Renungan Hari Minggu Prapaskah Ke V

Author Fr. Yohan M. M. Sali, CP | Selasa, 23 Maret 2021 09:42 | Dibaca : : 100
Renungan Hari Minggu Prapaskah Ke V

Bacaan I: Yeremia 31: 31-34

Bacaan II: Ibrani 5: 7-9

Bacaan Injil: Yohanes 12: 20-33

 

RENUNGAN

Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kristus tersalib,

Pada Minggu Prapaskah ke V ini kita disuguhkan oleh bacaan suci yang mengundang kita untuk hidup taat kepada Tuhan dan bermanfaat bagi sesama, seperti Yesus yang taat dan wafat bagi umat manusia. Hidup taat dan bermanfaat bagi orang lain tidaklah mudah, penuh tantangan dan godaan, butuh waktu dan proses yang cukup lama untuk dapat melakukan semuanya itu dengan baik. Cara yang paling ampuh untuk belajar taat dan menjadi bermanfaat bagi sesama adalah mengenal Yesus dan mendalami penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib.

Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kritus tersalib

Dalam injil dikisahkan tentang orang-orang Yahudi yang ingin berjumpa dengan Yesus. Orang Yahudi yang ingin mengenal Yesus berusaha dengan susah payah untuk berjumpa dengan-Nya. Tetapi, sebelum berjumpa dengan Yesus mereka terlebih dahulu memberitahukan kepada Filipus yang pada akhirnya bersama Andreas menyampaikan pesan itu kepada Yesus. Yesus tidak langsung menjawab apakah Ia bersedia untuk ditemui oleh orang-orang Yahudi. Yesus malah menyampaikan pengajaran melalui perumpamaan tentang biji gandum.

Dalam perempumaannya, Yesus menjelaskan bahwa sebelum menghasilkan banyak buah dan bermanfaat bagi orang lain, Ia terlebih dahulu melewati sengsara dan kematian. Dengan itu kemudian Yesus menegaskan bahwa murid-murid-Nya harus setia pada panggilan perutusan, bahkan harus berkorban nyawa demi tugas perutusan untuk menjadi berguna bagi sesama manusia.

Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kritus tersalib

Yesus menghendaki agar hidup kita bermanfaat bagi orang lain. Hidup yang demikian tidak mungkin tercapai tanpa keberanian menjalani proses dan mengambil resiko dengan nyawa sebagai taruhannya. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan, tidak ada kesuksesan tanpa penderitaan, tidak ada kebangkitan tanpa penderitaan. Yesus tahu bahwa itulah realita, kebenaran dan kehendak Allah. Yesus dengan taat dan penuh tanggung jawab menerima, merangkul dan menjalaninya.

Dalam kenyataan hidup, kerap kali kita menjauh dari kehendak Allah yang menghendaki proses pertumbuhan kita. Kita menginginkan kesuksesan tanpa kerja keras, tanpa proses, tanpa perjuangan, dan tanpa pengorbanan. Kita terbelenggu oleh keinginan  duniawi sehingga kita menjauh dari kehendak Allah. Untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain, kita harus mampu memproses diri dan belajar taat serta siap untuk dibentuk oleh rahmat Tuhan.

Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kritus tersalib,

Dalam Injil hari ini kita mendengar juga Yesus menyebut diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati agar dapat menghasilkan buah melimpah. Menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati adalah sebuah proses untuk menjadi berguna bagi orang lain seperti biji gandum yang harus mati untuk menghasilkan buah, demikian pula kita, untuk menjadi berguna bagi orang lain, kita harus mampu mematikan segala kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri.

Saudara dan saudari yang terkasih dalam Kritus tersalib,

Marilah kita membuka diri untuk diproses oleh rahmat Tuhan, dengan mati bagi diri sendiri dan hidup bagi sesama. Masa prapaskah ini adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk merefleksikan kehendak Allah atas kita dan menjadi berguna bagi sesama.

 

Salam Passio!

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

 

Video:  https://www.youtube.com/watch?v=QMwbcgs0s8s 

 

 

Leave a comment