Berubah, bukan tepat tapi pada waktunya (Cerpen)

Author Fr. Patrisius Yoseph Eko Kelen, CP | Selasa, 27 Oktober 2020 10:53 | Dibaca : : 106
Berubah, bukan tepat tapi pada waktunya (Cerpen)

 

“Bangun...bangun!!! Dasar pemalas. Sampai kapan kamu terus-terusan seperti ini?” Dengan segera Yadi tersentak kaget sembari mengucak-ngucak matanya yang masih belum siap terbuka kala mendengar suara sang ayah yang memekakan telinga. Ayahnya terus omelin dia, “Coba lihat Yonsha! Pagi-pagi dia sudah bangun dan bekerja. Bukan seperti kamu yang suka bersahabat dengan gulingmu. Hampir setiap malam kamu lembur yang tidak jelas, mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak bernilai. Mau jadi model apa kamu nanti?” Kata-kata kasar itu sering sekali terdengar waktu pagi. Yadi sangat kesal dengan perlakuan ayahnya. Bagi dia, ocehan itu tidak perlu diulang-ulang, apalagi dia hanya telat bangun sepuluh menit sesudah kakaknya. Tetapi, dia tetap diam dan tak mau membalas amarah sang ayah.

            Seperti biasa, setelah dipoles dengan ceramah pagi hari, Yadi pun memikul cangkulnya menyusul kakaknya ke kebun. Namun, ia kembali kesal. Lagi dan lagi sudah hampir seminggu ini, Yonsha tidak ada di kebun. Tidak ada seonggok tanah pun yang dicangkulnya. Sunyi, sepi, tak ada jawaban ketika dipanggil. Dalam benaknya ia bertanya, kemanakah gerangan sang kakak yang selalu menuai pujian dari sang ayah?

            Tak mau berlama-lama memikirkan kakaknya, Yadi mulai mengerakkan cangkulnya dan mulai membuat bedengan. Ia bersemangat. Keringat sekujur tubuh menemani hari kerjanya. Sesekali ia duduk beristirahat di bawah rindangnya pohon sembari mencicipi makanan yang ia bawa. Hingga sore tiba, Yonsha tak kunjung datang. Yadi pun mengemasi peralatannya dan berangkat sambil memikul seikat kayu bakar untuk keperluan memasak. Setibanya di rumah, Yadi menghela nafas dan beristirahat sambil menukmati secangkir kopi dan pisang goreng panas buatan ibunya. Sementara ia mennyeduh kopi, ia melihat Yonsha dari kegelapan dengan membawa seikat kayu juga. Yadi tak heran lagi karena sudah beberapa hari ini Yonsha selalu pulang belakangan, sang ayah yang melihat Yadi pulang lebih dahulu berkata kepada Yadi, “Yadi...Yadi..., berangkatnya belakangan malah pulangnya lebih dulu. Itukah yang disebut kerja?” Begitulah apresisi miring yang harus diterimanya. Tetapi, ia tidak menjawab apa pun.

            Inilah sifat Yadi, dia orangnya dingin, tidak banyak bicara, jarang tersenyum dan cuek sehingga bagi ayahnya, ia adalah seorang pembangkang dan tidak sopan. Sedangkan Yonsha orangnya ramah dan hangat. Ia selali dinilai baik dan penurut. Sikap ini yang dibanggakan oleh ayah mereka. Walaupun Yonsha bersalah, sang ayah tidak memarahinya, hal ini disebabkan oleh rasa percaya yang sangat besar sang ayah kepada Yonsha. Lebih parahnya, saking percayanya dia kepada Yonsha, apa yang keluar dari mulut Ydi sama sekali tidak dihiraukannya. Berbeda dengan Yadi. Sekalipun ia melakukan hal yang terpuji ia malah mendapatkan komentar miris. Oleh kedewasaannya, perlakuan timpang itu tidak membuat ia cemburu atau benci pada Yonsha maupun sang ayah.

            Hampir setiap malam sang ayah menengok, apakah mereka sudah tidir. Tak jarang ia menjumpai kamar Ydi kosong. Kamar Yonsha selalu terkunci. Ayahnya mengira Yonsha pasti sudah tidur, sedangkan Yadi masih keluyuran. Memang benar Ydi sering berkumpul bersama teman-temannya di waktu malam untuk berbagi cerita, melepas lelah. Ia bahagia di antara mereka sebab di rumah ia selalu diperlakukan tidak sama. Menjelang larut malam, ia pun pulang dan beristirahat. Ayahnya tahu hal itu dan ini akan menjadi bahan ceramahnya untuk Yadi. “Sampai kaoan kamu tetap seperti ini? Cobalah berpikir dewasa! Kamu orangnya tidak bisa dibilang”. Lagi-lagi kata-kata panas itu tersembur dari mulut ayahnya. Ayahnya tidak putus asa dan terus menindas Yadi dengan  ocehannya.

***

             “Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa kepada Yadi, Romo. Ia sama sekali tidak bisa diandalkan. Ia tidak bisa berubah dan tetap seperti itu. Ia malas, membangkang, cuek dan sering keluyuran. Yonsha sangat berbeda dengannya. Ia penurut, rajin bekerja dan berbakti kepada kami. Dia sama sekali tidak pernah melakukan yang salah di mata saya”, ungkap sang ayah ketika berkonsultasi kepada pastor Paul, pastor paroki mereka. Romo Paul terus mendengar keluhan umatnya itu. Ketika selesai mengeluh kini tibanya pastor Paul memberi nasihat kepadanya, “Pak, Yadi pasti berubah”.

“Tidak!” potong ayah Yadi. “Apa pun itu ia tetap tidak berubah, apa pun itu ia tetap dalam keadaanya”, sambung sang ayah.

“Pak, tolong dengarkan saya! Tidak ada yang tidak bisa berubah di dunia ini. Semua yang ada akan selalu berubah. Coba Anda lihat, daun yang hijau akan berubah menjadi cokelat, siang berubah menjadi malam, panas jadi dingin, kertas akan menjadi abu ketuka dibakar, biah manis bisa berubah menjadi pahit, air bisa menjadi uap, yag baik bisa berubah jadi jahat atau sebaliknya yang jahat bisa berubah menjadi baik. Begitulah realitas hidup ini. Demikian pun Yadi”, kata romo Paul dengan lembut.

Ayah Yadi menyambung, “tapi Romo, itu sepertinya tidak mungkin, dia begitu payah”. Sahut pastor Paul, “Pak, Yadi bukan tidak bisa berubah. Kata tidak itu mematikan kemungkinan dia untuk berubah. Yadi bukan tidak berubah, tapi belum berubah. Pak, saya kira, Yadi berada di posisi ini. Dia butuh proses untuk untuk menuju apa yang ia butuhkan. Ia berubah bukan tepat pada waktu kita menginginkannya, tetapi akan berubah pada waktunya. Dia punya ritmenya sendiri. Percayalah, Yadi akan berubah. Bukankah sungai terus mengalir? Dan, janganlah berharap dapat mengubah orang lain, tetapi ubahlah diri kita sendiri, niat kita dan pribadi kita. Jika sudah dibenahi maka semuanya akan bahagia. Sebagai ayah yang baik, jangan juga Anda membeda-bedakan Yadi dan Yonsha. Itu akan membuat Yadi terpukul. Ingat bahwa apa yang kelihatan baik belum tentu baik adanya. Dan apa yang tidak baik kelihatannya belum tentu buruk adanya. Bukankah bangkai busuk berada persis di bawah kubur yang di;abur putih?

***

            Nasihat romo Paul ternyata sangat mengubah pola pikir sang ayah. Ia kemudian mulai menata kembali hidup keluarganyam ia mulai melihat dirinya sendiri. Memang benar, bahwa dia tidak dapat memaksakan anaknya untuk berubah, melainkan membiarkan anaknya untuk berproses dengan ritmenya. Alhasil, Yadi dengan perubahan sang ayah, mampu juga menata kehidupannya dan menjadi pribadi yang tangguh dan dewasa.

 

Salam Passio!

 

“SEMOGA SENGSARA YESUS SELALU HIDUP DI HATI KITA”

Leave a comment