Panggilan untuk Menjadi Nabi

  • Ditulis oleh : P. Stefanus Suryanto CP
Author | Selasa, 09 Jun 2020 11:06 | Dibaca : : 333
Panggilan untuk Menjadi Nabi

Sebagai Pasionis kita dipanggil untuk mengikuti Yesus yang Tersalib, dan berusaha untuk menjadi lebih seperti Dia, yang datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Nubuat bagi saya adalah mengenal, mencintai, dan hidup bersama Yesus, sehingga menjadi seperti Dia. Ini berarti memelihara kepedulian Yesus, menjadi sehati dan sepikiran dengan Yesus, untuk menjadi nabi seperti Dia.

Kita bisa menjadi nabi dalam hal-hal kecil di kehidupan kita sehari-hari. Paus Fransiskus berkata bahwa Allah memanggil semua orang Kristen untuk menjadi kudus - artinya, menjadi manusia sejati, yang berdoa dan menunjukkan perhatian penuh kasih kepada sesama. Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menjalani hidup kita dengan cinta dan memberikan kesaksian setiap saat. Menjadi Pasionis dan nabi berarti:

  1. 1. Kembali ke Sumber Utama kita: Sebagai nabi, kiat menimba dari sumber utama kita Pasionis. Jika Yesus Kristus adalah teladan kita, kita harus hidup dan bergerak terutama dalam keharmonisan dengan Yesus. St. Paulus dari Salib dan orang-orang kudus dari Kongregasi kita adalah sumber kita selanjutnya. Panggilan kita sebagai nabi diilhami oleh Yesus, Pendiri kita, dan kemudian orang-orang kudus kita.
  2. Merangkul Doa, Keheningan dan Kesunyian: Doa, keheningan dan kesunyian diperlukan untuk hidup sebagai nabi, tetapi mungkin kurang dihargai saat ini. Namun, hikmat datang melalui doa dan keheningan.
  3. Hidup komunitas: Panggilan untuk menjadi seorang nabi dimulai di dalam komunitas. Kehidupan kerasulan sering dianggap lebih penting daripada kehidupan komunitas. Namun, nilai-nilai apostolik dan kenabian dimulai di dalam komunitas. Keberhasilan dan kegagalan, cinta dan pengampunan, dan hubungan manusia dan spiritual diharapkan semakin nyata di dalam komunitas.
  4. Merangkul Semangat Kemiskinan: Sebagai nabi kita bersaksi tentang kemiskinan injili. Kita tidak akan bersemangat dan ceria jika kita tidak mencintai kemiskinan. Apakah kita masih berkomitmen untuk menjalani hidup kita dalam semangat Yesus yang merendahkan diri-Nya dan menjadi miskin dan dihina? Menjadi seorang nabi berarti bahwa kita harus menginginkan kemiskinan yang bebas dari segala sesuatu dan hanya melekat pada Yesus.

 

Salam Passio!

 

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup Di Hati Kita”

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment