Katakan Apa Adanya Kita - Refleksi Minggu Prapaskah III – 11 Maret 2018

Author | Kamis, 15 Maret 2018 21:37 | Dibaca : : 1907
Ilustrasi Ilustrasi Pintarest

Paul O'Reilly, seorang imam Yesuit di Inggris mengisahkan pengalaman ketika dia masih sebagai seminaris dan ditugaskan untuk menjalani pastoral di sebuah paroki. Tugas khusus yang diberikan kepadanya adalah ‘Drinkers’ Duty’ atau 'Tugas bagi para Peminum alkohol'. Setiap pagi pukul 08.00, sekitar 20 sampai 30 orang datang ke gereja untuk memberi tahu Paul berapa banyak alkohol yang mereka minum di hari sebelumnya. Tugas Paul bukanlah untuk mengatakan 'itu bagus' atau 'itu buruk' tetapi hanya menuliskannya. Berbagai macam orang muncul, dari pecandu narkoba yang tidak berdaya sampai para pengusaha kaya dan sukses. Terkadang mereka datang dengan sangat bangga dan berkata 'Tidak minum! Hanya dua liter untuk seminggu penuh.' Di lain waktu, satu atau lebih dari mereka terlihat sangat tersipu-sipu dan malu sambil berkata: ‘mmm ... delapan kaleng, Saudaraku!'

Tidak ada yang memaksa mereka melakukan ini. Mereka sendiri yang ingin melakukannya. Mereka adalah orang-orang yang tahu bahwa mereka memiliki masalah dengan alkohol. Mereka juga tahu apa yang Yesus katakan kepada kita hari ini bahwa 'setiap orang yang melakukan kejahatan membenci terang dan menghindarinya, karena takut tindakan mereka itu terlihat; tetapi orang-orang yang hidup oleh kebenaran datang kepada terang, sehingga dapat terlihat dengan jelas bahwa apa yang mereka lakukan dilakukan di dalam Allah’ (Yoh 3:20-21).

Jadi, mereka yang mengalami persoalan dengan alkohol itu membutuhkan seseorang yang selalu siap setiap hari untuk menjadi tempat di mana mereka bisa merasa cukup aman untuk jujur ​​tentang diri mereka, untuk memberitahukannya persis seperti yang mereka lakukan.

Hal ini, tentu saja, erat terkait dengan sakramen yang disebut 'Rekonsiliasi' atau 'Pengakuan Dosa' dalam Gereja Katolik. Orang yang bukan Katolik merasa sulit untuk mengerti hal ini. Mereka bertanya, 'Mengapa saya tidak bisa langsung mengakui dosa-dosa saya kepada Tuhan? Mengapa saya harus repot-repot ke kamar pengakuan dan menemui imam?"

Jawabannya tentu saja adalah bahwa kita dapat mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan. Tidak ada yang bisa menghentikan kita. Tetapi kita semua sadar bahwa kita manusia sangat mudah untuk menipu diri kita sendiri. Bukan hanya para pecandu alkohol dalam cerita di atas. Kita semua membutuhkan tempat yang aman dan orang yang kita percaya, untuk mengatasi hal-hal buruk yang telah kita lakukan dan hal-hal baik yang telah kita gagal lakukan. Kita membutuhkannya karena sebagai orang Katolik kita ingin hidup dengan Kebenaran, Kebenaran yang membebaskan kita, Kebenaran yang datang kepada kita dalam perkataan Yesus yang mengatakan melalui imam 'Saya membebaskan Anda dari dosa-dosa Anda', 'Saya membebaskanmu'.

Banyak orang Katolik merasakan bahwa mendengar kata-kata itu seperti 'dipeluk oleh Tuhan'! Jadi, mari kita manfaatkan karunia dari Yesus Kristus ini yang telah sampai kepada kita melalui Gereja-Nya, ini adalah praktik penyembuhan yang sangat ampuh untuk memberi harapan baru bagi hidup kita.

 

Salam Passion!!!

 

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment