Pengantar
Setiap ordo atau kongregasi memiliki spiritualitas yang berbeda. Perbedaan spiritualitas yang dihidupi dan diwarisi oleh pendiri masing-masing ordo atau kongregasi menjadi kekayaan bagi Gereja universal. Spiritualitas yang berbeda dari masing-masing ordo atau kongregasi itu bisa saling melengkapi. Berbeda namun mempunyai tujuan yang sama, yakni memperkaya “Tubuh Mistik Kristus”. Demikian juga Kongregasi Pasionis yang didirikan oleh Santo Paulus dari Salib mewarisi “Spiritualitas Sengsara Yesus sebagai Spiritualitas Kongregasi. Paus Benediktus XIV sewaktu mengesahkan regula yang diajukan Paulus dari Salib sebagai syarat untuk mendirikan Kongregasi Pasionis tahun 1741 mengatakan “Kongregasi Sengsara Yesus Kristus ini seharusnya lahir pertama, ternyata lahir terakhir”. Kongregasi pasionis mendapat tempat dalam Gereja untuk menghidupi dan mewartakan spiritualitas sengsara Yesus bagi dunia.
Spiritualitas sengsara Yesus bagi Santo Paulus dari Salib sebagai karya cinta kasih Allah yang paling agung dan luhur bagi manusia. Keagungan kasih yang mengalir dari urat nadi Gereja, melalui Sengsara Yesus menjadi aktual sepanjang zaman. Aktualitas sengsara Yesus amat nyata dalam penderitaan manusia yang masih terus berlangsung dalam sejarah hidup manusia. Dalam arti inilah bahwa spiritualitas sengsara Yesus tetap relevan dalam Gereja. Wajah Yesus yang menderita dikenali dalam diri orang yang menderita, memungkinkan manusia dapat mengenal prinsip hidup ilahi dan manusiawi dalam diri Yesus. Yesus sebagai Putra Allah menjelma menjadi manusia dan mau menderita sengsara demi membebaskan manusia dari dosa merupakan konsekuensi logis dari sebuah pilihan bebas-Nya. Pilihan bebas dimana bahwa keselamatan manusia menjadi perioritas utama dalam tugas misi perutusan-Nya ke dunia. Dia telah menyelesaikan tugas perutusan tersebut lewat pengorbanan yang tidak kecil, yakni penyerahan nyawa bagi manusia. Melalui penderitaan itulah Yesus telah membuka jalan baru bagi manusia, yakni jalan penderitaan menuju keselamatan. Keselamatan yang diperoleh melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Dalam permenungan ini kita akan melihat sengsara Yesus dalam realitas penderitaan manusia, makna baru penderitaan manusia, sengsara Yesus untuk kehidupan dan sengsara Yesus untuk direnungkan dan diwartakan.
1). Sengsara Yesus dalam realitas penderitaan manusia
Sengsara Yesus dalam realitas penderitaan manusia masih relevan, ada dan terus berlangsung dalam diri orang-orang yang menderita. Meskipun masih relevan namun ternyata bahwa masih banyak orang yang tidak menerima penderitaa itu. Dikatakan demkian karena berbicara tentang sengsara Yesus dalam realitas hidup manusia yang menderita dipandang tidak terlalu menarik. Mengapa karena ada pandangan yang mengatakan bahwa manusia lahir bukan untuk menderita, melainkan untuk bahagia. Paham kebahagiaan yang lepas dari konteks penderitaan bisa mengaburkan kebahagiaan sejati yang hanya dapat diperoleh melalui jalan derita. Sadar bahwa penderitaan manusia di bahwa kolong lagit ini tidak pernah akan berakhir dan manusia juga tidak bisa membebaskan dirinya dari penderitaan tersebut. Dalam situasi yang demikian membuat manusia memberontak dan menolak setiap bentuk penderitaan yang dialaminya. Muncul pertanyaan eksistensi hidupnya mengapa dia lahir, untuk apa hidup dan mengapa ada penderitaan. Litani penderitaan yang demikian kerap membuat manusia fustrasi dan kehilangan iman. Mereka yang kehilangan iman akan melihat penderitaan sebagai hal yang menakutkan yang perlu dihindari. Melalui penderitaan itu, mereka beranggapan bahwa Allah itu jauh dan tidak peduli dengan nasib yang sedang mereka alami. Apakah Allah itu jauh dan tidak peduli dengan nasib manusia yang menderita, tentu tidak. Kepedulian Allah amat nyata dalam diri Yesus, wajah kasih ilahi yang bisa dikenal dan dialami oleh manusia. Dikenal karenaYesus walaupun kaya telah mengambil bagian dalam kemiskinan dan penderitan manusia. Penderitaan manusia ada nilainya karena Yesus telah menderita demi keselamatan manusia. Bagi mereka yang tidak menolak penderitaan akan melihat bahwa melalui penderitaan Yesus, penderitaan mereka ada artinya. Mereka percaya bahwa ada sukacita di balik penderitaan. Ada kepasrahan kepada kehendak Ilahi, sebab melalui sengsara Yesus penderitaan mereka diringankan, jiwa dimurnikan. Sengsara Yesus sebagai sarana menuju kesucian dan kesempurnaan bersama Sang Tersalib. (*M. Viller, SJ., Kehendak Allah Dalam ajaran Santo Paulus dari Salib). Sengsara Yesus sebagai balsem untuk mengobati setiap penderitaan manusia kata Santo Paulus dari Salib.
Penderitaan manusia disempurnakan oleh penderitaan Yesus sendiri. Bila demikian penderitaan manusia ada nilainya. Penderitaan dan salib Yesus mengungkapkan kasih yang tanpa batas dalam realitas penderitaan manusia. Kasih yang menyatuh dengan penderitaan manusia dan penderitaan manusia harus dipandang dalam kesatuan yang tak terpisahkan dengan penderitaan Yesus sendiri. Kesatuan hidup dengan penderitaan Yesus membuat kita bahagia karena boleh diberi karunia untuk mengabil bagian dalam penderitaan-Nya. Melalui penderitaan kita menemukan identas diri secara penuh sebagai orang beriman yang tahu apa artinya menderita dan apa artinya bahagia. Kebahagiaan sejati hanya ditemukan dalam Dia yang menderita dan bangkit untuk memuliakan hidup kita.
Bila demikian maka memoria pasionis menjadi memoria setiap hati manusia yang menderita untuk menerima kemuliaan di dalam Dia yang lebih dahulu menderita demi kita. Memori Pasionis masih terus hidup dalam realitas penderitaan manusia zaman ini. Memoria Pasionis harus menjadi memoria dalam setiap bentuk penderitaan kita, yang kita terima dalam cahaya iman. Melalui cahaya iman yang sama Rasul Petrus mengatakan kepada kita “Kamu harus bersuka hati bila turut memikul sebagaian dari penderitaan Kristus, sebab dengan demikian kamu pun akan turut bersukacita, bila Kristus tampak dalam kemuliaan-Nya” (1 Pet. 4, 13-14).
Penderitan yang kita alami akibat penyakit atau persoalan berat menempatkan keberadaan kita dalam zona krisis. Krisis melahirkan berbagai pertanyaan tentang esksistensi hidup itu sendiri. Mengapa penderitaan itu bisa terjadi padaku bukan pada orang lain? Pertanyaan tersebut bisa diartikan sebagai bentuk penolakan terhadap realitas penderitaannya. Atau sebagai tanda dari orang yang tidak bersahabat dengan penderitaanya. Realitas penderitaan manusia yang masih terus berlangsung tidak akan sia-sia, bila dipersatukan dengan penderitaan Yesus sendiri. Penderitaan Yesus memberi arti baru bagi mereka yang menderita dengan diam, sabar tanpa hiburan dan tanpa mengeluh. Kepasrahan dalam penderitaan harus juga dilihat sebagai kehendak Allah, memungkinkan manusia untuk menerima penderitaan sebagai jalan para kudus. Sebab melalui penderitaan itulah mereka menemukan kepenuhan hidup sebagai murid Yesus yang otentik.
2). Sengsara Yesus memberi makna baru bagi setiap penderitaan manusia
Penderitaan demi penderitaan bisa membuat manusia putus asa dan kehilangan harapan hidup. Kalau pun bertahan tanpa harapan tanpa dilandasi iman, maka penderitaan yang dialaminya tidak mempunyai nilai apapun. Boleh dikatakan penderitaan tanpa makna, karena terpusat pada diri sendiri. Manusia menemukan makna baru dari setiap penderitaan yang dialaminya sejauh dikonsekrasikan kepada Dia yang menderita demi keselamatan kita. Dia selalu berjalan di samping kita yang dibebani salib hidup, Dia pulalah yang meringankan dan menghibur kita dengan penghiburan yang berlimpah-limpah (2 Kor.1:3-5).
Gereja harus melihat bahwa penderitaan dan sengsara Yesus sebagai karunia yang luar biasa dan bukti cinta kasih tertinggi bagi manusia yang mengambil bagian dalam penderitaan-Nya. Melalui penderitaan dan sengsara Yesus, kita tidak hanya dihantar ke jalan kesucian tetapi juga diselamatkan. Sengsara Yesus merupakan pernyataan kasih Ilahi yang oleh Santo Paulus dari Salib sebagai karya terbesar dan paling besar dari kasih Allah. Sengsara Yesus sebagai keajaiban mukjizat dari cinta Ilahi. Juga merupakan wahyu kasih Bapa dalam lingkaran Trinitas di mana manusia dipanggil untuk hidup kekal. (*Adolfo Lippi., Paolo della Croce Mistico ed evangelizzatore Maestro di santità per oggi, Edizionni Feeria, 2014).
Makna baru penderitaan dan sengsara Yesus bagi setiap penderitaan manusia dapat dilihat dari nilai sengsara itu sendiri.
Pertama bahwa penderitaan Yesus mengubah penderitaa manusia menjadi bermakna dalam arti tidak sia-sia. Bermakna bukan karena besar atau kecilnya penderitaan yang kita alami, melainkan karena Yesus mengambil bagian dalam penderitaan kita. Penderitaan kitapun harus ada dalam kesatuan dengan penderitaan-Nya. Penderitaan dan salib yang dialami merupakan tanda kemuridan kita. Sebagai murid Yesus kita tidak perlu takut dan tidak perlu menghindari setiap bentuk penderitaan. Menghindari penderitaan dan salib sama halnya kita menyangkal identitas kita sebagai murid Yesus. Menolak Dia yang menderita sama halnya kita menolak keselamatan yang telah menderita. Penderitaan dan salib Yesus jalan menuju keselamatan kita bersama Allah. Relasi kita dengan Allah yang dirusak oleh dosa telah dipulihkan kembali lewat penderitaan dan salib Yesus.Yesus telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1 Ptr. 2:21). Teladan dan jejak Yesus dalam penderitaan sebagai pintu masuk bagi setiap umat beriman untuk mempersembahkan setiap penderitaannya kepada Dia yang tersalib. Menderita bersama Yesus bagi Santo Paulus dari Salib merupakan jalan kesempurnaan. Menerima penderitaan seperti Yesus harus dipahami sebagai suatu karunia dari Allah. Kita diajak untuk menerima setiap bentuk penderitaan dengan tenang dan sabar. Jangan memandang salib dan penderitaan itu, tetapi pandanglah Dia Yang Tersalib dengan penuh cinta dan bawalah sengsara Yesus ke dalam hati, maka segala penderitaan akan menjadi manis. (*Carlo Marziali CP., Santo Paulus dari Salib Pendiri Kongregasi Pasionis, Kanisius, 1989.) Dikatakan demikin karena melalui penderitaan dan salibNya,penderitaan kita menjadi bermakna karena sudah dimurnikan dengan harga yang sangat mahal, yakni dengan darahNya sendiri (1Ptr. 1, 18-19).
Kedua, penderitaan, sengsara, dan wafat Yesus sebagai silih atas dosa manusia. Manusia tidak bisa menebus dirinya sendiri atau memberi silih kepada Allah untuk dosa-dosanya. Atau dengan kata lain manusia tidak bisa memberi silih atas dosanya sendiri melalui penderitaanya. Melainkan bahwa hanya Allah dalam diri Yesus yang dapat memberi silih atas dosa manusia. Santo Paulus dari Salib mengatakan bahwa sengsara Yesus adalah balsem yang paling mujarab untuk mengobati segala penyakit. Melalui sengsara dan wafat Yesus kita dapat diselamatkan dan beroleh kebahagiaan di dalam Dia. Pintu kebahagiaan itu selalu terbuka bagi mereka yang mengambil bagian dalam penderitaan dan wafat Yesus. Cara mengambil bagian, yakni dengan merima setiap bentuk penderitaan yang dialaminya dalam cahaya iman. Dengan iman kita percaya bahwa untuk menuju keselamatan dan kemuliaan bersama Yesus harus melalui penderitaan dan salib. Di balik dirita dan salib itulah kita menemukan sukacita dan kebahagiaan abadi. Apalah arti penderitaan dan salib bila dibandingan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita tentu jauh lebih besar dan sempurna.
Ketiga, sengsara Yesus sebagai tanda kasih kepada Allah dan manusia. Penderitaan dan salib Yesus tidak sekedar memenuhi kehendak Bapa dan pilihan bebas-Nya, melainkan sebagai tanda kasih kepada Bapa dan manusia. Bukti kasih yang amat nyata lewat penderintaan-Nya sampai wafat di salib (Yoh.10:17-18). Sebuah tindakan knosis dimana Yesus memikul atas diriNya dosa-dosa kita manusia dan menggantikan kita serta menanggung akibat dosa. Manusia yang berbuat dosa dan Dia yang menebusnya melalui sengsara dan wafatNya di salib. Hanya oleh dan melalui kasih yang semata itulah kita diselamatkan. Bagi Santo Paulus dari Salib sebab utama sengsara Yesus bukan karena dosa manusia, melainkan cinta kasih Allah. Kasih yang nyata dalam sengsara merupakan fakta yang paling meyakinkan bagi kita manusia. Oleh karena itu setiap bentuk penderitaan yang kita alami harus diterima dengan iman, dengan diam tanpa banyak kata dan tanpa hiburan, merupakan salah satu bentuk kasih kita kepada Yesus.
3). Sengsara Yesus untuk kehidupan
Sengsara Yesus yang direnungkan, dihayati dan diwartakan oleh Santo Paulus dari salib bukan untuk kematian, melainkan untuk kehidupan. Kehidupan yang bersumber pada misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Iman kita kepada Yesus tidak hanya bersumber pada kebangkitan, melainkan juga pada sengsara dan wafatNya. Sengsara Yesus harus kita terima dengan iman yang utuh. Dengan iman kita bisa menerima bahwa sengsara Yesus bukan untuk membelenggu hidup, tetapi menghidupkan hidup itu sendiri. Hidup yang dijiwai oleh sengsara Yesus membuat kita mampu untuk menerima dan bersahabat dengan penderitaan kita. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa sengsara Yesus yang diajarkan dan diwariskan oleh Santo Paulus dari Salib sungguh menghidupkan kita. Kita hidup dari sumber yang menghidupkan dan menguatkan kita, yakni sengsara Yesus. Sengsara Yesus tidak hanya di dada tetapi harus selalu ada di dalam hati kita umat beriman apalagi sebagai Pasionis. Sengsara Yesus yang membuat penderitaan kita berarti dan bernilai untuk hidup. Hidup yang mengalir dari sengsara Yesus membuat hidup kita lebih hidup. Sengsara Yesus menjadi energi baru yang mampu mengubah penderitaan kita menjadi sukacita. Sukacita yang mengalir dari sumber yang satu dan sama, yakni Kristus yang tersalib. Di dalam Dia yang tersalib ada hidup dan keselamatan kita.
Bila sengsara Yesus untuk kehidupan manusia, maka bagi kita tak ada alasan untuk menjauhi, apalagi menolak setiap bentuk penderitaan. Menolak berbagai bentuk penderitaan manusia berupa penyakit fisik atau karena iman sama halnya kita menolak Yesus dan penderitanNya. Menolak Yesus yang menderita sengsara berarti kita menolak hidup dan keselamatan di dalam Dia yang hidup. Yesus yang menderita sengsara merupakan jalan menuju pintu sukacita, pintu keselamatan kita. Semua kita yang beriman kepadaYesus akan melewati jalan salib menuju Yesus sebagai pintu ke kehidupan itu sendiri. Yesuslah pintu hidup dan sukacita bagi kita sebagaimana dikatakan-Nya sendiri “Akulah jalan kebenaran dan hidup” (Io sono la via, la verità e la vita) (Yoh. 14:6). Selanjutnya Dia dengan tegas mangatakan “Aku datang agar kalian mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Io sono venuto perché abbiano la vita e abbiano in abbondanza) (Yoh. 10:10). (*Santo Yohanes Paulus II., Evangelium Vitae, Paoline Editoriale Libri, 1995.)
4). Sengara Yesus untuk direnungkan dan diwartakan
Sengsara Yesus sebagai spiritualitas Kongregasi Pasionis dihidupi dan diwarisi oleh Santo Paulus dari Salib bagi Gereja. Dia merenungkan, menghayati sengsara Yesus kemudian baru mewartakannya. Tidak ada waktu yang terlewatkan begitu saja baginya tanpa kontemplasi akan sengsara Yesus. Hidupnya sungguh tak terpisah dari sengsara Yesus, sebab sengsara Yesus merupakan hadiah terbesar baginya. Dia mengatakan “oh andaikata kalian mengerti kekayaan yang tersembunyi dalam penderitaan betapa bergembiralah hatimu” (surat-surat St.Paulus dari Salib). Merenungkan sengsara Yesus itu penting, karena ini merupakan inti pewartaan Gereja. Sebab kita tahu bahwa pewartaan Gereja tidak hanya pada misteri Paskah tetapi juga misteri sengsara. Yang satu tak bisa dimengerti dan tak akan bermakna tanpa yang lainnya. Keduanya direnungkan dan diwartakan secara utuh. Santo Paulus dari Salib menampilkan kesatuan misteri utuh itu dalam misi dan kerasulannya. Dalam misi dan kerasulannya, dia selalu mengajak umatnya untuk merenungkan sengsara Yesus, lewat meditasi selama satu jam. Mereka diajak untuk tenggelam dalam lautan cinta kasih yang tak terbatas. Lautan yang berasal dari sengsara Yesus, sebab sengsara Yesus Kristus adalah lautan kedukaan sekaligus lautan kecintaan. (*Martin Bialas CP. Sengsara Yesus Karya Kasih Allah yang Mulia.) Melalui renungan itu mereka menimbah kekayaan dari sumber-Nya untuk diberi kesaksian dalam pewartaan bahwa sengsara Yesus adalah karya cinta kasih Allah yang paling agung bagi manusia.
Mencintai sengsara Yesus merupakan kualitas iman dan tanda kemuridan kita sebagai pengikut Yesus. Melepaskan diri dari permenungkan akan sengsara Yesus, pewartaan dan kesaksian kita sebagai Pasionis dan umat beriman menjadi tak bermakna. Kekuatan dari sebuah kesaksian terletak pada kedalaman hidup kita dalam kesatuan dengan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Menenggelamkan diri dalam lautan sengsara Yesus terlebih dahulu kemudian baru keluar untuk memberi kesaksian lewat pewartaan sabda Salib, merupakan hal yang terindah dalam hidup dan panggilan kita sebagai religius Pasionis. Oleh karena itu, dalam aneka kesibukan apa pun tidak boleh menjauhkan diri kita dari renungan sengsara Yesus. Kita harus mempunyai waktu khusus untuk merenungkan sengsara Yesus, bila tidak, apa yang harus kita wartakan dan beri kesaksian? Kesaksian dan pewartaan tentang sabda Salib akan menjadi lebih hidup dan bermakna bila lahir dari kesatuan hidup dan pengalaman bersama Dia yang tersalib. Tanpa ada pengalaman akan Dia, pewartaan kita tentang Sabda Salib tidak ada artinya.
Merenungkan dan mewartakan sengsara Yesus tidak hanya ekslusif bagi para religius Pasionis, melainkan seluruh umat beriman mempunyai tugas dan kewajiban yang sama. Melalui sakramen baptis kita mengambil bagian dalam Tritugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Aspek kenabian dalam mewartakan Sabda Salib, merupakan tugas dan panggilan kita sebagai umat beriman.
Penutup
Spiritualitas kongregasi Pasionis adalah spiritualitas sengsara Yesus. Spiritualitas sengsara Yesus yang diwariskan oleh Santo Paulus dari Salib merupakan karya cinta kasih Allah yang paling agung bagi manusia. Paulus dari Salib tahu bahwa tidak ada kasih tanpa salib, tanpa kerendahan hati, tanpa kesabaran dan tanpa pengosongan diri. Ambillah buahnya dan tinggalkan daunnya, mengambil buah dari pohon kerendahan hati, kesabaran dan cinta kasih. Cinta kasih Allah yang nyata lewat sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus demi keselamatan manusia. Keselamatan manusia diperoleh melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus memberi arti dan makna baru bagi setiap penderitaan manusia. Penderitaan manusia sebagai bentuk imitasi ke dalam penderitaan Yesus sendiri. Bila demikian, maka bentuk penderitaan manusia, berat atau ringan, semuanya bermakna, dalam arti tidak sia-sia.
Ketika kita menyatuhkan diri dengan penderitaan Yesus, maka penderitaan kita menjadi manis, kata Santo Paulus dari Salib. Manis karena di balik penderitaan ada sukacita dan kemuliaan bersama Dia yang menderita, wafat dan bagkit untuk menebus kita. Sebagai Pasionis dan umat beriman kita harus bersahabat dengan penderitaan. Menerima penderitaan sebagai karunia yang dijalani dengan diam tanpa kata dan tanpa hiburan. Menerima penderitaan dengan iman dan kasih. Menerima penderitaan dengan kepasrahan kepada kehendak Allah, juga sebagai pemurnian jiwa dan kesempurnaan hidup. Kita tahu bahwa di atas dunia ini tidak ada cinta yang benar tanpa penderitaan. Puncak cinta kasih Ilahi letaknya dalam sengsara dan wafat Yesus. Bahkan Sengsara Yesus sebagai lautan cinta kasih dan dukacita yang bersatu padu dalam wafatNya. Oleh karena itu, kita diajak untuk tenggelam dalam lautan cinta kasih Ilahi lewat meditasi dan kesaksian hidup, bahwa sengsara Yesus selalu ada dalam hati kita. Melalui itu kita dipanggil memberi kesaksian lewat pewartaan sabda salib. Mewartakan Sabda Salib dalam kesatuan dengan misteri kebangkitan merupakan inti pewartaan iman Gereja.
Salam Passion!!!
“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”