Refleksi Minggu Palma

  • 14 April 2019
Author | Minggu, 14 April 2019 09:25 | Dibaca : : 329
Refleksi Minggu Palma

Pada hari Minggu Palma, liturgi memberikan pemandangan panorama dari misteri yang akan kita renungkan selama Pekan Suci atau Trihari suci, yakni penetapan ekaristi, penderitaan dan kematian Yesus, dan kebangkitan-Nya.

Bacaan hari Minggu Palma ini mencakup banyak ungkapan dan ekspresi yang telah menjadi bagian dari liturgi hari Minggu. Tetapi, yang paling penting, bacaan-bacaan itu mengungkapkan bagaimana setiap peristiwa Sengsara Kristus telah diwartakan oleh para nabi dalam Kitab Suci dan oleh Kristus sendiri, dengan demikian menegaskan bahwa Dialah yang ”akan datang.”

Bacaan selama Prosesi dengan daun palma begitu kontras dengan bacaan dalam Misa. Setibanya di Yerusalem, Yesus diterima dengan teriakan kegembiraan dan puji-pujian oleh orang banyak yang telah percaya dan memiliki iman kepada-Nya sebagai seorang nabi dari Allah. : “Hosanna Putra Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! "

Tetapi semua ini segera berakhir karena di dalam Misa kita fokus pada saat-saat ketika Kristus akan merayakan Paskah dengan teman-teman terdekat-Nya.

Kita mendengar Yesus meninggalkan kepada kita harta karun Ekaristi, tentang bagaimana Ia ingin kita mengingat-Nya dan membuat diri-Nya hadir bagi kita. Kemudian, kita menyaksikan pengkhianatan Yudas, saat dia menjual Yesus untuk uang meskipun dia kemudian menyesalinya. Kita melihat pengkhianatan oleh Petrus, yang menyangkal Yesus tiga kali agar dia luput dari nasib yang sama seperti Yesus. Kelemahan Petrus dan rasul-rasul lainnya terungkap lagi ketika mereka tidak dapat tetap terjaga dan menemani Yesus dalam doa di Taman Zaitun. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa bukan karena prestasi atau kekuatan bahwa Yesus telah memilih mereka untuk misi dan bahwa tanpa Dia dan Roh-Nya mereka tidak dapat melakukan apa pun.

Di taman, seperti di kayu salib, Yesus merasa sendirian. Penderitaan-Nya tercermin dengan sangat baik dalam frasa mazmur yang Ia teriakkan di kayu salib: “Allahku, Ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus dicobai oleh keraguan: Engkau juga, Tuhanku, sudah tinggalkan Aku? Sama seperti mereka yang Kukasihi telah meninggalkan Aku? Apakah semua penderitaan ini benar-benar masuk akal? Tetapi Yesus menarik kekuatan dari kelemahan dan, dalam tindakan iman terakhir-Nya, Ia menyerahkan diri kepada kehendak Bapa: "Ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku."

Bacaan-bacaan suci selama pekan ini meninggalkan kita dalam ketegangan yang hanya akan diselesaikan pada Malam Paskah. Apa yang akan terjadi sekarang? Kristus mati dan dimakamkan. Meskipun demikian, bacaan-bacaan itu masih memberi kita ajaran tambahan. Yang pertama adalah bahwa di antara semua pengikut Yesus, satu-satunya yang telah menemani Yesus dari awal hingga akhir adalah sekelompok wanita yang sangat dekat dengan-Nya. Mereka menemani dan melayani Dia selama pewartaan-Nya dan dalam perjalanan ke Gunung Kalvari dengan salib di pundak-Nya. Mereka menemani ibu-Nya yang berduka di kaki salib dan sekarang meratapi kematian putra-Nya di depan kubur. Kesetiaan wanita-wanita ini terhadap Yesus tidak cuma-cuma. Seperti kita ketahui, Yesus kemudian menghargai kesetiaan mereka dengan membiarkan seorang wanita dari antara mereka menjadi orang pertama yang melihat-Nya dan bersaksi tentang kebangkitan-Nya.

 

Akhirnya, Injil menunjukkan bahwa kisah itu tidak berakhir di sini. Para imam dan orang-orang Farisi yang mengetahui bahwa Ia pernah mengatakan akan bangkit dari kematian dalam tiga hari, melakukan setiap tindakan pencegahan untuk mencegah siapa pun mencuri tubuh dan mengklaim bahwa Yesus telah bangkit. Mereka tidak hanya meminta penjaga, tetapi mereka juga menutup pintu masuk ke makam. Dengan ini, bacaan mempersiapkan kita untuk menyadari pada hari Minggu Paskah bahwa jika makam itu kosong, itu bukan pekerjaan manusia.

Semoga Tuhan mengizinkan kita untuk menemani-Nya dengan tenang selama misteri Paskah ini dan semoga kita akan bangkit bersama-Nya dalam iman, harapan, dan kasih. Amin.

 

Salam Passio!

 “Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment