JANGAN-JANGAN DIA

Author Fr. Fransiskus Dedyanto,CP | Jumat, 16 Oktober 2020 11:29 | Dibaca : : 42
JANGAN-JANGAN DIA

Di tengah hiru pikuknya kota, bertaburan hembusan debu panas pancaran sang penerang yang seakan nyata mencoba membakar kulit yang kusam dan keriput. Terlihat sesosok manusia separu baya berpakaian aneh menyedihkan menyodorkan kedua tangan yang keriput penuh debu seakan tak berkulit kepada setiap orang yang lewat di depannya. Manusia seperu baya itu bernama pak Dalak. Pak Dalak adalah seorang pengemis tua yang dijuluki penunggu ujung jalan. Pak Dalak menurut cerita orang-orang di sekitar dulunya mempunyai keluarga,  istri dan anak. Tetapi semenjak kejadian yang menusuk hatinya itu ia pun merubah hidupnya dengan menjadi pengemis. Pak Dalak tidak pernah merasa malu terhadap apa yang dikerjakan dan dilakukan baginya selagi masih bisa berdiri dan berbaring apa salahnya kalau menjalani sesuatu dengan niat yang baik. 

Suatu hari seorang pengusaha kaya sedang duduk sembari mengelamun tepat di depan mobilnya  yang mewah berkilauan emas. Pengusaha kaya tersebut sepertinya mengalami suatu hal terburuk dalam hidupnya yang belum terselesaikan dengan tuntas. Melihat pengusaha itu tampak sedih dan stres, pak Dalak pun menghampiri pengusaha itu dengan penuh belas kasihan dan berkata “ Apa yang engkau alami sekarang, hai si perkasa, bukankah hidup yang engkau ciptakan sendiri telah engkau nikmati. Terus mengapa engkau bersedih?. Jawab pengusaha itu :” Engkau tidak tahu apa yang sedang kualami dan engkau tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Engkau hanyalah pengemis tua yang tidak mau bekerja dan hanya bermalas-malasan di jalanan meminta belas kasihan dari orang lain. Jadi tidak usah mengajariku tentang hidup. Aku sendiri tahu dimana aku harus melalui jalur hidup hidupku sendiri. Lalu Pak Dalak pun menyambung perkataan pengusaha kaya itu, katanya,” dunia ini tidaklah luas tetapi sempit jadi janganlah memikirkan hal-hal yang lebih sebab hal-hal yang demikian akan menghancurkan hidup. Mungkin ini semua adalah ujian yang diberikan Tuhan. Nikmatilah apa yang telah engkau jalani dan janganlah merasa bahwa semuanya telah hancur tetapi belajarlah untuk selalu bersyukur pada apa yang baik dan buruk, sebab semua itu adalah warna-warni hidup”. Mendengar perkataan pak Dalak si pengusaha kaya itu pun pergi menghilang bagaikan kilauan petir menyambar langit. Sesampai di rumah si pengusaha kaya tersebut merasa bahwa perkataan pengemis tua itu selalu menggema dalam pikirannya. Maka pengusaha itu pun mulai menenangkan diri dan merefleksikan apa arti semua yang dikata oleh pengemis tua itu. Setelah beberapa detik berpikir ia pun menemukan jawaban yang kiranya selama ini tidak ia bayangkan dan ia sadari. Ia kaget  dan menyadari bahwa ia telah terperangkap atas kebodohannya sendiri.

 Beberapa tahun kemudian pengusaha kaya itu merubah segala hidupnya. Ia pun kini sudah berkeluarga dan menjadi pengusaha yang tangguh dan sukses. Ia selalu menghargai apa yang ia jalani tanpa ada keragu-raguan dan kecemasan. Ia mempunyai perinsip bahwa kehidupan adalah sebuah anugerah terindah dari Sang Pencipta yang harus dijalani dengan cinta di kala suka dan suka. Ia pun mendidik istri dan anak-anaknya dengan penuh kasih yang tak terperikan. Ia selalu mengajarkan bagaimana memaknai segala bentuk hidup. Harapan terbesar yang belum ia temukan ialah berterima kasih dan meminta maaf atas segala perilakunya terhadap pengemis tua yang ia temui di pinggir jalan beberapa tahun yang lalu.

Suatu hari salah satu dari anak pengusaha itu mengikuti kegiatan sekolah yakni “mencintai lingkungan” yang diselenggarakan di kota. Anak tersebut sangat bersemangat mengikuti kegiatan yang diikutinya. Disamping kegiatan yang ia jalani ia pun membantu para orang miskin yang tinggal di pinggiran kota. Dari memberi pakaian, uang dan mengajarkan beberapa pelajaran kepada anak jalanan. Ketika dalam perjalanan menuju bus sekolah tanpa disengaja sebuah mobil menabraknya sehingga anak tersebut menderita beberapa luka di bagian tubuhnya. Dengan segera anak itu langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh seorang yang tidak dikenali identitasnya. “krrring-kring” Bunyi telepon berdering terdengar seorang perempuan bersuara lembut memberikan kabar bahwa salah satu anak dari rumah tersebut mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit. Mendengar perkataan itu seakan menusuk dinding jantung pengusaha tersebut. Ia panik dan gelisah. Tanpa memperpanjang waktu ia langsung menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, si pengusaha itu langsung memeluk buah hatinya. Ketika hendak menuju ke bagian loket pembayaran seorang dokter memberitahukan bahwa semuanya telah terbayar lunas. Ia kaget ,dalam hati ia bertanya siapakah orang yang berhati mulia ini. Ia pun menanyakan ciri-ciri orang itu. Setelah mendengar informasi dari perawat, Ia hanya menduga “jangan-jangan dia (pengemis tua)”. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari pengemis tua itu. Setelah sekian lama dalam perjalanan, akhirnya ia pun menemukan pengemis tua itu. Si pengemis sudah bertambah tua dan sama sekali tidak mengenal pengusaha kaya itu. Ia pun menghampiri pengemis tua dan langsung memeluknya. Katanya sambil meneteskan air mata “Terima kasih atas semua pelajaran yang engkau berikan kepadaku ya bapa. Hari ini aku sadar bahwa apa yang semua orang lakukan di dunia ini bukan hanya melihat dari sisi status. Tetapi dari ketulusan, kesederhanaan, kebahagiaan dan kejujuran yang orang lain berikan serta menghargai hidup baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Bapa, terima kasih”. Kata pengemis tua “Aku hanya melakukan apa yang baik yang bisa aku lakukan. Janganlah berterima kasih kepadaku tetapi berterima kasihlah kepada Tuhan, karena Dialah yang merencanakan semuanya ini. Ini adalah takdir yang harus kita terima dan kita amalkan. Titipkan salamku untuk anakmu. Seketika juga si pengemis tua itu pun meninggal dalam pelukan pengusaha kaya itu. 

 

Salam Passio!

 

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

 

Leave a comment