Kekuatan Harapan - Refleksi Minggu Adven III, 17 Desember 2017

Author | Minggu, 17 Desember 2017 00:11 | Dibaca : : 1401
Ilustrasi Ilustrasi

Bacaan 1: Yes 40: 1 - 5; 9 – 11
Bacaan 2: 2 Petrus 3:8 - 14
Bacaan Injil: Markus 1: 1 – 8

Yesaya berkata: 'jiwaku bersukacita di dalam Tuhanku.' Paulus menulis: '[Tuhan] tidak akan mengecewakan kita.'  Yohanes berkhotbah: 'Dia sudah ada di antara kita, yaitu Terang Dunia'. Ketiga orang pilihan Allah ini memberi kita Harapan, harapan Adven.

Seorang yang pesimis mungkin akan berkata bahwa harapan itu sama sekali tidak membantu. Karena kita tidak bisa membeli apapun dengan harapan. Sebab harapan itu hanya berarti kita belum memiliki apa yang kita inginkan.

Di sisi lain! Harapan sangat penting sehingga bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.

Seorang teman saya bercerita tentang seorang anggota keluarganya yang sakit parah dan dibawa ke sebuah rumah sakit. Para dokter mengatakan bahwa dia akan sembuh, hanya jika sikapnya positif, artinya hanya jika dia menginginkan dan berharap untuk hidup. Setiap kali keluarga mengunjunginya, dia selalu membalikkan mukanya dan berkata: 'Pergilah, tinggalkan aku sendiri! Aku sudah selesai! Aku pasti mati! Aku bisa merasakannya di tulang-tulangku!'

Keluarga mencoba untuk menghiburnya. Mereka berbicara tentang hal-hal yang mungkin dapat dilakukan bersama dia kalau dia sembuh. Pergi ke pesta atau makan malam, mengunjungi teman atau keluarga bersama-sama, melakukan perjalanan ke luar negeri atau ziarah ke Tanah Suci! Tetapi tidak ada reaksi, tidak ada minat sama sekali.

Para dokter mengatakan: 'Kami takut dia benar-benar mati. Dia tidak memiliki keinginan untuk hidup, tidak ada harapan di dalam hatinya. Dia hampir berhenti makan sama sekali. Setiap hari dia menjadi lebih lemah, kurus, dan pucat. Jika dia tidak memiliki semangat dan mulai menanti dan berharap bahwa ia bisa hidup, dia benar-benar akan mati. Tanpa kekuatan dari dalam, semua operasi, bahan kimia, pil, bubuk, suntikan, dan dukungan dari keluarga tidak akan membuat secuil perbedaan. Perlahan tetapi pasti dia akan habis dan mati.

Kita membutuhkan harapan untuk dunia kita dan harapan untuk hidup kita sendiri. Pikirkan tentang ribuan orang miskin di kota-kota kita, tentang nurani-nurani di penjara-penjara kotor, tentang bayi-bayi yang lahir dari orang tua pecandu alkohol atau narkotika, tentang orang-orang muda yang depresi dan putus asa yang berpikir serius untuk menjalani hidup mereka sendiri. Pikirkan kesulitan dalam keluarga atau komunitas kita sendiri, di sekitar meja makan kita sendiri.

Pikirkan tentang penderitaan jutaan orang di seluruh dunia saat ini. Penyebab penderitaan mereka sebagian besar akibat kekeringan dan kekurangan pangan drastis; fanatisme, kerusuhan sipil dan perang; momok HIV / AIDS, malaria, kanker, dan penyakit lainnya; pemerintah yang korup, tidak kompeten dan tidak adil; dan tingkat perkembangan ekonomi yang rendah. Pikirkan terutama tentang penderitaan orang-orang di Filipina saat ini di mana Presiden secara acak membunuh pengguna narkoba dan pengedar obat terlarang, pikirkan tentang orang-orang Palestina, Irak, Suriah dan berbagai dunia yang tidak pernah aman karena pertikaian dan perang, pikirkan kelaparan di berbagai Negara di Afrika, pikirkan tentang para korban bencana alam banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi di berbagai wilayah di negeri kita, pikirkan tentang jalan yang rusak, gedung sekolah yang tak layak, sarana-sarana kesehatan yang terbatas di pedalaman Pulau Flores.

Dalam semua situasi sulit seperti ini, kesulitan kita sendiri dan orang lain, apakah kita hanya merasa sedih dan menyesal? Apakah kita sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan keluar, tidak ada harapan? Tidak, jika kita menerima firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Yesaya berkata: 'jiwaku bersukacita di dalam Tuhanku.' Paulus menulis: '[Tuhan] tidak akan mengecewakanmu.' Yohanes berkhotbah: 'Dia sudah ada di antara kita, yaitu Terang Dunia.'

Kita percaya begitu. Kita berharap begitu. Kita berdoa begitu. Kita terus berdoa agar semuanya berjalan baik untuk diri sendiri dan orang lain, meskipun dalam waktu panjang. Kita melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik di mana Yesus berada di antara kita. Dunia di mana tidak ada orang yang hidup dalam kemiskinan, di mana orang-orang lapar diberi makan, di mana orang sakit dirawat, di mana setiap orang memiliki atap di atas kepala mereka, di mana orang-orang merasa dan berusaha meringankan rasa sakit dari saudara dan saudari mereka, di mana pendidikan dan pekerjaan tersedia untuk semua orang.

Inilah harapan kita, harapan di mana kasih Tuhan menciptakan perbedaan, cinta kasih yang lembut yang mengubah manusia dan situasi, mengubahnya menjadi lebih baik dan mengubahnya untuk kepentingan semua orang, dan bukan hanya untuk beberapa orang yang beruntung.

Pada hari-hari terakhir masa Adven ini, marilah kita memikirkan apa yang dapat kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan untuk orang-orang yang membutuhkan kita pada Natal ini, baik di sini maupun di luar negeri. Untuk tujuan itu, baiklah kita lebih berhemat dan tidak tergiur dengan tawaran menarik dari iklan-iklan di televisi, surat kabar, majalah, smartphone dan pasar untuk membelajakan keperluan Natal dan hadiah-hadiah yang mahal-mahal kepada keluarga dan teman-teman kita. Sebab sering yang terjadi, sesungguhnya kita dan keluarga atau teman-teman kita,  tidak benar-benar membutuhkan barang-barang yang kita beli itu.

Marilah kita seperti Yohanes Pembaptis menjadi saksi terang yang adalah Yesus Kristus, Sang Terang Dunia melalui sikap, perbuatan dan cara kita membawa hidup. Marilah kita bekerja bersama Tuhan untuk membuat dunia kita menjadi tempat yang semakin aman dan indah untuk didiami.

Salam Passion.

 

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

1 comment

  • Comment Link Pius Selasa Minggu, 17 Desember 2017 17:00 posted by Pius Selasa

    Trm kasih Pater utk renungan ini...kami tetap berharap renungan edisi betikutnya...

    Report

Leave a comment