi saya yang menapaki 25 tahun hidup membiara. Kasih Tuhan yang hadir dalam pengalaman suka dan duka, jatuh dan bangun, tawa dan air mata, itulah yang kita syukuri di hari bahagia ini.

          Perjalanan menapaki panggilan hingga hari ini, dimulai pada 22 Agustus 1994 di kota Batu. Saya bersama kesebelas teman saya ( 10 frater dan 2 bruder ) diijinkan Tuhan untuk bergabung dalam Kongregasi Pasionis melalui pengikraran kaul-kaul kebiaraan di Gereja Gembala Baik Batu.

Beberapa hari setelah kaul, saya dan teman-teman pindah ke biara Bandulan dan memulai menjalani kehidupan sebagai student  dengan segala tuntutannya, suka dan dukanya, manis dan pahitnya. Kehidupan ini saya jalani selama kurang lebih 2 tahun.

Dan… datanglah tanggal keramat itu ( saya mengistilahkannya demikian ) yaitu hari jumat, 16 Agustus 1996; setelah misa pagi di Kapel Rubiah CP, secara sepontan dan tanpa mempertimbangkan resiko, kami dimintai untuk membetulkan pintu gerbang yang rel-nya sedang rusak. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah diangkat ternyata gerbangnya roboh menimpa saya dan salah satu teman. Tragis memang!

          Dalam kepanikan, kami dibawa ke rumah sakit Panti Nirmala di Kota Malang dengan menggunakan mobil L 300,  bukan ambulans sesuai standar pertolongan pada kasus patah tulang belakang. Dan menurut analisa dokter penanganan awal yang tidak benar itulah yang memperburuk kerusakan pada saraf tulang belakang. Setelah menjalani pemeriksaan dan diambil tindakah medis yaitu operasi, saya menjalani waktu pemulihan pasca operasi dengan hati dan perasaan yang tidak menentu.

Dan… tibalah “malam Getsemani” ( istilah dalam permenunganku) yakni malam sebelum meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke biara. Dokter yang menangani saya meminta bantuan seorang suster biarawati yang bertugas di ruangan itu untuk menyampaikan berita penting kepada saya. Dengan hati-hati dan bijak, suster itu bertanya kepada saya: “Frater, bagaimana jika dalam perjalanan nanti kenyataan yang frater hadapi pahit?” Saya balik bertanya: “Maksud suster apa?” Suster dengan lembut menjawab dengan menunjukkan dua foto rongten (sebelum dan sesudah operasi) dan menjelaskan secara rinci dari sudut pandang medis terhadap sakit saya. Kesimpulannya, dalam kasus seperti yang saya alami akan mengakibatkan kelumpuhan selamanya walaupun menurut suster kuasa Tuhan melibihi analisa dan keputusan medis, mukjizat bisa terjadi bagi yang percaya.

Penjelasan dan pernyataan suster tersebut bagaikan palu besar yang menghantam kepala saya. Kaget, marah, sedih, tertekan, dan perasaan-perasaan lain bercampur aduk menjadi satu dalam air mata. Malam itupun menjadi malam yang gelap gulita dan menakutkan. Tidak bisa tidur, mata terpenjam namun pikiran mengembara kemana-mana. Dalam usia 23 tahun, saya lumpuh selamanya, harapan menjadi imam masih tanda tanya besar. Kebebasan sebagai manusia dalam arti tertentu sangat terbatas, bagaimana menceritakan kepada orang tua dan keluarga soal kenyataan ini…

Akhirnya, pagi pun tiba dan saya harus meninggalkan rumah sakit dengan segala perasaan dan suasana hati yang tidak menentu. Saya menetap di komunitas Pasionis yang diperuntukkan bagi para Frater Post Pastoral (waktu itu di wilayah Tidar, Malang) karena lingkungan dan rumah lebih memungkinkan untuk akses kursi roda. Hari-hari yang saya lalui terasa berat dan menakutkan walaupun saudara se-komunitas dan teman-teman selalu berupaya membantu dengan segala cara supaya saya bisa bangkit. Dalam keterpurukan itu, saya membawa dalam doa-doa saya supaya Tuhan memampukan saya untuk kuat dan tegar dalam memikul salib ini. Satu nasihat dari almarhum P. Stefanus Lengi, CP yang selalu terngiang dan menguatkan saya pada masa itu adalah “ Tidak semua gelap adalah gulita”.

 Para Romo, Suster, Frater, Bruder, Bapak, Ibu, Saudara dan Saudari yang dikasihi Tuhan,

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya oleh pimpinan Kongregasi saya diminta untuk menjalani fisioterapi di Panti Bakti Luhur. Tujuan fisioterapi itu untuk memperkuat fisik dan melatih kemandirian saya sebagai pengguna kursi roda. Saya berangkat ke Bakti Luhur dengan kegamangan, walau terbersik niat dan harapan bahwa akan terjadi karya Tuhan yang di luar kemampuan manusia.

Pengalaman perjumpaan dan hidup bersama dengan teman-teman istimewa dan pribadi-pribadi inspiratif di Bakti Luhur perlahan-lahan menumbuhkan kenyakinan dan kekuatan dalam diri saya untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Menyaksikan semangat dan sukacita mereka dalam membantu dan melayani teman-teman lain di tengah keterbatasan, menginpirasi saya sebagai seorang Pasionis untuk dapat seperti mereka melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain sekalipun kecil dan benarlah bahwa “tidak semua gelap adalah gulita”.

Enam bulan tak terasa, akhirnya saya harus menamatkan sekolah kehidupan di Bakti Luhur dengan keyakinan bahwa saya bisa bangkit dari ketepurukan ini dan selalu berjalan bersama Tuhan karena Tuhan akan memampukan saya.

Waktu terus berjalan. Oleh pimpinan Kongregasi saya diminta untuk melanjutkan kuliah di STFT dan syukur kepada Tuhan saya bisa menyelesaikan S1 walaupun dengan tertatih-tatih. Saya pun kemudian diperkenankan Tuhan mengikrarkan kaul kekal pada tahun 2001 dan melanjutkan perjalanan hidup dan panggilan saya dalam suka dan duka, tawa dan deraian air mata sampai pada titik ini, 25 tahun.

 Para Romo, Suster, Frater, Bruder, Bapak, Ibu, Saudara dan Saudari yang dikasihi Tuhan,

Menggumuli perjalanan hidup membiara selama 25 tahun adalah suatu padang gurun. Suatu perjuangan panjang dan berat. Suatu proses terus-menerus untuk bangkit dari keterpurukan, terus kuat dalam menghadapi berbagai terjangan badai kesulitan, terus sabar dalam memanggul salib-salib hidup saya. Dibutuhkan keterbukaan pada Tuhan untuk diisi. Tuhan memproses dan memurnikan saya hamba-Nya yang hina dina, lemah dan rapuh ini untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang matang dan kuat secara rohani. Perjalanan hidup kita semua tentu sudah dan akan berhadapan dengan Salib-salib apapun bentuk dan modelnya. Sesulit dan seberat apapun salib hidup kita, percayalah bahwa jika kita selalu berjalan bersama Tuhan, terbuka pada Tuhan untuk diisi dan dimurnikan, kita pasti dimampukan sampai pada tujuan akhir hidup kita.

Saya menyadari bahwa rahmat panggilan yang dianugerahkan Tuhan pada diri saya ibarat harta berlimpah dalam bejana tanah liat, rahmat berharga dihidupi dalam pribadi yang lemah, berdosa dan rapuh. Karena itu, saya mohon doa dan dukungan dari para Romo, bruder, suster, frater, bapak, ibu, saudara dan saudari supaya saya tetap dan terus setia sampai akhir. Dan doa yang sama pula untuk Anda sekalian supaya tetap kuat dan setia dalam hidup dan pangilan masing-masing hingga akhirnya kita boleh bersama mencapai apa yang dijanjikan Yesus yaitu kebahagiaan abadi bersama Bapa dalam kemuliaan-Nya. Amin

Salam Passio!

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup Di Hati Kita”

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment