PEMBAHARUAN HIDUP DALAM KONTEKS PENCINTA KRISTUS TERSALIB

Author Fr. Dismas Kwirinus, CP | Senin, 02 November 2020 16:45 | Dibaca : : 103
PEMBAHARUAN HIDUP DALAM KONTEKS PENCINTA KRISTUS TERSALIB

Tulisan ini membahas tentang “Pembaharuan hidup dalam konteks pencinta Kristus Tersalib”. Ada dua hal pokok yang disebutkan , yaitu ‘pembaharuan hidup’ dengan ‘pencinta Kristus Tersalib’ dan ‘dalam konteks’. Mengapa pembaharuan itu perlu? Apakah spiritualitas pasionis selama ini tidak lagi relevan? Apa pula yang dimaksud dengan ‘pembaharuan hidup’? Apakah ini kebutuhan yang urgen dan nyata? Mengapa?

Pertanyaan-pertanyaan menukik dan mengugat seperti ini bisa diperpanjang lagi. Sebagai seorang pencinta Kristus Tersalib, kita diajak untuk memeriksa ulang semangat kita secara kritis dan mengadakan sejumlah pembaharuan kalau diperlukan. Maksudnya, diharapkan ada langkah-langkah konkret selanjutnya. Nasihat Yesus ini, “Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula” (Luk 5:38), seakan-akan meneriakan kebutuhan ini.

 

Menimba Kembali Kenangan Akan Sengsara Kristus

Menurut Santo Paulus dari Salib, tujuan mengapa Kongregasi Pasionis didirikan dan dikembangkan dalam Gereja adalah untuk memajukan di antara umat “Kenangan akan Sengsara Yesus Kristus” serta dengan maksud supaya peristiwa itu dihidupkan kembali dalam Gereja. Dalam usahanya itu beliau berharap agar Gereja dapat mengalami Kristus yang menderita dalam manusia yang menderita, miskin dan terlantar serta agar penderitaan masa kini berhasil memberi makna kepada kemiskinan dan penderitaan yang dialami setiap orang. Harapan selanjutnya adalah agar setiap orang dapat membangkitkan keyakinan bahwa Allah dan Kristus menderita bersama mereka (Algeni, 1994:17).

Berangkat dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa Santo Paulus dari Salib menginginkan agar anggota kongregasinya yang mengikrarkan kaul khusus yaitu kaul kenangan akan Sengsara Kristus menemukan di dalam hati orang “ingatan yang berkesinambungan tentang Sang Tersalib”. Itulah sebabnya sehingga ia selalu menekankan agar para religiusnya mempunyai sikap yang baik dan kemampuan untuk memahami dengan jelas identitas pasionis, serta mempunyai identitas Yesus Tersalib dalam seluruh hidupnya. Semua itu bukan hanya sebagai cita-cita belaka, tetapi secara konkret dalam hidup yaitu kesanggupan untuk hidup hanya dengan Allah, demi Allah dan untuk Allah (Fabiano, 1988:28).

Usaha tersebut harus menjadi ciri khas kongregasi serta menjamin bukan hanya pertobatan yang ajaib para pendosa, tetapi juga perkembangan hidup Kristen ke arah kesempurnaan bagi banyak orang. Jadi agar anggota kongregasi yang sederhana itu terhindar dari gangguan manapun yang dapat memperlambat mereka ke jalan kesempurnaan. Karenanya mereka hidup terpisah dari dunia. Itu semua dilakukan guna memperoleh fasilitas pengudusan diri demi kepentingan bersama. Sasaran lain yang ingin dicapai adalah kemuliaan Allah dan keselamatan diri melalui regula dan konstitusi. Setiap anggota juga mempunyai tujuan khusus yaitu mewartakan Injil Sengsara Kristus kepada dunia yang dengan cara hidup dan karya, serta berusaha mendorong para beriman merenungkan misteri sengsara dan wafat Yesus Kristus serta mengadakan doa khusus yaitu dengan wujud menolong mereka agar mampu dan mau mengadakan kebaktian ini.

 

Cita-cita Santo Paulus dari Salib

Pendirian sebuah lembaga atau organisasi oleh seseorang pasti mempunyai tujuan yang mau dicapai, tentunya dengan maksud supaya dilaksanakan oleh para pengikutnya. Begitu juga dengan Kongregasi Pasionis yang didirikan oleh Santo Paulus dari Salib, beliau menginginkan suatu tujuan. Karena itu ia membuat aturan-aturan. Aturan hidup itu termuat dalam anggaran dasar yang disebut regula. Hal itu ia buat dengan harapan dikembangkan dan dilaksanakan oleh para pengikutnya.

Cita-cita utama Santo Paulus dalam mendirikan Kongregasi adalah mewartakan kenangan akan Sengsara Yesus Kristus kepada umat dengan cara dan bentuk yang ditentukan dalam regulanya (Ranochiaro, 1987:14). Cara dan bentuknya perlu diperbaharui sejauh yang diperlukan sesuai dengan konteks zaman. Untuk mencapai cita-cita itu memang tidak mudah. Karena itu Paulus hanya memberi petuah-petuah yang berupa nasihat dan anjuran tentang apa yang harus dilakukan para pengikutnya. Paulus dari Salib juga mendesak mereka agar tempat pribadi atau kamar benar-benar menjadi tempat tinggal dan tempat berhubungan dengan Yesus, Paulus dari Salib mengatakan bahwa: “Waspadalah bila berada sendirian terasing dari kesadaran atau melakukan sesuatu yang bukan Allah. Haruslah hidup dalam kehadiran Allah, mendengar-Nya dan berbicara dengan-Nya” (Ranochiaro, 1987:14).

Dalam usaha mencapai cita-citanya, Santo Paulus dari Salib selalu menekankan klausura yakni agar setiap orang yang datang menjaga kesunyian yaitu dengan berbicara pelan-pelan, berjalan pelan-pelan, halus dan sopan. Kesunyain sangat ditekankan oleh Paulus dari Salib agar setiap religius dapat hidup dalam hadiran Allah dan dapat dengan sungguh-sungguh menghayati kesengsaraan Yesus Kristus. Para pencinta Kristus Tersalib berusah untuk mengambil bagian dalam pendertiaan Kristus. Namun, menjadi pasionis pertama-tama bukan mau menderita seperti Dia, melainkan bagaimana kita harus mencintai sebagaimana Allah mengasihi kita dari diri Putera-Nya (Bdk. Konstitusi Pasionis. V).

 

Tugas Para Pencinta Kristus Tersalib

Melalui tulisan ini saya mengajak pembaca untuk memikirkan dan melihat, mengingat kembali spiritualitas pasionis di tempat kita masing-masing (dalam konteks). Untuk maksud itu, pertama, kita perlu memperbaharui semangat kita atau hidup kita, kita perlu menelisik pergumulan dan perjuangan Santo Paulus dari Salib dalam mendirikan kongregasi, apa tujuannya, apa cita-citanya. Perlu dipertegas posisi kita sebagai subjek pencinta Kristus Tersalib dan dipelihara komitmen untuk merenungkan, menghayati dan mewartakan spiritualitas Sengsara Yesus.

Kedua, perlu dicermati lagi ‘cita-cita sang pendiri’. Cita-cita utama Paulus dari Salib mendirikan kongregasi adalah mewartakan kenangan akan Sengsara Yesus Kristus kepada umat dengan cara dan bentuk yang ditentukan dalam regula. Regula tidak bisa lagi hanya dimengerti semata-mata sebagai rumusan baku yang normatif, yang harus dipelihara dengan tekun dan setia. Bukankah setiap spiritualitas yang hidup itu mengungkapkan pergumulan komunitas beriman dengan Allah di dalam waktu dan tempat tertentu?

 

Sumber Bacaan:

Algeni, Rafael. Santo Paulus dari Salib, Pencinta Tuhan Tersalib. Malang: Seminari Tinggi Pasionis, 1994.

Giorgini, Fabiano. The Congregation of The Passion of Jesus. Roma: Pasionist General Curia, 1988.

Marziali, Carlo. Regula, Konstitusi dan Statuta Kongregasi Pasionis. Malang: Dioma, 1990.

Ranochiaro, Gabriel. Berita Kongregasi Pasionis. Malang: Lumen Christi, 1987.

 

Salam Passio!

 

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

Leave a comment