Minggu Adven II : Minggu Damai

Author | Minggu, 11 Desember 2016 11:34 | Dibaca : : 2387
Ilustrasi Ilustrasi

MINGGU ADVEN II : Minggu Damai

(Bacaan I: Yes 11:1-10, Bacaan II: Rom 15: 4-9, Bacaan Injil: Mat 3:1-12)

*Renungan ini dibawakan dalam Misa Bahasa Inggris di Gereja Paroki  St. Kevin Melbourne, Australia. Saya lampirkan juga versi bahasa inggrisnya dari renungan ini.

 

Kita telah mendengar dari Iniil bahwa Yohanes Pembaptis menantang orang-orang percaya pada jamannya dengan mengundang mereka : ’Buktikan kepada dunia bahwa engkau percaya’.

Ada beberapa pertanyaan bagus untuk direnungkan selama minggu kedua Adven. Bagaimana kita dapat membuktikan kepada dunia bahwa kita beriman? Bagaimana orang mengetahui bahwa kita adalah seorang Kristen? Apa yang harus kita lakukan?

Kita mendengar deskripsi yang sangat menarik dalam bacaan pertama tentang bagaimana suatu hari nanti kehidupan akan berlangsung. Suatu hari nanti perang dan perselisihan akan berakhir. Binatang-binatang yang biasanya takut satu sama lain akan hidup dalam harmoni: serigala dan anak domba, macan tutul dan sapi, beruang dan anak sapi, singa dan lembu; dan bahkan seorang anak akan tenang bermain dengan binatang-binatang ini, atau duduk di dekat liang ular tedung. Ini adalah mimpi akan harmoni yang sejati. Ini adalah impian kedamaian sejati. Ini adalah impian kita. Ini adalah harapan kita. Ini adalah perjuangan kita. Ini adalah doa kita bersama. Hidup damai dengan sesama adalah salah satu tanda bahwa seseorang adalah seorang Kristen, seorang pengikut Yesus. St Paulus mengatakan hal ini dalam bacaan kedua bahwa kita bersama-sama dengan satu pikiran dan satu suara memuliakan Tuhan dan saling mencintai. Ia mengatakan, "mari kita menerima satu sama lain, sama seperti Kristus menerima kita, demi kemuliaan Allah". Dalam Injil, Yohanes Pembaptis menegaskan, buah dari pertobatan ". Yohanes tidak tertarik dengan pertunjukkan agama lahiriah. Dia mengkritik orang-orang Farisi yang melakukan itu. Dia mengatakan pertobatan harus 'menghasilkan buah' atau 'menghasilkan bukti' dalam kenyataan.

Akankah kita dapat dikatakan sebagai seorang Kristen dengan melakukan hal-hal lahiriah, seperti menghadiri Misa dan berdoa, tapi tidak menghasilkan banyak buah dalam memperbaharui dunia?

Demi mimpi yang Yesaya miliki tentang semua kehidupan akan hidup harmonis; demi impian orang-orang yang berbeda agama dan tradisi tentang hidup damai; demi mimpi St Paul agar kita dapat saling menerima, agar kita dapat menerima orang-orang dari pulau dan budaya lain; demi mimpi Yohanes Pembaptis untuk membuktikan iman dengan perbuatan baik; demi mimpi Yesus yang telah mencintai kita; demi semua mimpi agar menjadi kenyataan, kita harus membiarkan kasih Tuhan mengubah hati dan pikiran kita.

Kita harus melihat Tuhan dengan cara yang berbeda. Kita harus melihat Allah sebagai Bapa yang mencintai, yang mengampuni, yang menyembuhkan dan ingin membebaskan kita. Allah, Bapa yang penuh kasih memungkinkan kita untuk mencintai dengan maksud untuk mencintai, tanpa syarat apapun. Jika kita melihat Allah dengan cara ini kita akan melihat diri kita sendiri dan orang lain secara berbeda, dan kita akan belajar sebagaimana St Paul katakan, untuk 'memperlakukan satu sama lain dengan cara yang ramah, sama seperti Kristus memperlakukan kita’.

Apakah kita siap menghadapi ujian ini? Apakah kita siap untuk menghasilkan buah yang baik? Apakah kita siap untuk membuktikan bahwa kita beriman?

Mari kita terus menjaga iman kita, harapan kita, mimpi kita, perjuangan dan doa kita untuk kedamaian sejati, sehingga hal itu menjadi hidup, bertumbuh dan berbuah setiap hari dalam kehidupan kita.

 

***

 

We heard from the gospel that John the Baptist challenged the believers of his time by calling on them: “Prove to the world that you believe”.

There are good questions to reflect on during this second week of Advent. How could we prove to the world that we believe? How would people know that we are  true Christians?

What would we have to do?                                                                                                      

We heard a beautiful description in the First Reading about how life will one day be lived. There will be an end to war and strife. The animals that normally fear each other will live in harmony: wolf and lamb, leopard and cow, bear and calf, lion and ox; and even a child would be safe playing with any of these animals, or sitting next to a snake pit.

This is  a dream of true harmony. It is  a dream of true peace. It is our dream. It is our hope. It is our struggle. It is our prayer.

Living in harmony with others would be one of the signs that a person is a Christian, a follower of Jesus. St Paul mentions this in the second reading that we can together with one mind and one voice we glorify God and love each other. He said, “let us welcome one another, just as Christ accepted us, in order to bring praise to God”.

In the gospel, John the Baptist warned, ‘bear fruit worthy of repentance”. John was not interested in external shows of religion. He criticized the Pharisees for doing that. He said their repentance must ‘produce fruit’ or ‘produce evidence’ of it being real.

Would we be found guilty  of saying we are Christians and doing the externals things, like attending Mass and saying prayers, but not bearing much fruit in terms of improving the world?

For the dream that Isaiah had of all life living in harmony; for the dream of people of different faiths and traditions living in harmony; for the dream that St Paul had of us welcoming others, that we welcome people from other lands and culture; for the dream John the Baptist had of proving our faith by our good actions; for the dream that Jesus had of us loving and serving others; for any or all of those dreams to come true, we have to allow God’s love to change our hearts and minds.

We have to see God in a different way. We have to see God as the Father who loves, who forgives, who heals and wants to set us free. God, the loving Father enables us to love the way we are meant to love, without any conditions. If we see God in this way we will look at ourselves and others differently, and we will learn as St Paul says, to ‘treat each other in the same friendly way as Christ treated you’. 

Are we ready to face the test ?  Are we ready to produce good fruit? Are we ready to prove that we believe?

Let us continue to keep our faith, our hopes, our dreams, our struggles and our prayers for  true peace, so that it becomes alive, grows and bears fruit every day in our lives.

 

 

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment