RENUNGAN HARI RABU ABU (17 FEBRUARI 2021)

Author Fr. Dismas Kwirinus, CP | Rabu, 17 Februari 2021 14:19 | Dibaca : : 51

 

 

BACAAN I                            : NUBUAT YOEL 2:12-18

MAZMUR TANGGAPAN       : MAZMUR 51:3-6A.12-14-17

BACAAN II                           : 2 KORINTUS 5:20 – 6:2

BACAAN INJIL                     : MATIUS 6:1-6.16-18

 

PUASA DAN PANTANG MENGINGATKAN KITA BAHWA HIDUP DAN KEBUTUHAN MANUSIA DITERIMA DARI KEMURAHAN ALLAH

Hidup umat manusia di dunia ini adalah peziarahan atau proses menuju kematangan, kesempurnaan untuk menjadi semakin manusiawi. Manusia itu diciptakan Allah sebagai pribadi yang unik, proses perkembangan itu haruslah dilakukan dengan sadar oleh manusia sendiri. Manusia harus menyadari bahwa dia mempunyai tujuan dan untuk sampai pada tujuan itu, manusia sendiri yang harus memperjuangkannya.

 Namun, karena dosa memasuki kehidupan di dunia ini, banyak aspek yang menyebabkan manusia menghadapi hambatan, sehingga menjadi manusia yang semakin manusiawi itu merupakan perjuangan yang tidak mudah sepanjang hidup dan menyebabkan perjuangan itu ditinggalkan oleh banyak orang.

Masa Prapaskah yang dibuka dengan, Hari Rabu Abu mengingatkan umat Kristiani bahwa Masa Prapaskah ini diadakan oleh Gereja untuk membantu perjuangan kita – sebagai orang beriman Kristiani yang sangat penting untuk mencapai keselamatan. Kita diingatkan bahwa perjuangan itu bukan untuk sesuatu yang duniawi, dihormati dan dipuji-puji oleh orang lain, tetapi perjuangan agar Allah berkenan. Sebab Allah tidak menginginkan manusia binasa oleh dosanya sendiri.

 

"...Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu… apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa… Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:3-5).

 

Menyimak teks singkat ini kita lalu mengerti bahwa sejak awal manusia jatuh ke dalam dosa Allah selalu menolong manusia, bukan hanya dengan janji dan teladan Kristus yang datang sebagai manusia untuk memenuhi janji Allah, tetapi juga dengan rahmat dan karunia-Nya berkat Kristus pula, sebagaimana janji-Nya menyertai kita sampai akhir zaman.

Para saudara yang terkasih, masa ini dilambangkan dengan goresan abu pada dahi umat Katolik. Menyimak situs resmi Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), abu jadi tanda kerapuhan manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dosa sekaligus tanda pertobatan. Merujuk pada Kitab Suci, abu juga jadi tanda pertobatan di Kota Niniwe. Laman Katolisitas mencatat, pada Kitab Kejadian (Kej.2:7), umat Katolik diingatkan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah dan suatu ketika akan tiada lalu kembali menjadi debu.

Abu yang dioleskan di dahi bukan dilakukan tanpa makna. Mengutip berbagai sumber, abu di dahi membantu umat untuk mengenali kembali area spiritual. Dahi dan kepala adalah tempat pikiran dan akal budi bekerja.

Terhitung sejak Rabu Abu, umat Katolik akan melangsungkan masa pertobatan selama 40 hari tanpa menghitung hari Minggu. Masa ini akan genap pada Sabtu sebelum perayaan Minggu Palma. Angka 40 mengingatkan umat Katolik akan perjalanan bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun dan puasa Yesus selama 40 hari.

40 hari itu menunjukkan waktu. Itulah pralambang bahwa hidup di dunia ini adalah hidup dalam waktu. Selama hidup dalam waktu, kita tak henti-hentinya menghadapi perkembangan atau perubahan dan pencobaan hidup. Hidup manusia yang berada dalam proses manusiawi ini, hendaknya mengarah kepada hidup abadi, dilaksanakan secara nyata dengan perbuatan mati-raga.

“Mati-raga” ini sebenarnya pelaksanaan baptis, yaitu menenggelamkan hidup ini dalam kematian Kristus, merupakan ungkapan tobat, yaitu perubahan total dari menuruti dorongan nafsu ke menuruti dorongan Roh Cinta Kasih.

Selamat memasuki Masa Prapaskah – masa pertobatan kita dimulai.

 

Salam Passio! 

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

Leave a comment