Ketika Cinta Berbicara

Author Fr. Andreas Pisin, CP | Jumat, 16 Oktober 2020 12:04 | Dibaca : : 35
Ketika Cinta Berbicara

Pagi itu aku tidak mengerti dan tidak tahu mengapa ayahku tidak berangkat ke ladang padahal hari terlihat begitu cerah. Ibu dan ayah membicarakan sesuatu yang kurang jelas bagiku. Ibuku tiba-tiba menyuruhku memegang telinga kanan dengan tangan kiri apakah tanganku sudah bisa menjangkau telingaku dengan tanganku. Aku menurut saja dan ketika aku sudah bisa memegang telingaku ibuku bilang benar pak Kristo sudah boleh sekolah. Sampai pada detik itu aku tetap belum mengerti tentang semuanya itu. Aku diajak ayahku mandi ke sungai dan mengenakan pakaian baru yang mama belikan beberapa hari lalu. Aku belum memiliki baju seragam. Memang waktu itu seragam adalah pakaian yang sulit dicari dan harus membelinya ke pusat kecamatan dengan dua hari perjalanan dengan motor air.

            Ayah mendaftarkan aku di Sekolah Dasar. Hari pertamaku sangat menyenangkan. Aku dan bapakku datang pagi-pagi ke rumah kepala sekolah untuk daftar masuk SD. Setelah itu bapak pulang dan aku menunggu di rumah kepala sekolah. Karena masih lama aku mau menyusul sepupuku kerumahnya kebetulan rumahnya dekat sekolah. Sepupuku bilang “Kristo kamu mau kemana kok pakaian kamu baru sekali?” Tanyanya heran. “Aku mau sekolah seperti kamu juga.” “Oh baguslah kok kamu masuk baru sekarang, sekarangkan sudah semester kedua, kok bisa masuk.” Katanya “entahlah kataku.” He bang nanti kita duduk berdua ya? Kataku semangat iya nanti kita bertiga saja kamukan baru masuk. Iya baik kataku. Eh kalau gitu aku duduk sama Ahen saja kataku eh jangan dia sudah kelas tiga kamu tidak boleh duduk sama dia. Kata abang sepupuku.

Selama beberapa bulan terakhir aku sering tidak ada teman bermain dan aku heran kemana saja mereka semua setelah siang baru mereka bermunculan dan mandi di sungai. Sekarang baru aku sadari bahwa mereka ternyata sudah sekolah. Hari itu aku masuk sekolah dengan baju baru yang baru kusadari ketika sudah besar bahwa baju yang kupakai adalah baju untuk anak cewek dengan gambar “hello kitty dengan motif anyaman bambu warna putih biru, celakanya lagi di kepala kitty itu ada bendo dengan bunga warna merah. Aku tidak mengerti tentang pakaian waktu itu, yang terpenting bagiku adalah pakaian baru. Tasku juga unik dari kresek bekas garam yang bermerek dua anak pintar, aku tidak ada rasa malu sama sekali waktu itu. Aku juga suka merombeng waktu kecil bila bermain dengan teman-teman, pokoknya apapun yang masih bisa dipakai akan kami ambil dan pakai. Suatu hari aku menemukan sebuah tas kecil berwarna merah, lalu besoknya langsung kupakai sekolah aku tidak mengerti mengapa mereka tertawa dan ibukupun tidak menegur aku. Aku tidak mengerti bahwa tas itu ada yang khusus anak cewek dan ada yang khusus anak cowok dan yang kupakai dengan bangga adalah tas untuk anak cewek. Bertali kecil kemudian belakangnya diikat seperti pita kado. Ha..ha…lucu dan konyol sekali.

            Pengalaman yang mengubah hidupku waktu itu adalah, ketika aku dipukul oleh pak guru. Semua berawal ketika ada teman yang menggambar di sampul buku karena dia kehabisan kertas. Ketika melihat itu pak guru tidak tanya-tanya lagi langsung memukul kepalaku menggunakan ballpoint sampai lepas tutupnya. Aku kaget dan sangat ketakutan, lalu aku memberanikan diri untuk mengambil tutup ballpointnya lalu kuberikan kepada beliau. Setelah itu temanku yang lain bilang itu bukan milik Kristo itu milik Florianus. Lalu dia juga dipukul menggunakan buku tulisnya. Mulai saat itu aku menjadi sangat takut sama pak guru itu sehingga ketika melihatnya aku cepat-cepat sembunyi. Aku mulai sakit-sakit dan tidak mau sekolah lagi. Setiap hari bagiku adalah neraka bila aku mendengar kata seolah dan setiap pagi aku dihantui rasa takut. Aku selalu berharap agar ibu atau bapakku lupa kalau aku sekolah. Intinya aku paling tidak mau disuruh sekolah dan mendengarkan kata “sekolah”. Bagiku dua kata ini sangat mengerikan bagiku. Orangtuaku terus memaksaku sekolah. Pagi-pagi aku sudah dibangunkan diantar mandi dipasang pakaian,rambut disisir rapi. Biasanya orangtuaku belum berangkat ke ladang jika aku belum ke sekolah. Aku tidak mau jalan kesekolah aku digendong bapak atau ibuku. Di belakang mereka aku menangis takut nanti dipukul bapak guru lagi. Sepanjang jalan aku menagis tidak mau sekolah lebih baik aku ke ladang dari pada harus sekolah kataku. Sampai puncaknya aku kabur tidak mau sekolah. Aku lari meskipun bapak memanggilku dan memberikan uang kepadaku aku tidak peduli. Lalu aku lari pulang kerumah tetapi teman-temanku mau memegangku. Aku lari sambil menangis tersedu-sedu. Tas merah dan topiku semuanya kutinggalkan didepan rumahku lalu aku lari jauh, sampai bapak sudah pergi ke ladang. Setelah sore aku pulang. Mulai saat itu orang tuaku sering mengajakku ke ladang berhenti jika aku sakit. Aku habis dikatakan bodoh oleh orangtuaku kerabat dan teman-temanku. Intinya aku tidak ada artinya di mata mereka. Ketika di ladang aku sering menangis karena kepanasan ibu sering berteriak dari tengah ladang ”makanya sekolah, dikiranya enak bekerja di ladang”. Seketika aku mulai berteriak dan marah lebih keras dan menangis sekuat-kuatnya. Aku tidak tahu kapan berakhinya penderitaanku waktu itu, hari-hariku penuh derita gara-gara aku tidak mau sekolah. Dalam pikiranku aku mau sekolah jika guru yang memukul aku telah pergi atau mati. Itu nazarku waktu itu.

            Hari-hari kulalui dalam ketidakpastian. Hari ini aku harus mengikuti ayah ke ladang, besok aku harus mengikuti ibu ke kebun menoreh karet. Aku tidak boleh lelah kecuali sakit baru aku berhenti mengikuti ayah atau ibu dan ketika aku sakit aku juga sangat menderita karena jika sakit tidak kurang dari satu minggu untuk sembuh. Setiap aku sakit dan menangis karena kelelahan ayah atau ibu selalau menyerangku dengan senjata yang bagiku sangat mematikan, yaitu “makanya sekolah sana. Kamu kira enakkah menjadi petani. Jika menjadi petani yang malas tidak sulit tetapi jika mau menjadi manusia yang benar kamu harus bisa mengalahkan dirimu” oh Tuhan mengapa mereka terus menyerang aku dengan kata-kata itu, seketika aku hanya terdiam terkadang menangis semakin keras.

******

            Di sore yang indah, seperti biasanya ketika ayah dan ibu pulang dari ladang, kami berkumpul di ruang tamu ngobrol sambil ngopi. Aku berbaring sambil bercerita tentang pengalamanku bermain hari itu, dan terkadang aku bertanya tentang keadaaan pondok, ternak, buah-buahan juga tentang binatang buruan. Aku sangat senang mendengar cerita ayah tentang perburuan sehinga aku suka berburu meskipun hanya membawa ketapel. Saat aku lagi senang menikmati pembicaraan kami tiba-tiba ayah bertanya kepadaku.”Bang jika kamu sudah besar nanti kamu mau jadi apa?” aku menjawab. “nanti kalau aku sudah besar aku mau menjadi pastor.” “Nah kalau mau menjadi pastor kamu harus sekolah.” “Oh sial dalam hatiku mengapa harus sekolah?” aku terdiam tidak bisa berkata-kata ini bisa jadi petanda aku setuju atau sebaliknya memberontak. Semua kejadian hari itu hilang tak berbekas kecuali percakapan ku dengan ayah. Aku mau sekolah dan terus sekolah sampai sekarang. Jika aku mengingat kembali masa kecilku aku merasa sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Aku sekarang terus sekolah hanya satu tujuanku yaitu mau menjadi pastor. sekarang aku sudah sampai pada jenjang perguruan tinggi. Suatu pencapaian yang patut disyukuri. Dari sekolah dasar yang hampir gagal menjadi orang yang terus bersekolah untuk menggapai cita-cita suatu pembaharuan diri yang radikal. 

 

Salam Passio!

 

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

Leave a comment