PENDERITAAN SEBAGAI JALAN KESEMPURNAAN

Author Fr. Yohanes Mba Malo Sali, CP | Selasa, 23 Februari 2021 10:30 | Dibaca : : 447
PENDERITAAN SEBAGAI JALAN KESEMPURNAAN

Penderitaan bukanlah hal yang menyenangkan. Ya, itulah yang dialami dan dirasakan oleh semua orang. Penderitaan membuat kita seakan tidak bisa bergerak, berhenti sejenak, dan bahkan berpasrah pada kehendak atau situasi yang ada. Penderitaan mengganggu hidup kita. Sehingga, banyak diantara kita berusaha serta mencoba menghindar dari penderitaan. Terkadang penderitaan membuat kita stress yang bahkan berujung pada kematian. Penderitaan bukanlah hal harus didekati, melainkan yang dijauhi oleh kita semua. Menderita memang bukan hal yang menyenangkan dan setiap kita ingin menghindarinya sejauh mungkin. Terkadang dalam perjalanan hidup, kita menolak dan tidak mau menghadapi penderitaan yang datang kepada kita. Satu hal yang sering dilakukan disaat kita tidak mampu menghadapi penderitaan yakni dengan mempersalahkan Tuhan. Tindakan ini bukanlah jalan untuk mengatasi penderitaan yang datang kepada kita. Mempersalahkan Tuhan justru tidak menyelesaikan apa-apa, malah memperparah penderitaan yang kita alami. Perlu kita sadari bahwa dalam penderitaan terselip sesuatu yang berarti untuk hidup kita, suatu cita-cita manusia sejati yakni kesempurnaan. Penderitaan yang kita alami bukanlah “hukuman” melainkan fondasi yang kuat untuk mencapai kesempurnaan hidup. Santo Paulus dari Salib dapat menjadi teladan bagi kita. Ia dalam seluruh hidupnya membaktikan diri, merenungkan, dan mempraktekkan dalam hidupnya penderitaan dan wafat Yesus Kristus. Ia menyatakan bahwa “kesempurnaan yang benar adalah melakukan kehendak Bapa”. Melakukan kehendak Bapa termasuk dalam memikul salib setiap hari dan mengikuti Dia. Lebih jelas lagi bisa kita lihat, kita dengar dalam kisah sengsara Tuhan Yesus di mana Ia mau menunjukkan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa-Nya. Ia rela dihina, diolok, diludai, ditendang, dan bahkan ditikam hingga wafat di kayu salib demi ketaatan-Nya pada Bapa dan cinta-Nya yang begitu besar bagi kita. Yesus menjadi pedoman bagi kita. Penderitaan dan wafat-Nya di salib membawa Ia pada kesempurnaan kasih dan mendatangkan keselamatan bagi seluruh ciptaan-Nya. Yesus setia melaksanakan kehendak Bapa-Nya, karena Ia sendiri tahu dengan benar bahwa penderitaan yang ditanggung-Nya tidak akan menjadi sia-sia. Melainkan, ada kebahagiaan sejati dan kesempurnaan hidup.

Kehidupan kita kerap kali diguncang oleh berbagai penderitaan, salah satu yang sedang kita alami saat ini adalah disebabkan oleh Covid-19. Memang begitu berat bagi kita untuk melewati hari-hari hidup kita. Meski demikian, Kita diajak untuk tetap bertahan, karena memang kita tidak dapat menghindari penderitaan tersebut. Penderitaan dalam hidup kita bagaikan nafas yang selalu kita hirup setiap saat dan teman yang akrab dalam hidup dalam peziarahan menuju atau menggapai kesempurnaan. Kita sebagai orang-orang yang beriman secara khusus yang percaya pada Yesus, kita harus mampu bertahan bertahan dalam penderitaan sebagaimana semangat yang telah Yesus tunjukan kepada kita ketika Ia mengalami penderitaan yang berat mulai dari Getsemani sampai di puncak Golgota. Ketika kita menanggung penderitaan kita dengan tulus, penuh iman dan harapan berarti kita mengambil bagian dalam penderitaan Yesus itu sendiri.

Santo Paulus dari Salib dalam surat kepada ibunya menulis demikian: “Mereka yang menderita demi cintanya akan Allah, menolong Yesus Kristus memikul salib, dan demikian mereka ini mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya”. Ini sangat jelas bahwa dalam penderitaan yang kita alami, kita telah ambil bagian dalam penderitaan Kristus dengan menanggung penderitaan jasmani dan rohani sebagai tanda kita beriman pada-Nya. Nyatalah bahwa Santo Paulus dari Salib menerima persatuan dalam bentuk penderitaan bersama Kristus yang menderita sebagai pemberian Allah kepadanya. Penderitaan bukan tujuan dari pezirahan hidup melainkan sarana untuk mencapai persatuan yang mesrah dengan Allah sebagai sumber kesempurnaan, jikau penderitaan itu diletakkan dalam kaca mata iman. Dalam penderitaan terdapat sebuah tujuan hidup yakni kesempurnaan. Dengan wafat-Nya di kayu salib, Yesus telah telah memperoleh sebuah cita-cita luhur-Nya, yakni menebus dosa kita semua. Kesempurnaan yang diperoleh Yesus merupakan sebuah kerja keras, ketekunan, dan ketabahan dalam menghadapi penderitaan.

Dalam peziarahan hidup, kita tidak terlepas dari yang namanya penderitaan. Banyak penderitaan yang kita lalui baik dari yang kecil sampai yang besar, selalu datang menerpa kita silih berganti dalam perjalanan hidup kita. Meski begitu, kita harus menyatukan semua penderitaan itu dengan penderitaan Yesus. Di mana Yesus yang menderita sampai mati dan Ia selalu tabah, berani, setia, berjuang, optimis, percaya pada kehendak Bapa-Nya dan bahkan dalam penderitaan yang berat yang sedang Ia alami, Yesus masih sempat meringankan penderitaan sesama, salah satunya adalah menghibur wanita-wanita yang menangis. Semua itulah yang membawa Yesus pada kemenangan jaya yakni kebangkita mulia. Jika Yesus yang kita imani berbuat demikian, mengapa kita tidak? Kita adalah makhluk ciptaan-Nya, jadi kita harus percaya bahwa penderitaan bukanlah penghalang untuk mencapai kesempurnan. Ia yang menciptakan kita, Ia yang telah melewati penderitaan, Ia pula yang akan membimbing dan menuntun kita melalui pengalaman ‘padang gurun tersebut, sampai kita diantar pada kesempurnan hidup.

Penderitaan merupakan roda yang harus terus diisi sehingga mampu bertahan sampai pada tujuan. Penderitaan membawa kita pada penemuan akan penolong yang membawa kita pada kesempurnaan hidup. Penderitaan bukanlah penghalang untuk mencapai kesempurnaan melainkan penderitaan dapat memurnikan hidup kita. Tetapi, perlu disadari bahwa tidak semua penderitaan itu adalah salib (jika itu timbul karena kelalaian kita atau kesalahan menggunakan kehendak bebas kita. Misalnya ketidaktaatan kita dalam mematuhi protokol kesehatan demi pencegahan covid, dan lain-lain), tetapi penderitaan itu dapat ditebus dengan salib. Oleh sebab itu, kita harus mensyukuri penderitaan yang kita alami karena semuanya itu adalah jalan mencapai kesempurnaan hidup.

Salam Passio!

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

Leave a comment