Cinta dan Pengorbanan

  • 17 Renungan Singkat Bagian 5
Author | Sabtu, 30 Maret 2019 22:16 | Dibaca : : 135
“Ayah itu berlari mendapatkan dia (anaknya).” (Lukas 15: 20) “Ayah itu berlari mendapatkan dia (anaknya).” (Lukas 15: 20) Ilustrasi

Ketika ayah itu melihat anak laki-lakinya, ia merasakan belas kasihan yang mendalam. Apa yang ia lakukan? Kitab Suci mengatakan bahwa ayah itu berlari mendapatkan anaknya.

Ada empat poin penting yang dapat kita refleksikan mengenai hal ini.

Pertama, hal itu bertentangan dengan budaya. Seharusnya anaknya itulah yang berlari menuju ayahnya, bukan sebaliknya.

Kedua, hal itu menunjukkan rasa belaskasih yang besar. Ayah itu berlari menjemput anaknya karena ia ingin mendapatkan anaknya segera sebelum orang-orang sekampungnya. Sebab jika mereka yang pertama mendapatkan atau mendekati anak itu, mereka mungkin akan menghina dia sebagai anak yang telah membuat malu orang tua dan keluarga.

Ketiga, hal itu menampilkan kepada kita keindahan cinta. Kata kerja berlari yang digunakan di sini sungguh-sungguh menyatakan berlari dengan kencang. Ayah itu berlari dengan kencang seperti angin untuk menjemput anaknya. Hal itu sungguh indah. Cinta menggerakkan kita untuk melakukan apapun demi kebaikan orang yang kita cintai.

Keempat, hal itu menunjukkan kepada kita tindakan cinta yang sangat radikal. Ayah itu mungkin sudah berusia lebih dari 50 tahun. Pada zaman itu, tidak seorang pun yang berusia di atas 50 tahun biasa berlari di muka umum, karena hal itu bisa membuat jubah mereka berantakan dan mungkin mereka bisa terjatuh. Ayah ini sangat tergugah oleh rasa cinta pada anaknya sehingga ia tidak mempedulikan harga diri dan keselamatannya sendiri.

Ini adalah gambaran besar tentang Hati Bapa kita yang di surga. Cinta-Nya begitu kuat dan dahsyat kepada kita. Ia mencintai kita dengan segala yang Dia miliki, sehingga rasa malu kita dapat berubah menjadi kemuliaan-Nya. Sungguh baik, terberkati dan menyenangkan memiliki Bapa seperti Allah yang di surga tetapi yang selalu beserta kita.

Bapa yang baik, aku memuji dan menyembah-Mu karena Engkau selalu mengasihi aku, dan karena Engkau senantiasa mencari aku bila aku jauh dari jalan-Mu.  Amin.

 

Salam Passio!

"Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita"

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment