CINTA TUHAN YANG TAK BERKESUDAHAN

  • Hari Kamis Putih Mengenang Perjamuan Tuhan (Oleh: Fr. Fransiskus Nong Budi, C.P.)
Author | Rabu, 17 April 2019 08:09 | Dibaca : : 180
CINTA TUHAN YANG TAK BERKESUDAHAN

Bac I: Kel. 12.1-8.11-14; Bac II: 1 Kor. 11:23-26; Injil: Yoh. 13:1-15

Ada dua alasan yang membuat orang pergi dari rumah. Pertama, karena sayang dengan keadaan di rumah. Kedua, karena sayang yang telah berubah menjadi benci terhadap situasi di rumah.

Ada sebuah kisah. Hiduplah seorang ibu muda dengan putranya berumur dua tahun. Mereka sendirian di sebuah pondok di tengah hutan. Suatu hari di musim dingin mereka kehabisan persediaan makanan. Mereka amat kelaparan. Ibu muda itu memang sudah lemas nyaris tak berdaya. Jauh lebih menderita lagi putranya. Ibu muda itu hanya punya dua pilihan, yaitu pertama, pergi mencari makanan di luar rumah dengan resiko meninggalkan putranya seorang diri, yang tentu membahayakannya karena dapat terjadi diserang binatang buas. Pilihan kedua, ia tetap tinggal di rumah dan cepat atau lambat akan mati kelaparan. Yang pasti ia akan menyaksikan putranya mati kelaparan di hadapannya.

Ibu muda dalam kisah di atas sungguh berada dalam dua pilihan yang sulit, namun tidak bisa untuk tidak memilih salah satu di antaranya. Ia harus memilih. Memilih TINGGAL, atau PERGI. Tinggal untuk melihat kematian, atau pergi untuk memberi kehidupan. Keduanya punya risko yang sama beratnya dan menuntut pilihan segera.

Peristiwa Pembasuhan Kaki para murid oleh Yesus merupakan PERISTIWA KASIH, sebuah PERISTIWA KEHIDUPAN. Malam Kamis Putih adalah malam sebelum Paskah, malam bagi Yesus untuk PERGI. Malam itu merupakan saat bagi Yesus untuk kembali kepada Bapa. Yesus memang amat sayang dengan para murid – dengan kita – tetapi rasa cinta-Nya itu tak mungkin menghentikan kepergian-Nya. Justru karena lebih dari amat sayang dengan para muridlah Yesus PERGI. Kasih atau sayang Yesus tak habis atau tak berhenti dengan kepergian-Nya. Yesus pergi bukan berarti kasih atau sayang-Nya juga ikut pergi atau berhenti atau selesai. Tidak! Meski Yesus pergi, Kasih atau Sayang-Nya kepada para murid (kepada kita) tidak berkesudahan. Kasih-Nya tanpa batas. Malah sebaliknya, karena kasih yang tanpa batas itulah Yesus pergi. Ia pergi agar kita hidup!

Kepergian Yesus bukan kepergian begitu saja, seperti ibu muda dalam kisah di atas misalnya yang pergi meninggalkan putranya sendiri untuk mencari makanan, tetapi kepergian yang amat istimewa. Yesus PERGI dengan MEMBERIKAN DIRINYA lewat SENGSARA dan WAFATNYA DI KAYU SALIB. Kepergian Yesus dengan segala pengorbanan-Nya sungguh membawa keselamatan, membawa kehidupan bagi kita yang ditinggalkan-Nya. Ia pergi agar kita hidup. Ia mati supaya kita hidup.

Yesus pergi sama seperti perayaan Paskah orang Yahudi, peristiwa PENYELAMATAN. Saat dimana DAGING ANAK DOMBA JANTAN YANG TAK BERCACAT dan DARAH-NYA menjadikan semua keluarga bangsa Israel di Mesir selamat atau tetap hidup ketika Tuhan Allah memusnahkan Mesir. Persis pada malam Perjamuan Terakhir, Yesus berkata kepada para murid: “Inilah TUBUH-KU, yang dikorbankan bagimu,” dan “Inilah piala Perjanjian Baru, yang diikat dalam DARAH-KU.” Bila Paskah bagi orang Yahudi merupakan hari peringatan yang wajib dirayakan bagi Tuhan turun-temurun untuk selamanya, maka bagi YANG PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS adalah INGATAN (MEMORIA) AKAN YESUS dan PEWARTAAN AKAN SENGSARA DAN WAFAT YESUS SAMPAI KEDATANGAN-NYA KEMBALI!

Kepergian Yesus bukan hanya kepergian karena HIDUP, tetapi juga merupakan kepergian karena CINTA. Cinta macam apa yang abadi atau yang tetap bagi kita? Yesus memang PERGI, tetapi CINTA-NYA TINGGAL TETAP. Cinta-Nya tak berkesudahan. Cinta Yesus tidak pernah pergi dari tengah-tengah kita, sekalipun Yesus pergi. CINTA yang tinggal dari Yesus ialah PELAYANAN KASIH YANG RENDAH HATI.

Jenis CINTA itu tidak gampang bagi kita untuk dipahami. Petrus sendiri saja ketika diberi jenis cinta itu, ia tidak mengerti. Kita akan menjadi bagian dari kelompok Yesus harus memberikan kaki kita dibasuh oleh Yesus. Tanpa pembasuhan kaki, kita tak dapat masuk dalam keanggotaan Yesus. Pembasuhan kaki sebagai simbol nyata PELAYANAN KASIH YANG RENDAH HATI. Guru dan Tuhan telah memberi teladan bagi kita untuk melayani dengan segala kerendahan hati. Bila kita MELAYANI DENGAN KASIH YANG RENDAH HATI,  kita tidak mengikuti siapa pun, tetapi Sang Guru dan Tuhan kitalah yang kita ikuti. Dengan memberikan kaki dicuci, kita diangkat dan ditinggikan atau dihargai dan dihormati oleh Tuhan dan Guru. Kita menjadi bersih dari dosa-dosa kita. Kita secara pribadi dan kita secara bersama sebagai Gereja.

Sebagai PENGIKUT YESUS, TUHAN dan GURU kita, tidak ada jalan lain selain BERBUAT SEPERTI YANG DILAKUKAN YESUS KEPADA KITA. Kalau kita dilayani dengan kasih yang amat rendah hati oleh Yesus, demikian juga sepatutnya kita buat kepada sesama kita. Melayani dengan kasih yang amat rendah hati, berarti kita harus PERGI. Pergi agar sesama hidup. Memberikan diri agar yang lain menjadi hidup. Inilah jenis CINTA yang tak berkesudahan. Ketika jenis cinta ini kita hidupi dalam keseharian kita kepada setiap orang yang kita jumpai di dalam kehidupan kita, kita terus memelihara CINTA YANG TAK BERKESUDAHAN. Kalau pun kita PERGI, CINTA TUHAN YANG TAK BERKESUDAHAN yang menjadi nyata dalam diri kita TINGGAL TETAP bersama kita.

 Salam Passio!!!

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment