KEUTAMAAN-KEUTAMAAN HIDUP BRUDER LORENZO MARCELLI, CP (VENERABILIS

Author | Selasa, 02 Jun 2020 20:13 | Dibaca : : 134
KEUTAMAAN-KEUTAMAAN HIDUP BRUDER LORENZO MARCELLI, CP (VENERABILIS

Ditulis Oleh: Fr. Dismas Kwirinus, CP

 

Riwayat Hidup Br Lorenzo

Br. Lorenzo Marcelli, CP dari Roh Kudus lahir pada 30 Agustus 1874 di kota Caprarola (Viterbo) Italia. Ayahnya bernama Domenico Marcelli dan ibunya Maria Gentilucci. Keesokan harinya dia dibaptis di paroki St. Mikael Malaikat Agung dengan nama Egidio, untuk menghormati Santo pelindung kota tersebut, St. Egidio Abbott. Pada usia tujuh tahun, ia menerima sakramen komuni pertama dan penguatan. Pada saat ia berusia sepuluh tahun, ibunya meninggal dunia.

Egidio tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke sekolah, ketika dia masih kecil dia mulai bekerja di ladang. Dia menghabiskan masa kecilnya di rumah bersama keluarga, teman-teman dan di paroki asalnya. Saat menjalani kehidupan yang sederhana, Egidio sangat menuntut dalam memenuhi tugasnya, terutama yang berkaitan dengan imannya. Dia berpartisipasi dalam kegiatan paroki dan menjalani kehidupan Kristiani dengan baik, selama bertahun-tahun aktivitas dan rutinitas yang dia lakukan akan membawa dia kepada pilihan hidup. Bahkan, berkat berbagai misi yang diberikan oleh biarawan Pasionis, dia menemukan panggilan untuk hidup membiara.

Pada tanggal 20 Mei 1901, pada usia dua puluh tujuh tahun, ia memasuki masa novisiat dan menerima Kebiasaan Pasionis pada tanggal 8 Juni di tahun yang sama, menerima nama religius Bruder Lorenzo dari Roh Kudus. Ketika dia menyelesaikan masa novisiatnya, di bawah bimbingan dan pengajaran P. Nazareno Santoolini, CP sebagai Magister novis, ia diperkenankan untuk mengikrarkan Profesi perdana pada 15 Juni 1902. Dengan kaul kemiskinan, kemurnian, ketaatan dan kaul khusus dalam Kongregasi Pasionis, yaitu kaul untuk membangkitkan pada umat Kristiani kebaktian dan kenangan penuh hikmat akan sengsara dan wafat Yesus Kristus, ia menguduskan dan mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan melayani umat Allah. Selama lima puluh satu tahun, ia bertugas sebagai Bruder di beberapa biara di provinsi religiusnya (PRAES). Pada tanggal 14 November 1914, Br. Lorenzo dan beberapa dari rekan sekongregasinya berangkat untuk misi ke Brazil, di mana dia menjadi anggota dari biara Pasionis pertama di Brazil. Di sana, setelah delapan tahun, ia menderita tuberkulosis (TBC) dan terpaksa harus meninggalkan Brazil. Dia kembali ke Italia pada 7 Februari 1922. Dia sepenuhnya pulih dan melanjutkan pelayanannya untuk bekerja sebagai Bruder di kota Nettuno. Setelah menderita serangan jantung, ia meninggal pada 14 Oktober 1953. Ia dimakamkan di pemakaman Nettuno.

 

Menuju Kanonisasi

Karena berbagai alasan, setelah kematian Br. Lorenzo, tidak ada pikiran untuk segera memulai proses untuk kanonisasi. Baru pada tanggal 10 September 2004, permintaan untuk membuka proses beatifikasinya disampaikan kepada Uskup Agostino Vallini, yang kemudian menjadi Administrator Keuskupan Albano, di mana Br. Lorenzo meninggal. Pada tanggal 14 Mei 2005, di Katedral Albano, proses dalam tingkat Keuskupan dimulai, yang berakhir pada tanggal 25 Maret 2006. Pada hari yang sama, dokumen-dokumen yang berisi tindakan-tindakan proses dalam tingkat Keuskupan disampaikan kepada Kongregasi Suci untuk proses kanonisasi orang-orang suci. Kongregasi meminta penelitian sejarah lebih lanjut tentang kehidupan Br. Lorenzo, meminta dibentuknya Komisi Historis. Pater. Adolfo Lippi, CP dari Provinsi Maria ad Templum Praesentata (MAPRAES) ditunjuk sebagai postulator. Ia mencatat bahwa Br. Lorenzo tidak memiliki catatan harian ataupun meninggalkan tulisan tangan yang mengisahkan tentang kehidupannya karena dia buta huruf. Namun, dalam daftar komunitas yang prihatin dengan kegiatan umat yang mementingkan pembinaan iman tapi pada saat yang sama tidak ada imam maka hampir semua kalangan baik tua maupun muda Br. Lorenzo yang melayani. Para anggota Kongregasi Pasionis yang mengusulkan kerjanya pada Mei 2010, mempresentasikan hasil penyelidikan mereka kepada Kongregasi Suci untuk bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Br. Lorenzo layak digelari kudus.

 

Keutamaan-keutamaan Hidup Br. Lorenzo Marcelli

Luar Biasa dalam Rutinitas Sehari-hari

Apa yang membuat Br. Lorenzo pantas digelari kudus adalah kesaksian hidupnya yang setia, gigih dan heroik. Meskipun tidak ada karya luar biasa yang pantas mendapat penghargaan khusus dan meskipun fakta bahwa ia tidak memiliki bakat khusus, kehidupannya yang sederhana dan biasa adalah bukti keindahan spiritual yang benar-benar luar biasa mengalir dari hidupnya. Hidupnya adalah pendakian terus-menerus menuju kesempurnaan Kristiani, pendakian dengan diam, hampir tanpa disadari, yang dicirikan oleh pemenuhan harian dari komitmennya. Secara sederhana, rutinitas sebagai biarawan dilakukan setiap hari, tugas-tugas biasa, luar biasa baik. Lewat karya-karya sederhananya sebagai seorang Bruder Pasionis dia mewartakan Spiritualitas Pasionis. Pewartaannya bukan terletak pada kata-kata belaka melainkan tindakan nyata dalam pelayanan dan pengabdian kepada Allah, umat dan Kongregasi Pasionis.

 

Orang yang Hebat dan Mencintai Keheningan

Br. Lorenzo menghidupi keutamaan keheningan yang luar biasa baik. Keheningan yang mencirikan kehidupan batinnya yang terdalam adalah sarana yang diperlukan untuk menjaga kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidupnya, menjaga pandangannya agar tetap tertuju pada Tuhan. Ajaran Pendiri kami dapat membantu dalam memahami pentingnya kebajikan ini bagi Bruder Lorenzo: “sangat menghargai kebajikan suci dari kesendirian batin dan (menjalaninya) dalam keheningan suci akan iman dan cinta suci, murni dan jelas ... Oh keheningan suci, kaya dalam setiap kebajikan” (Surat St. Paulus dari Salib kepada Marianna Girelli, 11 Januari 1766). Ini adalah keheningan mistik yang tetap diam di tengah-tengah penderitaan, tidak menghakimi, juga tidak mengutuk, apa lagi mengkritik orang lain dan menyembunyikan pengalamannya sendiri tentang Tuhan. Salah satu kesaksian dari banyak orang tentang Br. Lorenzo adalah bahwa ia tidak pernah berbicara buruk tentang siapa pun, memarahi orang, membantai orang dengan kata-kata dan tidak pernah mengeluh tentang apa pun.

 

Belajarlah dari padanya Kelemahlembutan dan Kerendahan Hati

Dimensi keheningan ini dikaitkan dengan rasa kesederhanaan dan kerendahan hati yang tinggi. Menjadi buta huruf bagi Br. Lorenzo adalah suatu kondisi yang membuatnya harus menghindari kesombongan atau ambisi. Tidak diragukan lagi, tingkat kesunyian ini, kelemahlembutan dan kerendahan hati sangat disukainya sebagai ketaatan dalam pemenuhan kehendak Allah dalam hidupnya. Dia dipindahkan beberapa kali dari satu rumah retret ke rumah retret lainnya untuk menjalankan suatu tugas pelayanan. Ini adalah contoh dari ketaatannya pada kehendak pimpinan. Dalam artian ini ketaatan berarti kerelaan dan pengorbanan seorang anggota komunitas bagi komunitasnya. Kesaksian dari Br. Lorenzo ialah saat melayani orang retret entah di dalam ataupun di luar komunitas saat itu juga ia harus meninggalkan komunitasnya untuk sementara waktu, setelah selesai melayani baru ia kembali ke komunitas lagi. Di sisi lain ia harus berkorban meninggalkan komunitas, namun di sisi lain ia juga tidak boleh mengecewakan orang-orang yang ia layani terlebih anak-anak. Kepatuhan dan kelemahlembutan yang terpancar dari Br. Lorenzo membuat siapa saja yang berkenalan dengannya ingin bergaul dengan dia karena mereka mengalami kelemahlembutan hatinya.

 

Dari Kristus hingga Orang Suci

Ibadatnya kepada Tuhan diperluas ke pengabdian kepada Bunda Maria dan para kudus Allah. Banyak saksi ingat bahwa ketika dia bermisi, dia akan berbicara tentang Bunda Maria dan akan mencium gambar Bunda Maria, rahmat yang selalu dia bawa bersamanya. Itu adalah gerakan sederhana yang dianggap sebagai tanda berkat bagi setiap keluarga yang ia jumpai.

 

Cinta untuk Melayani Retret dan Komunitas

Dia melayani tamu retret dan komunitas di mana dia ditugaskan dengan segenap kekuatannya, sambil tetap rendah hati dalam segala hal. Dalam laporan keuangan provinsi dan rumah-rumah karya, ada catatan setiap barang yang diperlukan, dari waktu ke waktu, pimpinan memberi kepercayaan penuh kepada Br. Lorenzo dalam megelola uang untuk berbagai kebutuhan seperti: kebutuhan perjalanan, kebutuhan medis umum, kebutuhan di dapur, bahan untuk membuat manik-manik rosario dan lain-lain. Juga mengingat pendapatan yang diterima dari Provinsi dan derma para donatur. Dia tidak pernah menyimpan apa pun untuk dirinya sendiri. Sebuah keutamaan hidup yang patut kita teladani dari Br. Lorenzo.

 

Cinta kepada Orang Miskin

Br. Lorenzo memenuhi perintah cinta kasih, terutama dengan menunjukkan kepedulian terhadap orang-orang miskin, dengan rela menyediakan kebutuhan hidup bagi mereka, mendengarkan mereka, menghibur mereka dengan ajaran-ajaran iman dan menolong mereka jika memungkinkan. Dia sangat manusiawi, mampu membangun dialog persaudaraan dengan semua orang yang dia jumpai, baik orang percaya atau tidak percaya, baik kaya atau miskin. Dia tidak memilih-milih dalam berelasi, dia tidak mengintimidasi atau tidak menyingkir terhadap mereka yang miskin, lemah dan menderita. Dia selalu sadar akan kehadiran Tuhan, dia adalah manusia yang sederhana, mampu mengetahui bagaimana menghadapi situasi dalam segala jenis persoalan.

 

Pesannya untuk Kita

Br. Lorenzo melayani bukan hanya dengan kata-kata, tetapi berusaha untuk mewujudnyatakan setiap perkataan itu dalam tindakan dan perbuatan nyata. Sejak menjalani tugas pertama sebagai Bruder yang berkarya di komunitas biara pertama di Brazil, ia selalu melayani dengan penuh sukacita. Ia tidak hanya bekerja di dalam komunitas ataupun di rumah retret, tetapi ia juga selalu berada di tengah-tengah umat yang miskin, menderita dan cacat secara sosial. Ia akan berada di pemukiman kumuh, panti rehabilitas atau rumah sakit. Bahkan ia hidup sebagaimana mereka. Cara hidup yang seperti itu juga masih menjadi gayanya hingga menjelang ajalnya. Kebersamaan hidup tanpa sekat dengan mereka yang dilayani menjadi ruang baginya untuk belajar memahami dengan benar kehidupan, mimpi-mimpi dan teriakan mereka yang luka.

Br. Lorenzo selalu berprinsip bahwa, ”seseorang tidak bisa berbicara tentang kemiskinan jika ia tidak mengalami kemiskinan melalui suatu keterhubungan langsung dengan kemiskinan itu sendiri. Pergilah ke sana, hidupilah di sana, pahami persoalannya dari dalam sana dan belajarlah!”

Kenyataan hidup yang kita hadapi begitu kompleks, baik sebagai Bruder yang berkarya, Romo, Frater, Suster bahkan awam sekalipun. Ada baiknya kita juga berusaha untuk menghadapi persoalan hidup ini dengan menerapkan pola yang sama seperti Br. Lorenzo. Kalau ingin menjadi pelayan, biarkan tubuh kita “kotor”. Untuk bisa memahami suatu situasi atau orang-orang di sekitar kita, permasalahan dari sudut pandang mereka dan lakukanlah yang terbaik untuk melayani setiap orang yang kita jumpai dengan rendah hati.

 

Salam Passio!

 

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment