MARAKNYA KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM KEHIDUPAN MODERNITAS Featured

Author Fray Krisanto M. Lafu Babu, OSM Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana. | Kamis, 11 Mei 2023 08:39 | Dibaca : : 560
MARAKNYA KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM KEHIDUPAN MODERNITAS private folder

MARAKNYA KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM KEHIDUPAN MODERNITAS

(Sebuah Telaah Filsafat Komunikasi Dalam Perspektif Onong Uchjana Effendy)

Oleh: Fray Krisanto M. Lafu Babu, OSM

 

Kondisi dan zaman modernitas sangat jelas memberikan dampak positif dan membawa manusia kepada hal-hal yang perlu dibaharui atau direvisi. Perkembangan zaman ini diakui dan dikenal secara familiar dengan sebutan milenium atau modern. Perkembangan positif dari zaman modernitas ialah; menjangkau bidang kehidupan manusia sehari-hari yang bersifat pribadi atau persolanlitas (Sztompka Piotr, 1993: 87). Ruang gerak aspek modern lebih hebat daripada kebanyakan ciri perubahan yang terjadi dalam masa-masa sebelum modernisasi. Ciri umum modernitas tercermin pada kehidupan sosial.

Keberpihakan teori sosial dalam mengawal perkembangan zaman modernisasi merupakan titik awal untuk melihat serta meneliti situasi kehidupan manusia. Teori sosial mencerminkan optimisme tinggi, terutama mencerminkan perasaan elite yang kian menanjak. Keyakinan terhadap nalar, ilmu pengetahuan, efisien dan efektifnya kapitalisme sebagai penjaga kemajuan permanen, telah tersebar luas. Akan tetapi hal-hal tersebut hanya bergerak sepintas, setelah kenyataannya terbongkar dan muncullah anggapan benar bahwa; modernisasi menimbulkan efek ambivalen (bertentangan, berlawanan pada situasi yang sama). Selain menguntungkan, modernitas juga merusak, dan kerusakanya sangat tragis (Sztompka Piotr, 1993: 91).

Maraknya komunikasi atau dialog masa kini merupakan cuplikan atau salah satu dampak yang lahir dari perkembangan zaman tersebut. Onong Uchjana Effendy[1], mengutip pandangan Joseph A. Devito dalam bukunya yang berjudul “The Interpersonal Communication Book” (Onong, 1993: 59), mengatakan bahwa; “proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek atau dampak umpan balik atau feedback (the process of sending and receiving messages between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback). Hal ini secara jelas mau menyatakan bahwa komunikasi yang ada dan berasal dari dua pribadi merupakan suatu percakapan selayaknya suami-istri, atau pasangan pembicara yang sangat akrab.

Poin utama dalam ranah komunikasi ialah keterbukaan antar pribadi tanpa menutu-nutupi hal-hal lainnya. Situasi komunikasi yang dibangun dalam dua pribadi atau lebih mempunyai tujuan yang kokoh dan pasti bahwa; yang menjadi kunci utamanya ialah prinsip-prinsip dialogis. Sebab, komunikasi dialogis lebih penting daripada komunikasi monologis. Suasana yang terkandung dalam komunikasi monolog cenderung pada seorang pembicara secara monoton, tanpa ada interaksi dari pihak lainnya. Realitas kehidupan manusia masa kini sangat menonjol pada kegiatan komunikasi yang marak dan rentan untuk dilakukan atau dipraktekkan.

Dialog antar pribadi merupakan bentuk komunikasi out persona dan sebagai usaha untuk menghadirkan moment interaksi yang baik dan akurat. Keterlibatan manusia dalam situasi komunikasi ini bersifat ganda, atau seseorang dituntut untuk memerankan dua aktivitas yakni sebagai pembicara dan pendengar. Suatu komunikasi dialogis nampak akurat dan relevan, jikalau pelaku komunikasi menghidupi skyle mutual understanding (saling memahami atau mengerti). Manusia dituntut memahami pribadi yang lainnya dan menghadirkan situasi saling mencintai serta berempati pada setiap komunikan lainnya tanpa bercermin pada situasi latar belakang, melainkan menjunjung tinggi hak dan kebebasan komunikasi antarpribadi. Mc. Crosky, Larson, dan Knapp dalam bukunya “An Introduction to Interpersonal Communication” mengungkapkan bahwa suatu komunikasi yang sangat efektif ialah mengusahakan ketepatan (accuracy) antara komunikator dan komunikan (Effendi, Uchjana, Onong,1993:65).

Realitas kehidupan masa kini atau generasi milenial ialah, tindakan komunikasi yang tidak lagi berjalan secara mutlak dan efektif. Dalam penelitian, beberapa ahli menyatakan bahwa tidak mungkinlah seseorang dapat membangun atau menyelesaikan sebuah dialog dengan metode yang baik dan efektif (Onong,1993:45). Secara garis besar mau mengatakan bahwa ada begitu banyak hambatan dan fenomena-fenomena yang berkemungkinan besar merusak komunikasi.

Dengan kehadiran media sosial masa kini mempunyai dampak  atau pengaruh besar pada komunikasi milenial. Membangun usaha untuk mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Pelaku-pelaku milenial lebih memfokuskan diri pada kepentingan media atau sarana digital daripada memberikan waktu bagi sahabat atau pasangan komunikasi yang hadir bersamanya. Pribadi tersebut tidak memberikan respon partisipasi dalam suasana komunikasi atau dialog secara bebas, melainkan terisolasi, terasing dari kelompok atau komunitasnya. Fokus pada kepentingan diri sendiri akan membuat seorang selektif dalam mebangun dialog yang baik. Ia akan terlibat dan bertindak respect (menghormati), apabila hubungan tersebut memberikan ruang gerak dan memenuhi kepentingannya. Kepentingan diri dalam suasana komunikasi dapat mengganggu dan mempengaruhi perhatian komunikan lainnya, cenderung membosankan, dan membuat diri dialianasikan (diasingkan dan terasingkan) dari lingkungan komunikasi. Herbert Marcuse menyebut masyarakat modern (pribadi masa kini) sebagai “proyek gagal” (Sztompka Piotr, 1993: 91). Akibatnya ikatan antarpribadi yang telah dicita-citakan terputus. Maka, muncullah kecenderungan pada setiap pribadi, lenyapnya kelompok atau komunitas kecil, menimbulkan kekecewaan dan penderitaan mental serta psikologis.

Berkembangnya kesadaran mengenai sisi suram modernitas, maka muncullah pandangan bahwa jalan yang dilalui oleh masyarakat modern terutama dalam aspek komunikasi harus diubah secara radikal. Tentunya hal ini bersumber pada realitas masyarakat tradisional yang sangat berpengaruh besar dan memberikan kontribusi yang baik bagi lingkungan dan situasi kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, kita harus melihat kembali pernyataan Peter Worsley: kemanusiaan tak lagi sekadar sekumpulan statistik atau sebuah kategori filosofis dan ideologis. Kemanusian sudah berubah. Zaman telah berlalu dan menjadi suatu prinsip sosiologis yang nyata, meliputi semua orang yang hidup di bumi. Perubahan dan waktu merupakan dua unsur hakiki yang selalu ada dalam kehidupan manusia, begitu pun dengan komunikasi dan dialog. Maka, luangkanlah waktu pada komunikasi dan dialog dengan pribadi yang ada dalam realitas hidup, bukan yang hadir dalam ilusi semata. Hadirlah dalam relasi saat duduk bersama orang tua, sahabat, rekan kerja. Bukan mementingkan relasi dua jempol untuk mendekatkan yang jauh. Percayalah bahwa ketika kita bisa memetingkan yang dekat, maka yang jauh pun menjadi penting juga.

 

[1] Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A. adalah salah satu tokoh Ilmu Komunikasi di Indonesia. Beliau pernah menjabat Dekan Fikom Universitas Padjadjaran, pada periode 1975-1982.

Leave a comment