Passion

Author | Sabtu, 14 Januari 2017 12:12 | Dibaca : : 2006
Cover Film The Passion of Christ Cover Film The Passion of Christ

Penderitaan Yesus masih merupakan sebuah misteri yang tidak mudah untuk dipahami. Begitu banyak pertanyaan yang muncul berkaitan dengan Sengsara Yesus. Film Mel Gibson "The Passion of Christ" telah menimbulkan begitu banyak kontroversi. Sejak itu kata Passion telah menjadi bahan pembicaraa dan hadir dalam benak  jutaan orang di dunia. Apakah arti sengsara Yesus itu?

Passion berasal dari kata kerja bahasa Latin pati, yang berarti "menderita." Kata pass berasal dari kata pasif yang berarti "yang mampu menderita." Kata pass muncul pada awal abad ke-16 untuk menunjukkan "penderitaan Kristus di kayu salib." Bahasa Inggris juga mengambil kata Passion dari bahasa Perancis yang berarti "kekuatan perasaan." Kata passion saat ini mengandung arti daya tarik seksual dan kemarahan. Passion adalah perasaan yang kuat, terutama kemarahan, cinta atau keinginan. Passion adalah emosi, dorongan, atau yang mengatasi perasaan dan keyakinan. Passion juga mengungkapkan penderitaan Kristus antara malam perjamuan terakhir dan kematian-Nya.

Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes banyak memberitahu kita tentang penderitaan Yesus. Penulis-penulis ini memberitahu kita bahwa Yesus tahu apa yang akan terjadi dan bahwa Dia menderita bagi manusia. Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga " (Lukas 9:22).

Kristus menderita bagi kita secara fisik, tetapi Dia juga menderita secara batin. Dia dicemooh dan dibenci oleh orang-orang yang ingin Ia selamatkan. Tentu saja hal itu sangat menyakitkan. Cinta-Nya yang tanpa syarat dibantah dan dibalas dengan kebencian. Hal ini lebih menyakitkan dari penderitaan fisik, namun Dia tetap bertahan.

Dalam Lukas, disampaikan bahwa Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus tetapi orang-orang berteriak menuntut kematian-Nya. Lukas 23:15-16 menginformasikan kepada kita bahwa Pilatus (dan  juga Herodes) tidak menemukan suatu kesalahan apapun pada Yesus sehingga ia ingin membebaskan Yesus. Tetapi orang-orang mendesak untuk membunuh Dia. Lukas 23:18 mengisahkan, "Semua orang yang berkumpul di situ berteriak, Bunuh Dia! Lepaskan Barabas untuk kami!"

Kita menyadari dan mengalami bahwa Yesus sungguh mengasihi kita. Yohanes 3:16 mengatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Adakah cinta yang lebih besar dari ini? Ayat ini membuat kita merasa lebih dicintai oleh Tuhan. Mengapa Yesus rela mengalami penyiksaan dan rasa sakit yang berat bagi kita? Apa manusia bisa melakukan apa yang Yesus lakukan? Bisakah kita memiliki semangat Yesus?

Lukas menyampaikan tentang rasa sakit yang Yesus alami di Taman Getsemani. Dikatakan dalam Lukas 22:44 bahwa Yesus sangat ketakutan ketika Dia berdoa, sampai peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah (Luk 22:44).." Yesus tahu kehendak Bapa-Nya agar Dia mati di kayu salib dan Yesus juga tahu hasilnya. Ini adalah bagian penting dari penderitaan Yesus; bahwa Dia mati di kayu salib dan hasilnya untuk menebus dosa-dosa kita. Itu membuat kata passion menjadi lebih bermakna. Inilah ungkapan yang luar biasa dari cinta, ALLAH MENCINTAI KITA dengan jalan mati di salib. Kita hanya akan benar-benar merasakan pengalaman cinta Sang Tersalib jika kita mengalami passio dalam hidup kita.

Kita berdoa agar setiap hari kita memiliki passion, gairah dan semangat seperti Yesus. Passion dalam arti bahwa kita memiliki antusiasme dan semangat yang berkobar-kobar untuk hidup setiap hari bersama Yesus. Passion atau gairah untuk mendengarkan suara Yesus dalam diri kita. Kita bersyukur bahwa Yesus mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita. Allah tidak menghendaki kita menderita seperti Yesus, tetapi Dia ingin agar kita hidup seperti Yesus, dengan passion kita bergerak mengasihi satu sama lain dan berbagi kasih dengan sesama manusia.

 

‘SEMOGA SENGSARA YESUS KRISTUS SELALU HIDUP DI HATI KITA’

 

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment