Cinta dan Pelukan Kebapaan

  • 17 Renungan Singkat Bagian 6
Author | Sabtu, 30 Maret 2019 22:25 | Dibaca : : 166
“Ia merangkulnya (anaknya).” (Lukas 15:20) “Ia merangkulnya (anaknya).” (Lukas 15:20) Ilustrasi

Kita dapat membayangkan tentang kondisi anak bungsu yang telah sekian lama bekerja dan tidur di kandang babi di sebuah tempat terpencil.  Tentunya sangat kusut, lusuh, bau dan kotor. Kita dapat membayangkan juga bahwa ayah anak itu telah mencium bau tidak sedap anaknya dari kejauhan. Namun, kita menyaksikan kenyataan yang luar biasa mengesankan, ayah itu tidak peduli dengan semuanya itu. Yang ada dalam pikiran ayah itu adalah sesegera mungkin ia harus mendapati anaknya, sebelum keluarga dan orang-orang sekampungnya mengejek dan menghakimi anaknya sebagai seorang yang jahat dan tidak tahu malu. Kita kemudian harus tertegun ketika kita menyaksikan ayah itu merangkul anaknya dengan begitu erat dalam kehangatan cinta kebapaan.

Apa yang kita saksikan dalam kisah ini adalah tentang Bapa kita yang baik di surga. Ketika kita kembali kepada-Nya, kembali ke rumah dengan penyesalan atas dosa-dosa kita, Ia tidak akan berdiri di kejauhan dan memenadang kita berjuang sendirian dalam kubangan lumpur dosa. Tidak. Yang Bapa kita lakukan adalah mendekati kita sebagai Immanuel, merangkul kita dalam kehangatan cinta dan mencium kita dalam kemesraan kasih kebapaan dalam kondisi kita yang sedang kotor, lusuh dan bau oleh dosa-dosa kita. Betapa mulia dan tulusnya hati Bapa kita yang di surga tetapi yang cinta-Nya selalu bersama kita, anak-anak kecintaan-Nya di dunia ini.

Hari Minggu Prapaskah Keempat secara tradisional disebut Minggu Laetare. Laetare adalah kata Latin yang berarti "bersukacitalah." Injil hari ini menjelaskan alasan sukacita kita: kasih Allah yang besar kepada kita telah dinyatakan dalam Yesus. Melalui Penderitaan, Kematian, dan Kebangkitan-Nya, Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah dan sesama.

Tuhan, pelukalah aku dalam kelemebutan dan kehangatan cinta-Mu. Biarkan dosa-dosaku hangus terbakar oleh kuatnya cinta-Mu. Bentuklah aku menjadi baru dalam tangan cinta-Mu. Amin.

 

Salam Passio!

"Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita"

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment