BELAJAR (Doa dan Renungan Novena Hari Ke-7 dalam Rangka Memperingati St. Paulus dari Salib)

Author Fr. Adrianus Roki Wibowo, CP (Pembuat Doa) dan Fr. Damianus Ngai Rupi, CP (Pembuat/pembawa Renungan) | Jumat, 16 Oktober 2020 10:59 | Dibaca : : 21
BELAJAR (Doa dan Renungan Novena Hari Ke-7 dalam Rangka Memperingati St. Paulus dari Salib)

DOA

Allah Bapa Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, Engkau tahu akan segala sesuatu yang kami pikirkan. Kami bersyukur bahwa Engkau telah mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu sebagai putera/ puteri tersalib. Di bawah naungan hamba suci-Mu santo Paulus dari salib, kami yang haus akan kebenaran, hendak merenungkan dan meneladani cara hidup dan semangat beliau dalam mengenal Engkau lewat studi kami sehari-hari.

Allah penyelenggara segala rahmat, ajarilah kami untuk dapat dengan bersugguh-sungguh mengenal Engkau sebagai Sang kebenaran sejati, bukalah hati kami bila kerap kali kami bersikap congkak dan egois, ubahlah hati kami yang keras ini menjadi lemah lembut seperti hati-Mu.

Ya Allah Yang Maha Baik, kami bersyukur dan berterima kasih, sebab oleh pengajaran dan cara hidup para kudus-Mu, kami boleh dapat mengenal misteri agung Putera-Mu yang Engkau wahyukan dalam peredaran zaman, meski sering kali hal itu kami pandang hanya sebatas lahiriah semata. Terlepas dari semuanya itu, kami sadar bahwa apa yang kami dapatkan lewat studi dan cara hidup kami sehari-hari itu, belum dapat mengungkapkan sedikitpun dari misteri Agung karya Sang Pencipta.

Kami mohon melalui semangat yang bernyala yang Engkau kobarkan di dalam hati bapa pendiri kami santo Paulus dari Salib, Engkau kobarkan juga di dalam hati kami agar sungguh dapat mencintai studi bukan hanya sekedar formal semata, tetapi sebagai bekal kerasulan kami, baik sekarang maupun di masa yang akan datang, agar rahmat yang telah Engkau tanamkan di dalam hati kami itu, dapat kami salurkan kepada sesama.

Semua doa dan permohonan ini kami haturkan melalui perantaraan putera-Mu Tuhan kami Yesus Kristus… Amin…

 

RENUNGAN

 

“Belajar Untuk Menjadi Sempurna (Kudus) di ‘Sekolah’ St. Paulus dari Salib

 

(Kita semua, “telah dipilih oleh Allah, sebelum pembentukan bumi, agar kita menjadi kudus dan tak bercela di hadapan-Nya (Ef. 1:4) ) “…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu” (1 Ptr. 1:15); Kristus meminta kepada semua orang agar menjadi sempurna “seperti Bapa kita di surga sempurna adanya” (Mat. 5:48))

 

Para pencinta Kristus Tersalib…

            Di ‘sekolah’ St. Paulus dari Salib, yang ia dirikan sendiri memiliki visi, misi dan juga pengajar.

Visinya adalah membawa diri sendiri dan sesama kepada kesempurnaan hidup, kekudusan dan keselamatan kekal (hal ini merupakan panggilan semua orang beriman). Misinya adalah: pertama, membantu setiap orang Kristiani secara khusus para religius untuk menghayati hukum ilahi dan nasihat-nasihat injil sesuai kemampuan setiap orang dan tuntutan statusnya. Kedua, membantu dan membimbing setiap orang yang dipanggil untuk mengusahakan terlebih dahulu untuk diri sendiri, lalu mengusahakan secara teliti tugas-tugas cinta kasih bagi sesama yang harus dipenuhi sesuai dengan kondisi tempat dan waktu demi kemuliaan Allah Yang Besar dan kemajuan rohani sendiri. Ketiga, setiap orang bukan hanya mengadakan doa untuk mencapai kesatuan cinta kasih suci dengan Allah, tetapi mengarahkan sesama kepada-Nya dan mengajarkan secara lisan kepada umat, kenangan akan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Dari pada-Nya mengalirlah segala kebaikan seperti dari sumbernya (terkait dengan misinya ini, bisa kita baca dalam Regula bab 1, tentang tujuan kongregasi kita ini). Pengajar di “sekolah” St. Paulus dari Salib adalah St. Paulus dari Salib sendiri dan para penerus sesudahnya. Bahan ajarnya adalah dari “menteri pendidikan” (dalam tanda kutip) yakni dari Sang Guru Ilahi, Yesus Kristus Tersalib, dengan kurikulum yang menekankan aspek pengetahuan, sikap, perilaku, keterampilan, spiritual dan sosial, yang berlandaskan hidup Yesus sendiri, injil, Tradisi dan magisterium. Hal ini memang tidak ditulis secara eksplisit oleh St. Paulus dari Salib, tetapi secara implisit, dari semua nasehat dan ajarannya, saya menyimpulkannya demikian.

Sekarang kita akan melihat seperti apa kegiatan ‘belajar-mengajar’ di ‘sekolah’ St. Paulus dari Salib dan tuntutan-tuntutannya.

Dalam Regula Bab XXV: perihal studi, St. Paulus menghendaki agar di setiap provinsi ditentukan satu dua rumah studi, agar para religius bisa belajar filsafat dan teologi, agar lebih ‘cakap’ bagi pelayanan jiwa-jiwa. Dengan demikian, St. Paulus melihat bahwa belajar sangat penting untuk kehidupan manusia secara, khusus bagi para pelayan gereja Kristus. Karena belajar dapat membawa perubahan hidup, menjadi baik. Dalam bahasa St. Paulus dari salib, belajar dapat membuat seseorang menjadi cakap atau dapat membentuk keutamaan-keutamaan terbaik. Sebagaimana yang ditekankan dalam misinya yakni mengusahakan yang baik yakni yang pertama, bagi diri sendiri dan kemudian bagi orang lain, demikian pula dalam kaitan dengan belajar. Belajar memiliki konsekuensi atau tuntutan: yang pertama, berguna bagi diri sendiri yaitu membuat diri sendiri cakap atau membentuk keutamaan diri sendiri. Dan yang kedua, apa yang kita pelajari harus dibagikan kepada sesama, untuk pewartaan dan latihan kerasulan demi kepentingan bersama dan pelayanan jiwa-jiwa. Hal yang sama juga ditekankan oleh pengikut sekaligus penerus semangat St. Paulus dari Salib, yaitu St. Vinsensius Maria Strambi, CP. Ia menegaskan demikian: “Bila kalian belajar, bayangkanlah bahwa meja studi kalian dikelilingi sejumlah besar orang yang mendesak; Belajarlah sungguh-sungguh karena kami menunggu kerasulan kalian untuk memperoleh keselamatan”. Dengan demikian, belajar dan mengajar atau pelayanan merupakan satu kesatuan utuh, yang tidak terpisahkan. Seseorang tidak akan mampu mengajar atau melayani dengan baik, jikalau ia tidak belajar terlebih dahulu. St. Gregorius mengatakan bahwa tidak ada seni dalam diri seseorang jikalau ia tidak mempelajarinya terlebih dahulu. Terkait dengan hidup imamat ia menulis demikian, “pelayanan dan hidup imamat merupakan seni di atas segala seni “ars atrium” karena menyangkut keselamatan jiwa, baik itu yang dilayani maupun yang melayani (Bdk. Edison R.L. Tinambunan, Spiritualitas Imamat, vi-vii). Hal ini berarti bahwa orang yang tidak memiliki seni sebaiknya tidak melaksanakan pelayanan agar tidak menyesatkan banyak jiwa. Orang yang tidak layak, sebaiknya harus tahu memperbaiki diri, membuat layak yakni dengan belajar banyak.

Para pencinta Kristus Tersalib…

Terkait dengan belajar, St. Paulus tidak hanya menekankan soal intelektual atau pengetahuan mengenai ilmu-ilmu profan atau ilmu-ilmu manusia, ilmu sosial (untuk menyelesaikan persoalan sosial, mendamaikan perselisihan dan mengusahakan perdamaian antara yang bermusuhan). Tetapi juga memperhatikan hal-hal yang bersifat rohani atau berkaitan dengan spiritualitas.  Malah inilah yang utama dan merupakan tujuan utama keberadaan para religius. Ia mengatakan, “Segala studi haruslah merupakan latihan keutamaan-keutamaan suci. Saya perintahkan kamu untuk setia dalam pekerjaan kebajikan suci. Setialah anak-anakku, setialah pada keutamaan kukuh dengan latihan keras, rendah hati, pengosongan pikiran: maka kalian akan lembut hati, berlaku sopan sepanjang hari dan malam, mencintai kesunyian, tinggal sendiri serta berbincang dari hati ke hati dengan Pengantin ilahi. Perhatikanlah segala kebajikan, kalian harus menyimaknya dengan penuh perhatian, sebab hal-hal inilah dicari oleh Tuhan pada diri kalian dan dari soal ini akan dinilai kebaikan kalian” (Vox Patris, Hal. 17).

Lebih lanjut St. Paulus menghendaki agar kita menaruh perhatian pada keutamaan dan berusaha melaksanakannya dengan gagah berani, sebab hal inilah yang menjadikan kita kudus, suci, mencapai kesempurnaan hidup Tuhan. Inilah tujuan utama dan panggilan hidup kita manusia (entah sebagai biarawan/i maupun sebagai awam), seperti yang kita dengar dalam bacaan 1 Ptr. 1:15 “…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu”. “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus” (1 Ptr. Ay. 13). Ada banyak keutamaan dan latihan keutamaan yang telah dijalankan oleh St. Paulus dari Salib (juga beberapa pengikutnya) yang telah mengantarnya  menuju gerbang kesucian, kekudusan, kesempuraan hidup Tuhan. Hal yang sama juga ia kehendaki dari kita agar tujuan utama berdirinya ‘sekolahnya’ (biara) terwujud yakni dengan memenuhi nasihat-nasihat injil: kesederhanaan, ketaatan, mengekang hawa nafsu, berdoa dengan tekun, waspada terhadap kesombongan, menyangkal diri, kerendahan hati, kesunyian, keheningan, mengikuti teladan Kristus: memikul salib setiap hari dan mengikuti-Nya, merenungkan dan mewartakan Kristus Tersalib, dll.

Semua jalan tersebut dapat menghantar siapa pun mencapai kesempurnaan. Tetapi, hal ini bukan perkara mudah. Perlu disadari bahwa pemenuhan itu semua bukanlah usaha yang sekali jadi. Dibutuhkan pengorbanan yang tidak kecil; dibutuhkan keberanian dan usaha keras; harus melewati proses belajar terus menerus; perjuangan terus menerus sampai mati. Jika jatuh berusaha bangkit lagi dan berusaha terus melangkah, terus memperbaharui diri dan berusaha hidup menjadi lebih baik dari hari ke hari sampai kepenuhan zaman.

Para pencinta Kristus Tersalib…

St. Paulus menghendaki agar kita menghayati sungguh ikrar religius kita dalam hidup kebersamaan, kemiskinan, kemurnian, ketaatan. Praktek-praktek nasihat injil harus menjadi ungkapan terdalam tentang misteri paskah, baik perseorangan maupun bersama. Ia mengatakan bahwa “Tidak mungkin kita mengamalkan dan mewartakan Sabda Salib kepada orang lain, jikalau hal itu tidaklah terlebih dahulu menjiwai hidup kita. Hendaklah diingat bahwa tujuan kongregasi ini ialah bukan hanya memenuhi hukum-hukum ilahi, tetapi juga sedapat mungkin melakukan nasehat-nasehat injil. Untuk mencapai hal ini dengan lebih mudah, diperlukan sering berdoa, berpantang ,rendah hati, mati raga dan penghinaan diri sendiri” (Regula, Hal. 38). St. Paulus mengatakan bahwa semua sarana tersebut adalah sarana terbaik untuk mengangkat hati kepada Allah dan menangkis godaan setan.

Hal-hal demikianlah yang dituntut dari kita semua, para pengikutnya. Kita bukan hanya mewartakan semua kebajikan tersebut kepada umat, tetapi kita harus melaksanakannya juga dalam hidup sehari-hari, kita harus mengajarkan cara melakukannya. Dalam Regula, ia menulis, “Janganlah puas hanya mengajak umat untuk merenungkan misteri hidup, sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus, tetapi hendaklah mengajarkan cara melakukannya” (Regula, Hal.52).

Berkaitan dengan pewartaan atau mengadakan misi supaya berhasil dengan baik, St. Paulus mengingatkan agar para religius memikirkan kesucian, kepentingan dan tujuan pelayanan. Ia menulis demikian, “waspadalah agar jangan mengabaikan kewajiban sendiri, sehingga karena masalah mereka, perutusan itu berakhir dengan kurang hormat dan membawa hasil yang kurang baik” (Regula, Hal. 52). St. Paulus mengingatkan akan bahaya kesesatan pewartaan yang diajarkan pada umat. Mengenai hal yang sama, juga ditegaskan oleh St. Gabriel dari Bunda Berduka Cita. Tidak segan-segan St. Gabriel memberi nasihat yang keras dan pedas kepada kakaknya yang baru saja ditahbiskan menjadi imam. Ia mengatakan bahwa jikalau kakaknya tidak berusaha menambah pengetahuan, ia tidak pantas menjabat imam dengan sepantasnya. Dengan mengutip kata St. Thomas, ia menulis demikian: “jikalau kamu karena ketidaktahuan atau kelalaian, tidak mengajarkan jalan keselamatan kepada umat dan membuat hilang salah satu domba yang berharga darah Yesus Kristus, maka kamu harus bertanggung jawab atas jiwa yang hilang di bawah pimpinanmu. ‘Anima pro anima’, nyawa ganti nyawa. Kata hakim Ilahi, “jiwa itu hilang karena kelalaianmu, maka pertaruhkanlah nyawamu sebagai gantinya. Demikian pula sebaliknya. Dengan mengutip kata St. Agustinus, ia berkata,” Jika kamu telah menyelamatkan satu jiwa dengan pengajaranmu yang benar, maka kamu menjamin jiwamu sendiri. “kamu menambah mahkotamu sebanyak jiwa yang diperoleh bagi Allah” (kata St. Gregorius). Maka, dengan berpegang pada kata-kata tersebut, St. Gabriel menasihati agar jangan meninggalkan belajar, minimal tiga sampai empat jam sehari, membuat suatu jadwal sebagai ketentuan hidup, serta melarang untuk hidup tidak menentu. Ia mengatakan, “meskipun waktu tidak terlalu banyak, namun jika digunakan dengan baik untuk mempelajari kebenaran ilahi, kamu akan menikmati kedamaian hati dan ketenteraman yang benar. Begitu pula sebaliknya, jikalau tidak melakukan segala kebaikan yang wajib kamu lakukan, maka kamu akan gelisah karena telah menjadi kerugian bagi orang lain.” Inilah keutamaan yang luar biasa dari St. Gabriel yang patut kita teladani.

Para pencinta Kristus Tersalib…sekarang tuntutan atau tantangan menjadi pelayan semakin berat. Dunia berubah dengan bagitu cepat, bersamaan dengan itu muncul juga beraneka macam persoalan yang mencemaskan umat manusia. Bagaimana cara agar keluar dari persoalan-persoalan yang ada adalah tugas kita bersama secara khusus kita sebagai gembala dan calon gembala. Pelayanan membutuhkan suatu persiapan yang sungguh matang, baik intelektual maupun rohani.

Dengan demikian, …para pencinta Kristus Tersalib… kita sebagai pengikut St. Paulus dari salib atau pencinta Kristus Tersalib dituntut untuk menyiapkan diri dengan sebaik mungkin, belajar dengan benar dan tekun, dengan berpegang pada ‘kurikulum’ yang ditetapkan Tuhan seperti yang disebutkan tadi yakni aspek pengetahuan, sikap, perbuatan, spiritual dan juga sosial. Agar kita mampu membawa diri dan hidup kita menjadi berkualitas serta mengajar dan membawa sesama kita kepada hidup yang lebih baik, mencapai kesempurnaan hidup Tuhan (kekudusan), meraih keselamatan kekal.

 

God Bless Us!!!

 

Salam Passio!

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

Leave a comment