TERANG DI BALIK PENDERITAAN

Author Fr. Ely Trisno, CP | Selasa, 27 Oktober 2020 12:11 | Dibaca : : 49
TERANG DI BALIK PENDERITAAN

Ketika kita berbicara mengenai salib, kita pasti membayangkan seperti apa itu salib. Hal pertama yang ada dalam benak kita, kita membayangkan bahwa salib itu berupa sebuah kayu yang diberi palang. Orang-orang jaman sekarang melihat salib itu adalah tempat dimana Yesus dipaku dan mati. Bagi kita orang Kristen salib merupakan sumber keselamatan di mana Yesus Tuhan mengorbankan diri untuk penebusan dosa umat manusia. Berkat salib orang yang percaya kepada Yesus memperoleh keselamatan. Salib menjadi sumber kemuliaan. Bagi orang Kristen salib juga digambarkan sebagai penderitaan.

Sebagian besar kita, jika mengalami penderitaan, kita akan mencari sesuatu yang akan menyenangkan diri kita. Padahal sesuatu yang membahagiakan hanya bisa kita temukan pada saat menerima penderitaan itu sepenuh jiwa. Bukan mencari lawan dari penderitaan itu. Begitu pula, ketika kita sedang mengalami kebahagiaan, kita menganggap bahwa ia akan ada selamanya dalam hidup kita. Padahal kebahagiaan maupun penderitaan itu akan selamanya silih-berganti. Oleh karena itu, lebih elegan jika kita mampu mensyukuri semuanya itu, sebagai upaya memperoleh berkat dan hikmat atas penderitaan dan kebahagiaan yang kita alami. Berangkat dari berbagai penderitaan yang kita alami kita dapat belajar dari kisah Ayub bagaimana Ayub menerima setiap penderitaannya dengan sepenuh jiwa.

Kisah Ayub dalam Alkitab menyadarkan kita bahwa penderitaan itu bukanlah sesuatu yang terencana. Penderitaan itu bisa saja datang dengan tiba-tiba tanpa kita sadari dan menjadi sebuah mimpi buruk bagi kita. Seandainya penderitaan itu terencana mungkin kita bisa bersiap-siap untuk menerimanya atau setidaknya kita sudah siap untuk menanggungnya. Sebagai manusia lemah setiap kita tidak bisa terlepas dari penderitaan hidup kita. Penderitaan merupakan ujian yang diberikan kepada kita. Dengan penderitaan yang kita alami Tuhan mau menguji kita dan memurnikan kita.

Terlepas dari penderitaan yang kita alami, di baliknya Tuhan juga ingin mengajarkan kita menjadi manusia yang peka dengan sesama yang menderita. Sebagai manusia sosial kita diajarkan untuk memiliki rasa simpati terhadap sesama. Dalam hal ini kita bisa mengambil hikmah dari kisah orang Samaria yang baik hati dalam injil. Di manakah posisi kita pada saat kita melihat orang yang mengalami penderitaan apakah kita menjadi orang Samaria yang baik hati atau malahan kita menjadi tiga orang sahabat Ayub dalam kisah Ayub.

Dalam kisah ketiga sahabat Ayub yang datang hendak memberi penghiburan bagi Ayub yang sedang mengalami penderitaan. Namun sebaliknya bukanlah penghiburan yang mereka berikan malainkan mereka makin menambah penderitaannya. Perspektif mereka terhadap penderitaan Ayub menambah beban bagi Ayub. Kita bisa saja menjadi seperti sahabat-sahabat Ayub. Kita bukannya mau menghibur tetapi malah menambah beban bagi orang yang menderita. Setiap perkataan kita bisa saja menjadi beban bagi orang yang sedang mengalami penderitaan.

Pemilihan kata yang tepat pada saat kita mendampingi orang yang menderita sangat penting agar mereka perkataan kita tidak menambah beban baginya. Tidaklah gampang dan tidaklah mudah untuk memberi penghiburan kepada orang-orang yang sedang mengalami dukacita yang dalam. Memang tidak gampang dan tidak mudah memberi jawab “why” dan “why me” kepada mereka yang menanggung semua itu. Kita perlu menyaring setiap perkataan kita sebelum kita memberi jawaban kita jangan cepat-cepat memberi jawab seolah-olah kita tahu semua jawabannya, apalagi sembarangan menyebut mendapat jawaban.

Penderitaan bukanlah sebuah pilihan dari setiap kita. Tidak ada di antara manusia di bumi ini yang memilih penderitaan. Namun dalam ajaran kepercayaan kita penderitaan adalah sebuah sarana Allah untuk memurnikan kita. Kita percaya bahwa dibalik setiap penderitaan ada hikmat yang tak ternilai. Kita dituntut untuk mampu melihat cahaya dibalik penderitaan itu, dengan demikian kita tidak sembarangan memberi jawaban atau menuduh bahwa penderitaan itu merupakan hukuman yang diberikan Allah.

 

Salam Passio!

 

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

Leave a comment