Penderitaan: Rahmat atau kutuk bagi manusia?

Author Rm Stefanus Suryanto, CP | Jumat, 25 September 2020 22:53 | Dibaca : : 84
Penderitaan: Rahmat atau kutuk bagi manusia?

Penderitaan dalam aneka bentuknya adalah ibarat teman tak terpisahkan bagi keberadaan manusia. Ada penderitaan fisik atau jasmani dalam pengalaman sakit penyakit, bencana alam dan kematian. Ada penderitaan moral jiwa, kadang lebih nyeri dari pada yang fisik, yang disebabkan oleh pengalaman ditolak, dibenci, dipinggirkan, pengkhianatan, penghinaan. Ada penderitaan psikologis, yang sering akibat wajar dari rasa sakit fisik dan rasa sakit moral dan memanifestasikan dirinya dalam bentuk kesedihan, kekecewaan, pesimisme, keputusasaan, depresi. Kadang-kadang, berbagai bentuk penderitaan ini saling tumpang tindih sampai mereka menjadi momok sosial yang nyata, seperti dalam kasus bencana alam, epidemi, kemiskinan, kelaparan dan perang.

Menghadapi drama-drama ini, akal budi manusia pasti akan bertanya: Mengapa ada kejahatan? Mengapa ada penderitaan? Jika Tuhan itu ada dan mahabaik dan mahakuasa, mengapa Dia tidak turun tangan? Mengapa Tuhan diam? Adakah Tuhan? Di mana Tuhan dalam bencana alam: banjir, kebakaran, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi, tsunami? Di mana Tuhan dalam aneka penderitaan dan sakit penyakit manusia yang tak tersembuhkan? Penderitaan itu rahmat atau kutukan atau hukuman?

Manusia berjerih payah mencari jawab

Drama kejahatan dan penderitaan, lebih-lebih yang dialami oleh orang tak bersalah, adalah masalah setua manusia. Kejahatan dan penderitaan ada seumur manusia. Berhadapan dengan problem kejahatan dan penderitaan, manusia terus berjerih payah mendiskusikannya dan coba mencari jawaban. Semuanya dilihat dari aneka sisi, dari sisi ilmu pengetahuan dan budaya, filsafat, teologi maupun agama. Semua yang berdiskusi, mulai dari para filsuf, teolog, seniman, orang yang beriman maupun tidak, dari semua agama, dari semua generasi dan dari semua bangsa. Meskipun ada upaya, bagaimanapun, alasannya saja tidak pernah berhasil dan masih belum dapat menemukan jawaban yang memuaskan.

Kita tentu tidak dapat mengabaikan jerih payah para pemikir itu. Namun, di samping jawaban yang digeluti oleh para pemikir, ada sumber lain, yaitu Sabda Tuhan yang ditujukan kepada umat manusia dan terkandung dalam Injil. Sabda ini menerangi misteri kehadiran kejahatan dan penderitaan di dunia dan secara meyakinkan menegaskan bahwa dalam rasa sakit dan derita memiliki maknanya sendiri, perasaan misterius tetapi nyata. Tentu saja, untuk memanfaatkan sepenuhnya terang Sabda ini, perlu menerimanya dengan iman; namun, bahkan mereka yang tidak percaya dapat menemukan bantuan dalam Injil untuk memahami penderitaan, bahkan jika itu tetap menjadi misteri. Karena itu, setiap orang yang memiliki niat baik merasa tertantang oleh pesan Kristiani tentang penebusan dari rasa sakit, penderitaan, ketidakadilan dan kemiskinan.

Penderitaan itu rahmat atau kutuk?

Sekarang kita coba merefleksikan tema: apakah penderitaan itu sebagai rahmat atau kutuk? Atau dengan kata lain penderitaan itu baik atau buruk bagi manusia? Merefleksikan tema ini tentu kita harus berani mengelaborasi jawaban dari akal budi manusia yang kerap kali terbatas dan tidak memadai dengan terang iman melalui Sabda Tuhan, yaitu Injil pada drama penderitaan dan kejahatan.

Inilah yang telah dilakukan oleh Santo Yohanes Paulus II, dengan menulis refleksi mendalam  soal penderitaan manusia. Refleksinya ditulis dalam Surat apostolik Salvifici Doloris (Penderitaan yang menyelamatkan) tentang arti Kristiani dari Penderitaan Manusia (11 Februari 1984). “Inilah arti penderitaan, yang sungguh-sungguh adikodrati dan sekaligus juga sungguh-sungguh manusiawi”, tulis Yohanes Paulus II. “Penderitaan adalah adikodrati karena berakar dalam misteri ilahi dari Penebusan dunia; dan juga sangatlah manusiawi, karena di dalamnya manusia  menemukan dirinya sendiri, kemanusiaannya sendiri, martabatnya sendiri dan perutusannya sendiri” (Salvifici Doloris, no. 31).

Karena itu, sakit penyakit fisik maupun rohani, kelemahan ragawi atau kelainan genetik, bencana alam, ketidakadilan dan kemiskinan bukanlah tanda bahwa Tuhan tidak ada atau diam, tetapi semuanya itu memanifestasikan ketidakmampuan manusia, selama mereka dalam perjalanan menuju anugerah indah dari Tuhan pada saatnya nanti. Dunia kita masih dalam proses perjalanan, ciptaan belum selesai dan manusia adalah seorang peziarah dalam Tuhan, dunia belum mencapai kesempurnaannya, juga belum berakhir seperti yang dinyatakan dalam rencana penyelamatan Allah. Di dalamnya banyak kontradiksi dan pencobaan, antara gairah dan keputusasaan, antara tawa dan tangis, antara sehat dan sakit­; dan semuanya akan berakhir dan menjadi baru, ketika “Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15: 28).

Keterbatasan penciptaan, sakit penyakit, bencana alam, kemalangan akan selalu menandai jalan manusia menuju Kerajaan. Dengan kata lain: peristiwa negatif (rasa sakit, kejahatan, penderitaan) tidak dapat dihindari dalam sejarah kemanusiaan, karena itu adalah bagian dari keterbatasan ciptaan dalam perjalanan; tetapi ini bukan akhir, bukan tujuan, tetapi memperoleh makna dalam perspektif kesempurnaan akhir: “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia” (2 Kor 5: 1). Sabda Tuhan ini berbicara kepada kita tentang transformasi atau perubahan alam semesta yang misterius namun nyata.

Dari perjumpaan antara akal budi dan iman, kita dapat memahami bahwa penderitaan bukanlah kematian atau kutukan atau sesuatu yang buruk; sebaliknya, itu adalah kondisi bahwa manusia itu, dengan menerima batas-batas keterbatasannya sendiri, menuju kepada kepenuhan kehidupan di dalam Allah yang dia dambakan dan disediakan baginya. Karena itu, rasa sakit dan penderitaan, yaitu pengalaman keterbatasan diri sendiri, kiranya merupakan satu langkah dalam perjalanan umat manusia dan dunia menuju realisasi kepenuhannya, menuju perjumpaan dari muka ke muka dengan Allah Sang Pencipta.

Penderitaan bukanlah kutuk atau hukuman

Kerap kali manusia menganggap bahwa penderitaan, kejahatan, sakit adalah sebentuk hukuman, kutukan dan dosa. Namun, Tuhan Yesus menegaskan bahwa penderitaan bukanlah kutuk atau hukuman, seperti yang dipikirkan banyak orang. Yesus, dalam Injil secara eksplisit mengatakan demikian. Dalam diskursus soal dosa dan penderitaan, Yesus berbicara tentang orang-orang pekerja yang menjadi korban karena tertimpa reruntuhan menara dekat Siloam. Dia  mengomentari fakta yang menyakitkan itu: “Sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! KataKu kepadamu” (Luk 13: 4-5). Dan pada kesempatan lain, dengan merujuk pada orang yang buta sejak lahir dan disembuhkan Yesus. Para murid bertanya kepada kepada Yesus: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Yesus menjawab: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9: 2-3).

Bukti utama yang menegaskan bahwa penderitaan bukanlah hukuman datang dari kenyataan bahwa Yesus, orang yang tidak bersalah, yang menjadi sama dengan kita dalam segala hal (kecuali dalam hal dosa) dan menjadi salah seorang dari kita, tidak menolak untuk mengalami penderitaan dan kematian. Dengan melakukan hal itu, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kejahatan bukanlah hukuman, tetapi suatu bagian yang perlu menuju kehidupan di dalam Allah di mana tidak akan ada lagi kesakitan dan kematian, ketika “Tuhan menjadi semua dalam semua”. Bahkan penderitaan kita, seperti penderitaan Sengsara dan Salib Yesus, bukanlah tujuan akhir, tetapi memperoleh maknanya yang penuh dalam terang kebangkitan. Kebangkitan memberi makna tidak hanya bagi kehidupan manusia, tetapi juga bagi penciptaan.

Pada malam Sengsara dan Wafat Yesus, beberapa orang Yunani, pergi ke Yerusalem untuk liburan Paskah dan bertanya kepada rasul Filipus: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus” (Yoh 12: 21). Mereka berharap melihatnya dalam wujud penuh, melakukan mukjizat-mukjizat besar yang telah mereka dengar. Yesus membuat jawaban bahwa benar mereka akan melihatnya, tetapi harus melalui penderitaan: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja: tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” dan lanjutnya: “Sekarang jiwaKu terharu dan apakah yang akan Kukatakan?” (Yoh 12: 23-27).

            Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anaknya. Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaan untuk dirinya sendiri, tetapi - untuk mengatakannya - Ia mengarahkan pekerjaan penyelesaian dengan menggunakan tanggung jawab dan kecerdasan manusia. Karena kita adalah para pelaku, kita dipanggil untuk berkomitmen dengan segala cara yang kita miliki untuk mencegah dan mungkin menghindari bencana alam, penyakit dan keterbatasan alam, bahkan jika kita sadar bahwa kita tidak akan pernah berhasil mengatasi semuanya.

Sekali lagi, dari perjumpaan antara akal manusia dan iman dimungkinkan untuk memahami bahwa penderitaan bukanlah hukuman: “Setiap manusia yang menderita, setiap rasa sakit, setiap penyakit mengandung janji keselamatan, janji sukacita - penegasan Yohanes Paulus II. Ini berlaku untuk setiap penderitaan yang disebabkan oleh kejahatan; itu juga berlaku untuk kejahatan sosial dan politik yang sangat besar yang saat ini memecah belah dan membingungkan dunia: kejahatan perang, penindasan individu dan rakyat; kejahatan ketidakadilan sosial, martabat manusia yang terinjak-injak, ras dan diskriminasi agama; kejahatan kekerasan, terorisme, perlombaan senjata - semua kejahatan ini ada di dunia untuk membangkitkan dalam diri kita cinta yang merupakan hadiah dalam pelayanan yang murah hati dan tidak memihak kepada mereka yang dikunjungi oleh penderitaan” (Yohanes Paulus II, Memoria e identità, Rizzoli, Milan 2005, 199).

Penderitaan berasal dari cinta dan mengarah kepada cinta

Jika penderitaan itu bukanlah kematian, kutukan atau hukuman, mengapa kemudian Tuhan yang mahakuasa dan mahabaik, membiarkan rasa sakit makhluk-makhluknya, anak-anaknya? Ini adalah keberatan purba, yang telah dirumuskan abad III M oleh penulis Latin, Lattanzio, yang merujuk kepada Epikuros. Epikuros merumuskan problem ini dengan menulis: “Atau Tuhan mau meniadakan kejahatan tetapi Dia tidak dapat, atau Dia dapat tetapi tidak mau, atau Dia tidak mau dan tidak dapat, atau Dia mau dan dapat melakukannya. Jika Tuhan mau menghilangkan kejahatan, tetapi tidak dapat melakukannya, itu berarti bahwa Dia tidak mahakuasa, tetapi itu tidak sesuai dengan hakekat Tuhan. Jika Dia dapat melakukannya, tetapi Dia tidak mau, itu berarti bahwa Dia tidak mencintai manusia; tetapi ini pun tidak sesuai dengan hakekat Tuhan. Jika Dia tidak mau dan tidak dapat, itu berarti Dia sekaligus tidak memiliki cinta dan tidak mahakuasa; tetapi kalau begitu Dia bukan Tuhan. Bila Dia mau dan dapat – memang begitulah seharusnya Tuhan - maka dari manakah asalnya kejahatan, dan mengapa Dia tidak menghapuskannya?”  (Vitalini, S., “Dio soffre con noi?”, dalam Parola e parole, no. 5, Maret 2008, 14.).

Dari perjumpaan antara akal budi dan iman, adalah mungkin untuk memahami bahwa hanya rujukan pada cinta yang memungkinkan seseorang melampaui misteri rasa sakit-derita dan memahami kekuatan penebusannya. Pada kenyataannya Tuhan tidak menginginkan kejahatan. Yesus sendiri, untuk memanifestasikan dirinya sebagai Penebus dunia, membuat banyak mukjizat penyembuhan dari segala macam penyakit dan kelemahan: Sebagai Mesias, Kristus secara bertahap telah mendekati dunia penderitaan manusia tanpa henti. “Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu” (Mat 4: 23). “Dia berjalan berkeliling sambil berbuat baik” (Kis10:38), dan pekerjaan-pekerjaanNya terutama menyangkut dengan orang-orang yang menderita dan yang mengharapkan pertolongan. Dia menyembuhkan orang yang sakit, menghibur orang yang berdukacita, memberi makan orang yang lapar, membebaskan orang tuli, kebutaan, sakit kusta, dari setan dan dari berbagai gangguan fisik, dan tiga kali Dia menghidupkan kembali orang yang mati. Dia peka terhadap setiap penderitaan manusia, baik itu penderitaan jasmani maupun rohani. Dan pada saat yang sama Dia mengajar, dan menempatkan sebagai pusat pengajarannya adalah delapan Sabda Bahagia, yang ditujukan kepada orang-orang yang diuji oleh berbagai macam penderitaan dalam kehidupan duniawi” (Salvifici Doloris, no. 16).

Dapat dikatakan bahwa penderitaan, yang melekat dalam kondisi manusia, memungkinkan Tuhan untuk mewujudkan cintanya. Menjadi cinta yang tak terbatas, Ia melawan kejahatan dalam segala bentuknya, tidak hanya dalam kejahatan absolut yang merupakan dosa, tetapi juga dalam semua manifestasi pribadi lainnya dan dampak sosialnya. “Tidak ada kejahatan yang darinya Allah tidak dapat menarik kebaikan yang lebih besar”, kata Yohanes Paulus II . Lagi, “Tidak ada penderitaan yang Dia tidak tahu bagaimana mengubahnya menjadi jalan yang mengarah kepadaNya”. Sampai-sampai Tuhan memanggil kita semua untuk “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan”: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Rm 12: 21). Dan bahkan Tuhan akan menghakimi kita berdasarkan komitmen yang kita miliki dalam mengurangi penderitaan saudara-saudara kita: orang miskin, orang lapar, orang haus, telanjang, orang asing, tahanan, orang sakit (lih. Mat 25: 31-46). Oleh karena itu, iman, menerangi akal budi manusia, membantu kita untuk membuat penemuan luar biasa bahwa penderitaan berasal dari cinta dan menuntun kepada cinta.

Makna baru penderitaan manusia dalam Yesus yang menderita

Satu pertanyaan: Benarkah Tuhan mengizinkan penderitaan dan kejahatan?

Pada titik ini, kita dapat mengatakan bahwa sejak Kristus disalibkan, penderitaan manusia memperoleh makna yang baru. “Di kayu salib Yesus, penebusan bukan saja dicapai melalui penderitaan, tetapi juga penderitaan manusia itu sendiri telah ditebus”; Kristus “dalam penderitaan penebusannya telah, dalam arti tertentu, menjadi bagian dari semua penderitaan manusia. Manusia, melalui imannya, menemukan penderitaan Kristus yang menyelamatkan, juga menemukan di dalamnya penderitaan-penderitaannya sendiri. Ia menemukannya kembali, melalui imannya, yang telah diperkaya dengan suatu isi dan makna baru” (Salvifici Doloris, no. 20.).

Kristus telah mengalami penderitaan paling ngeri dan menerima kematian terburuk, yaitu disalib sebagai budak dan penjahat. Paus Fransiskus mengatakan: “Melihat Yesus dalam penderitaanNya, kita melihat seperti pada cermin penderitaan semua umat manusia dan kita menemukan jawaban ilahi untuk misteri kejahatan, penderitaan, kematian”. Sering kali kita merasa ngeri oleh kejahatan, penderitaan dan kesedihan yang menyelimuti kita dan kita bertanya pada diri sendiri: “Mengapa Tuhan mengizinkannya?”. Merupakan luka yang sangat besar bagi kita untuk melihat penderitaan dan kematian, terutama bagi mereka yang tidak bersalah! Ketika kita melihat anak-anak menderita, itu adalah luka di hati. Itu adalah misteri kejahatan. Dan Yesus menanggung semua kejahatan ini, semua penderitaan ini, untuk diriNya sendiri. Dia telah mengambil bagi diriNya sendiri semua penderitaan manusia.

Dalam refleksinya tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10: 30-37), Yohanes Paulus II menegaskan: “Mengikuti perumpamaan Injil itu, kita dapat mengatakan bahwa penderitaan, yang hadir dalam begitu banyak bentuk yang berbeda di dunia kita, juga hadir dalam diri kita untuk membagikan cinta pada manusia, yaitu pemberian diri “aku” seseorang untuk orang lain, lebih-lebih orang yang menderita. Dunia penderitaan manusia terus menerus memanggil dunia lain, demikianlah dapat kita katakan: dunia cinta manusia; dan dalam arti tertentu manusia berhutang budi terhadap penderitaan, sehingga muncul cinta tanpa pamrih, yang membangkitkan dalam hatinya dan menggerakkan perbuatannya. Perumpamaan itu mengungkapkan suatu kebenaran Kristiani yang mendalam, tetapi pada saat yang sama sesuatu yang bersifat universal bagi manusia. Bukan tanpa alasan bahkan dalam percakapan sehari-hari, suatu aktivitas apa pun yang membantu orang yang menderita dan membutuhkan disebut perbuatan “orang Samaria yang baik hati” (Salvifici Doloris, no. 29).

Misteri penderitaan hanya dapat dimengerti dalam terang Kristus. Kristus menyebabkan kita memasuki misteri penderitaan dan untuk menemukan alasannya “mengapa”, sejauh kita mampu menangkap cinta ilahiNya. “Cinta adalah sumber yang paling penuh yang menjawab pertanyaan mengenai makna penderitaan. Jawaban ini telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia di dalam salib Tuhan Yesus Kristus” (Salvifici Doloris, no. 13). Dengan melihat kengerian dosa dan penderitaan, kita akan semakin menyadari akan besarnya akibat dosa, namun juga lebih besarnya cinta  Allah yang datang di dalam diri Yesus Kristus untuk membebaskan kita dari penderitaan kekal akibat dosa. Jika mengalami penderitaan, entah karena kita sendiri mengalami penderitaan itu, ataupun karena kita menderita melihat orang lain yang menderita, maka kita diundang untuk ambil bagian di dalam karya keselamatan. Paus Yohanes Paulus II merefleksikan: “Setiap orang juga dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan di mana Penebusan terlaksana. Dia dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan tadi, di mana semua penderitaan manusia juga telah ditebus” (Salvifici Doloris, no. 19). Pada titik ini, nyatalah apa yang dikatakan Rasul Paulus: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat” (Kol 1: 24).

 

Salam Passio!

 

"SEMOGA SENGSARA YESUS KRISTUS SELALU HIDUP DALAM HATI KITA"

Leave a comment