Aku, Simon Orang Kirene

Author | Kamis, 15 Maret 2018 21:43 | Dibaca : : 3922
Aku, Simon Orang Kirene Biblia.Com

"Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, (Lukas 23:26), ayah Aleksander dan Rufus (Markus 15:21), lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus." (Lukas 23:26).

Perwira Romawi yang memimpin pelaksanaan hukuman atas Yesus melihat bahwa keadaan Yesus sangat parah. Ia mulai merasa cemas bahwa Yesus tidak akan mampu memikul salib-Nya hingga ke puncak Golgota. Karena itu, ia memaksa salah satu dari banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut untuk membantu Yesus memikul salib-Nya. Orang itu adalah Simon dari Kirene.

Simon yang tidak mengerti apa yang terjadi (karen baru pulang dari luar kota atau kemungkinan dari ladang) pasti tidak senang dengan paksaan itu. Ia merasa terhina karena harus membantu seorang penjahat untuk memikul salib. Namun, perintah itu tidak dapat ia tolak, karena dapat membahayakan dirinya. Maka, dengan pikiran yang berkecamuk dan protes di memenuhi hatinya, ia membantu Yesus memikul salib-Nya.

Itu sungguh merupakan suatu paksaan. Namun, sesungguhnya hal itu adalah suatu anugerah istimewa. Berkat bantuan kecil Simon, Yesus dapat melanjutkan memikul salib sampai ke tempat yang harus dituju. Simon sendiri setelah membantu memikul salib itu, tidak segera pulang ke rumahnya. Ia mengikuti Yesus dari belakang dalam perjalanan menuju Golgota.

Apakah Yesus perlu bantuan kita? Tentu jika Yesus mau menggunakan kuasa dan kekuatan-Nya, Simon tidak perlu bersusah payah untuk memikul salib itu. Yesus yang telah menyembuhkan orang sakit, memelekan mata orang buta, membuat orang bisu berbicara, menjadikan orang tuli mendengar, mentahirkan orang kusta, membuat orang lumpuh berjalan, membangkitkan orang mati seperti pemuda Nain dan Lazarus, dan menaklukan gelombang, tentu akan mampu memikul salib itu sampai ke puncak Golgota. Namun, itu tidak Yesus lakukan. Yesus ingin pundak kanan Simon, Yesus ingin pundak kanan  kita untuk memikul salib kita sendiri bersama-Nya dan pundak kiri kita untuk memikul salib sesama kita bersama-Nya.

Salib yang dipikul Yesus sesungguhnya adalah salib Simon, salib kita, salib  umat manusia. Dengan memikul salib kita bersama kita, Yesus telah menjadikan salib itu sebagai sarana pemurnian diri kita.

Akhirnya, peristiwa Simon adalah peristiwa "historis” karena anaknya Rufus disebut oleh Rasul Paulus sebagai orang pilihan di dalam Tuhan, dan isteri Simon, ibu Rufus disebut oleh Paulus sebagai ibu baginya juga (Roma 16:13). Kenyataan itu menjelaskan kepada kita bahwa setelah peristiwa di jalan menuju ke Golgota itu, Simon beserta seluruh keluarganya percaya kepada Yesus dan bergabung bersama anggota jemaat kristen perdana untuk memberi kesaksian tentang Yesus.

Semoga pengalaman Simon mengikuti Yesus dengan memikul salibnya, menjadi teladan luhur bagaimana kita mengikuti Kristus di sepanjang jalan hidup kita.

 

Salam Passion!!!

 

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup Di Hati Kita”

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment