"Aku Berkata Kepadamu, Sesungguhnya Hari Ini Juga Engkau Akan Ada Bersama-sama Dengan Aku di Dalam Firdaus" (Bagian Kedua dari Tujuh Refleksi)

Author | Rabu, 22 Maret 2017 21:09 | Dibaca : : 7098
Ilustrasi Ilustrasi

Ketika Yesus tergantung di kayu salib, Ia diejek oleh para pemimpin agama Yahudi, para prajurit Romawi dan sebagian besar rakyat yang menyaksikan peristiwa itu di Gogota. Salah seorang penjahat yang disalibkan bersama dengan Dia menambah jumlah cemoohan dan ejekan itu. Namun, penjahat yang lain merasakan bahwa Yesus sedang diperlakukan tidak adil. Ia menegor penjahat yang menghujat Yesus itu dan kemudian setelah berbicara bahwa Yesus tidak bersalah dan tidak layak dihukum, ia memohon dengan rendah hati, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja" (ayat 42).

Tersentuh oleh sikap tobat dan pengakuan iman penjahat itu, Yesus berpaling kepadanya dan berkata, "Aku berkata kepadamu (aku meyakinkanmu), sesungguhnya hari ini juga Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43).

Kata Firdaus berasal dari kata Yunani paradeisos, yang berarti "taman sukacita," digunakan dalam Perjanjian Lama terjemahan Yunani untuk menggambarkan Taman Eden. Dalam Yudaisme pada zaman Yesus kata Firdaus itu terkait dengan surga dan juga dengan masa depan ketika Allah akan memulihkan segala sesuatu untuk menyempurnakan Taman Eden. Firdaus juga dianggap sebagai tempat di mana orang-orang benar tinggal setelah kematian. Hal inilah yang dimaksud Yesus ketika Ia menggunakan kata Firdaus pada bagian ini.

Dalam kalimat ini kita jumpai salah satu ayat yang paling mengejutkan dan sekaligus menggembirakan di seluruh Alkitab. Yesus berjanji bahwa penjahat akan berada bersama-Nya di surga. Namun, kita jangan salah mengerti dan berpikir kalau begitu semua penjahat akan masuk surga. Tidak demikian. Penjahat yang akan berada bersama Yesus di dalam Firdaus adalah penjahat yang menyadari kesalahannya dan bertobat. Penjahat yang akan berada bersama Yesus di dalam Firdaus adalah penjahat yang menaruh kepercayaan kepada Yesus meskipun dinyatakan pada saat-saat terakhir hidupnya di dunia. Kata-kata “ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja"   adalah sebuah pengakuan iman yang sangat besar dan penting. Dengan ungkapan itu ia mengakui Yesus sebagai raja atasnya, dan raja atas dunia ini.

Pertobatan dan pengakuan iman penjahat itu mendapatkan tanggapan dari Yesus, lebih dari yang pernah ia bayangkan. Penjahat itu meminta Yesus untuk mengingat dia nanti, dalam sepuluh tahun atau lima belas tahun atau lima puluh tahun atau di masa yang akan datang pada saat Ia akan datang kembali untuk mendirikan kerajaan-Nya. Tetapi Yesus meyakinkan penjahat itu bahwa Ia akan membawanya ke surga bukan nanti, dalam sepuluh tahun atau lima belas tahun atau lima puluh tahun atau di masa yang akan datang melainkan hari itu juga, “…hari ini juga Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." 

Kisah penjahat yang bertobat ini menunjukkan bahwa sikap rendah hati menyenangkan Tuhan. Orang banyak, para hakim, tentara dan penjahat lain yang disalibkan bersama Yesus mengejek-Nya. Mereka tidak dapat melihat siapa Yesus sebenarnya karena mereka termakan oleh kesombongan, kebencian dan egoisme. Penjahat itu, dalam kerendahan hatinya sebagai seorang yang pernah gagal melakukan kebaikan dapat melihat siapa Yesus sebenarnya.

Meskipun kita harus belajar dan berusaha menciptakan teologi yang benar dan meskipun kita harus menjalani hidup kita setiap hari dengan benar sebagai murid-murid Yesus, pada akhirnya, hubungan kita dengan Tuhan datang dari kepercayaan sederhana. "Yesus, ingatlah aku," demikian kita menangis dan berseru. Dan Yesus, mewujudkan rahmat Allah, berkata kepada kita, "Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Kita dipersilakan ada bersama dengan Dia di dalam Firdaus bukan pertama-taman karena kita memiliki teologi yang benar dan hidup yang benar, tetapi karena Allah adalah penyayang dan kita menaruh kepercayaan kita kepada Yesus. Jadi, kita diselamatkan dan akan ada bersama-sama Yesus di dalam Firdaus, pertama-tama karena Allah mengasihi kita, selanjutnya karena iman dan perbuatan benar berjalan bergandengan tangan.

Akhirnya, tanggapan Yesus atas permintaan penjahat yang bertobat itu, kiranya menyadarkan kita bahwa selalu ada harapan untuk kita mendapatkan belaskasihan dan pengampunan-Nya bahkan ketika segalanya terlihat mustahil. Kisah ini mengundang kita untuk dengan segala kerendahan hati, di setiap waktu, datang kepada Yesus untuk memohon pengampunan, penyembuhan dan Firdaus.

Salam Passion!

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment