ADA HIKMAT DI BALIK PENGALAMAN PENDERITAAN

Author Fr. Vian Loka, CP | Rabu, 17 Februari 2021 12:25 | Dibaca : : 204
ADA HIKMAT DI BALIK PENGALAMAN PENDERITAAN

       Eksistensi manusia di bawah kolong langit ini adalah sebuah pengalaman peziarahan. Berbagai pengalaman yang membentuk hidup manusia harus dijadikan sebagai dasar untuk memahami keberadaanya di dunia secara lebih hakiki. Baik, buruk, susah, senang, sedih, gembira dan pahit, manis merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan dalam sebuah proses dan perjuangan hidup seseorang di dunia ini. Semuanya adalah sebuah proses hidup yang membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang lebih matang dalam mendewasakan diri. Dengan demikian, kita tidak perlu memilah-milah mana yang harus menjadi prioritas hidup. Tetapi sadar atau tidak hal yang paling dihindari manusia adalah penderitaan. Karena mayoritas manusia berasumsi bahwa penderitaan merupakan sebuah malapetaka di dalam hidup dan keberadaanya di dunia ini. Sebagai pengikut Kristus hidup dan keberadaan manusia tidak luput dari penderitaan dan salib, kapan saja dan di mana saja. Selama kita masih berziarah di dunia ini, Kristus tidak mencabut tidak mengenyahkan atau membuang penderitaan dari perjalanan dunia dan manusia.  

       Penderitaan merupakan bagian dari pengalaman hidup manusia. Tidak ada manusia yang tidak mengalami penderitaan, walaupun penderitaan itu sendiri mempunyai tingkat besar-kecil dan bobot berat-ringannya berbeda-beda untuk setiap orang. Sekalipun penderitaan itu adalah sebuah pengalaman hidup manusia, namun tidak semua orang bersikap positif dan responsive terhadap penderitaan. Oleh karena itu, manusia perlu melihat, menyikapi dan memaknai hidup ini tanpa harus lari dari realitas atau kenyataan hidup ini.

       Sebagai bagian dari pengalaman hidup manusia diajak untuk mengambil hikmah dari penderitaan itu. Sebab, sebagai pengikut kritus kita harus ikut andil dalam penderitaan Yesus. Sebagagaimana Sabda Yesus “setiap orang yang mau mengikuti Aku; ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (mat 16:24). Sabda ini mau mengingatkan kita bahwa hanya dengan memikul salib, kita dapat menjadi pengikut kristus. Lebih dahulu memikul salib, baru kita layak mengikuti Dia. Salib mendahului panggilan untuk mengikuti Tuhan Yesus. Karena itu, kita perlu bertobat guna menemukan sikap yang tepat ketika berhadapan dengan pengalaman penderitaaan dalam hidup. Hal yang perlu diperhatikan bagi kita pengikut Kristus ialah kita perlu menyikapi dengan baik dan benar berbagai macam bentuk penderitaan dan salib hidup dalam selama kita masih berziarah di dunia ini. Jalan inilah yang membawa kita pada hubungan yang lebih intim dengan Kristus. Dengan demikian, persatuan dengan sengsara Kristus adalah sikap yang fundamental yang harus dibangun untuk menghadapi dan mengatasi segala bentuk penderitaan di dunia ini. “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18). Tidak semua manusia menyikapi penderitaan itu sebagai bagian dari hikmat Allah. Bahkan mayoritas manusia berasumsi bahwa penderitaan sebagai hukuman tuhan bagi manusia atas dosa dan perbuatan manusia yang tidak memperhatikan “rambu-rambu Tuhan”. Perlu disadari juga bahwa penderitaan itu sendiri merupakan suatu ujian dalam setiap pengalaman peziarahan hidup. Karena dengan ikut ambil bagian dalam penderitaan dan salib kristus kita bisa mengukur ukuran yang paling tepat dari kualitas perjuangan dan kecintaan akan cita-cita hidup dan panggilan kita di dunia ini. Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap yang tepat dan benar dalam menyikapi penderitaan dan salib itu sendiri.  

        Dalam menyikapi penderitaan sabar adalah sikap yang paling tepat dan benar dalam menghadapi penderitaan dan salib hidup. Karena dengan bersabar kita akan bartahan dalam setiap ujian hidup yang kita hadapi. Walaupun pada hakikatnya penderitaan dan salib sudah menjadi beban berat bagi manusia. Banyak mengeluh membuat beban hidup atau penderitaan akan semakin besar dan berat bahkan akan semakin sulit untuk dihadapi. Semakin sulit bagi kita untuk menemukan jalan kebijaksanaan dari salib dan penderitaan itu. Untuk itu, bersabarlah dalam menghadapi penderitaan, karena sabar dalam menghadapi penderitaan membuahkan ketekunan, tahan uji dan pengharapan menuju cita-cita dan keselamatan hidup.

 

Salam Passio!

 

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

 

Leave a comment