IMPIAN ALLAH DALAM DIRI SANTO PAULUS DARI SALIB (Pendiri, Misionaris dan Mistikus)

Author | Sabtu, 30 Mei 2020 15:47 | Dibaca : : 373
IMPIAN ALLAH DALAM DIRI SANTO PAULUS DARI SALIB  (Pendiri, Misionaris dan Mistikus)

(Alih Bahasa: P. Adiantus Aloysius, CP & P. Avensius Rosis Kajang, CP)

 

Dalam artikel ini saya diminta untuk merenungkan tema tentang “Impian Allah dalam diri Santo Paulus dari Salib”. Memikirkan judul tersebut, saya tergerak untuk melakukan suatu peremenungan secara lebih mendalam untuk mendapatkan pencerahan, terutama untuk memahami apa yang sesungguhnya menjadi impian Allah bagi dunia, umat manusia dan segenap ciptaan. Inspirasi saya terbersit dari teks Injil Yohanes berikut ini:

 Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya padan-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yoh. 3: 16-17)

 Jadi, dengan yakin kita dapat mengatakan bahwa impian Allah adalah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Faktanya, kita dapat melihat hal ini dinyatakan dengan jelas dalam seluruh Kitab Suci. Di sanalah kita dapat mengikuti perjalanan sejarah keselamatan; kita masuk untuk memahami karya keselamatan Allah dalam hubungan dengan dan dalam sejarah umat Allah. Lebih lanjut, dalam perjanjian hubungan Allah dengan umat-Nya, kita memahami bahwa karya keselamatan Allah didasarkan atas, dan merupakan konsekuensi dari, cinta Allah. Hal ini dinyatakan dengan jelas kepada kita dalam “pemberian anak tunggal-Nya”, Yesus, yang bagi kita adalah wajah manusiawi Allah.

Inilah alasan bahwa salah satu teks yang mendasar bagi para Pasionis adalah nyanyian kristologis dalam Surat rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 2: 6-11 yang memuat aspek inti dari Spiritualitas Pasionis, yaitu 'kenosis' (pemberian diri, pengosongan diri): “Ia (Yesus) telah mengosongkan diri-Nya sendiri… bahkan sampai mati di kayu salib ”(Flp. 2: 7,8).

Dalam bukunya Jesus & Salvation, P. Robin Ryan, seorang Pasionis menulis: “Karya keselamatan Yesus tidak dilakukan bertentangan dengan Allah tetapi dari Allah; Allah yang telah membuat (dan terus membuat) kesejahteraan umat manusia sebagai fokus perhatian-Nya yang paling utama."

Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa impian Allah adalah untuk menyelamatkan manusia dan ciptaan karena cinta Allah yang teramat agung yang telah ditunjukkan dalam pemberian diri Yesus dalam Sengsara dan wafat-Nya di Kayu Salib. Ini adalah impian Allah dahulu, sekarang dan selamanya. Karena itu, sangat penting untuk tetap menghidupkan kenangan akan impian Allah ini, selalu mengingat dan jangan pernah melupakannya. Untuk mewujudkan hal ini sangat diperlukan misi penginjilan.

Mungkin kisah berikut ini akan membantu kita untuk mengerti lebih baik misi yang lahir dari impian Allah:

 

Setelah Yesus kembali ke surga, Ia dan Malaikat Agung Gabriel berbincang-bincang. Bekas-bekas luka akibat siksaan dan penyaliban masih tampak pada tubuh Yesus. Gabriel berkata, "Tuan, engkau pasti sangat menderita! Apakah orang-orang mengetahui dan menghargai seberapa besar kamu mengasihi mereka dan apa yang telah kamu lakukan untuk mereka? " Yesus menjawab, “Oh, tidak; belum. Saat ini hanya beberapa orang-orang di Palestina yang tahu. " Gabriel bingung: “Lalu apa yang sudah engkau lakukan agar semua orang tahu tentang kasih-Mu? " Yesus menjawab, “Aku telah meminta Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, dan beberapa teman mereka untuk memberitahukan tentang Aku kepada orang lain. Mereka yang diberitahu akan memberitahu orang lain tentang Aku, dan orang-orang lain itu akan memberitahu yang lain lagi sampai pria dan wanita terakhir di sudut terjauh dari bumi akan mendengar kisah tentang bagaimana Aku memberikan hidup-Ku bagi mereka karena Aku sangat mengasihi mereka." Gabriel mengerutkan kening dan tampak agak skeptis. "Iya, tetapi bagaimana jika Petrus dan yang lainnya lelah? Bagaimana jika orang-orang yang mendengarkan mereka lupa? Tentunya engkau telah menyiapkan rencana lain?" Yesus berkata, "Gabriel, Aku tidak menyiapkan rencana lain. Aku mengandalkan mereka."

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya berbagi dan mengambil bagian dalam rahmat abadi yang lahir dari impian Allah, tetapi juga untuk mengenang dan mewartakan karya keselamatan Allah. Surat kepada orang Ibrani mengingatkan kita akan hal itu, “Pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, tetapi pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya...” (Ibr. 1: 1-2) – secara lebih istimewa dalam karya keselamatan melalui Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Putera-Nya.

Selama berabad-abad, banyak orang terkenal membawa misi penginjilan ini. Pada dunia abad ke-18 Eropa, seorang pemuda dari Italia utara, Paulus Fransiskus Danei (1694-1775) – kemudian dikenal sebagai Paulus dari Salib – 'dibangkitkan' oleh Allah untuk tetap menghidupkan kenangan akan Sengsara Yesus sebagai karya terbesar dan teragung dari kasih Allah – karya keselamatan Allah. Ini adalah inspirasi karismatik yang mengarahkan Paulus kepada pertobatan dan yang menjadi keutamaan hidupnya; suatu keutamaan yang memberikan makna, kesatuan dan dorongan atas semua yang telah ia lakukan dan derita. Berbicara tentang kemujaraban dari "memoria" akan Sengsara Yesus, Paulus menulis:

“Cara yang paling mujarab untuk pertobatan orang-orang berdosa dan untuk pengudusan jiwa-jiwa adalah kenangan yang terus-menerus akan Sengsara Yesus Kristus; melupakannya akan mendatangkan kejahatan dan kekacauan yang menyedihkan.” (Catatan 1768)[1]

Kelupaan mendalam akan Allah yang Maha kasih telah menjadi biasa selama masa di mana Paulus dari Salib hidup. Paulus sendiri menggambarkannya kepada kita dalam “Catatan 1747”:

 ... di masa yang menyedihkan dan menyakitkan ini kita sekarang melihat setiap jenis kejahatan bekerja secara terang-terangan, menimbulkan dampak buruk juga terhadap iman kita dan yang secara kuat telah mempengaruhi bebagai segi kekristenan. Dunia terjerembab pada kelupaan mendalam akan kesengsaraan terpahit yang pernah ditanggung oleh Yesus Kristus, Kebaikan sejati kita yang penuh kasih, sementara kenangan akan Sengsara Tersuci-Nya telah menjadi punah di tengah umat.

Demi membantu dunia memulihkan dan membangunkan kembali "memoria", "kenangan" akan Sengsara Yesus yang menyelamatkan, Paulus merasa terinspirasi "untuk mengumpulkan rekan-rekan", dengan maksud (yang kemudian dia sebut) mendirikan Kongregasi baru yang tujuan utamanya adalah menggerakkan kenangan yang hidup akan Sengsara Yesus pada umat Allah. Dalam “Catatan 1768” Paulus menulis tentang asal usul karismatis Kongregasi:

Oleh karena itu, Allah kita yang Maha pengasih dalam Kebaikan-Nya yang tak terbatas telah memberikan inspirasi yang kuat dan meyakinkan untuk mendirikan Kongregasi miskin ini di dalam Gereja Kudus. Tujuannya adalah untuk membentuk para pekerja yang bersemangat yang dipenuhi Roh, sehingga mereka dapat menjadi alat yang sesuai untuk dipakai oleh Tangan Tuhan Yang Mahakuasa untuk menabur kebajikan dan membasmi kejahatan dalam diri manusia dengan senjata paling ampuh yakni Sengsara Yesus Kristus, yang kepada daya tariknya yang penuh kasih bahkan hati yang paling keras pun tidak bisa menolak.

Inilah impian Allah dalam diri St. Paulus dari Salib: bahwa akan ada sekelompok misionaris (Pasionis) yang akan memberikan kepada gereja dan dunia kontribusi yang efektif, dengan cara hidup kontemplatif-apostolik yang berpusat pada kenangan akan Sengsara Yesus. Para pasionis mengikrarkan kaul “untuk mengenang dengan penuh kasih Sengsara Tuhan kita dan untuk mengusahakan kenangan akan Sengsara Yesus tersebut dengan perkataan dan perbuatan."

Dalam peringatan 300 tahun berdirinya Kongregasi yang akan kita rayakan pada tahun ini (22 November 2020), kita bersyukur atas semua rahmat yang telah Tuhan kerjakan melalui kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan dari para pasionis yang tak terhitung jumlahnya, baik di masa lalu maupun di masa kini, yang terus mempersembahkan hidup mereka sebagai alat yang melaluinya kasih Allah yang menyelamatkan berbuah dan impian Allah terwujud.

Kita harus ingat bahwa dalam impian Allah, St. Paulus dari Salib dipilih tidak hanya untuk mendirikan sebuah kongregasi pria yang memiliki misi “untuk memberitakan Injil Sengsara melalui hidup dan kerasulan [mereka] ” (Konst. 2), tetapi ia juga dipanggil untuk mendirikan sebuah kongregasi perempuan (Rubiah Kontemplatif dari Sengsara Yesus) yang memiliki misi untuk menerima, merenungkan dan memelihara Sabda Salib di dalam hati mereka seperti yang dilakukan Maria.

Sesuai dengan tema Yubileum 300 tahun Kongregasi “Pembaharuan Misi Kita”, marilah kita berdoa dan meluangkan waktu untuk merefleksikan pembaruan (pertobatan) pribadi dan bersama sehingga kasih Allah yang menyelamatkan yang dinyatakan dalam misteri Sengsara Yesus Kristus dapat menjadi terang dan cahaya yang dengannya kita dapat melihat semua kenyataan. Di dunia yang melupakan kasih Allah yang maharahim, marilah kita berdoa dan bekerja dengan murah hati untuk mengarahkan gelombang di jalan harapan yang ditemukan dalam luka-luka Kristus; seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus dari Salib: “Hikmat dan kebijaksaan berasal dari luka-luka Yesus; kesengsaraan-Nya adalah segalanya

 

Salam Passio!

 

"Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita"

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment