Simon dari Kirene 01

Author | Minggu, 18 Maret 2018 09:29 | Dibaca : : 6477
Simon memikul Salib Yesus Simon memikul Salib Yesus

Refleksi kita berfokus pada pria yang terpaksa menjadi terkenal. Jutaan orang selama berabad-abad telah bekerja keras dan berjuang untuk membuat nama mereka dicatat dalam sejarah, namun Simon dari Kirene malah dipaksa masuk ke dalam halaman sejarah. Tanpa satu kejadian tak terduga atau lebih tepat disebut insiden dalam hidupnya, dia tidak akan pernah dikenal. Kejadian hari itu membuat Simon dikenal di seluruh dunia di mana Injil Yesus Kristus diwartakan.

Sangat sedikit yang dikatakan tentang Simon di dalam Alkitab. Sebenarnya, hampir semua hal yang kita ketahui tentang dia ditemukan dalam Markus 15:21, dan dalam satu ayat di masing-masing Injil Matius dan Lukas yang sejajar dengan Markus.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa hampir tidak ada cukup informasi untuk menyampaikan kotbah tentang Simon dari Kirene dalam waktu sepuluh menit. Alkitab memiliki cara unik untuk mengatakan banyak hal hanya dengan beberapa kata. Sebagai contoh, kisah penciptaan yang begitu penting hanya diceritakan dalam dua bab. Mazmur 23 yang begitu indah hanya terdiri atas seratus kata. Kotbah yang terkenal di Bukit hanya ada dalam tiga bab (5,6,7), dan kata-kata terakhir Kristus di kayu salib, walaupun jumlahnya sedikit, telah memberi pesan yang sangat kuat dan mendalam bagi kita. *Alkitab adalah contoh kunci dari kebenaran bahwa seseorang tidak perlu bertele-tele untuk menjadi bijak, juga untuk menjadi bernilai.

Sekarang kita masuk dalam beberapa refleksi yang lebih jauh tentang Simon dari Kirene dan makna yang dapat kita ambil untuk kehidupan kita.

 

ASAL DAN PEKERJAAN SIMON DARI KIRENE

Simon berasal dari Kirene, salah satu dari dua kota terbesar di Libya, Afrika Utara, yang didiami oleh lebih dari 100.000 jiwa. Kirene adalah sebuah kota di mana banyak orang Yahudi tinggal, dan banyak dari mereka melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk Hari Raya Paskah dan Pentakosta. Kisah Para Rasul 2, dalam catatan mengenai tempat dari mana orang-orang yang hadir pada Hari Raya Pentakosta berasal, mencatat juga Kirene di antara kota-kota lain.

Simon semula bukanlah seorang Yahudi atau penganut agama Yahudi. Dia adalah seorang penyembah berhala yang masuk agama Yahudi, dan merupakan orang yang sangat saleh, karena dia bersedia menempuh perjalanan ribuan mil ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Suci.

Apa yang terjadi dengan Simon pada hari itu, dalam sekejap, mengubah seluruh arah hidupnya. Dia tidak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi di kota malam itu. Ia tidak tahu bahwa Yesus telah mengalami penderitaan di Getsemani dan dalam Pengadilan, dan telah mengalami penyiksaan yang kejam oleh para prajurit. Simon, malam itu pasti sudah tidur. Dia merencanakan hari yang panjang, dan bangun pagi-pagi, dan sama seperti semua orang Yahudi yang taat, mengucapkan doa pagi. Dia membersihkan diri, berpakaian, dan melakukan perjalanan hingga hampir sampai di kota sebelum pukul 9 pagi. Jika dia tiga menit lebih awal atau lambat, atau melewati jalan yang berbeda, kita tidak akan pernah mendengar tentang dia. Namun, karena kehendak Tuhan, Simon mengalami peristiwa penting di pagi itu, sebuah peristiwa yang mengubah seluruh hidupnya.

 

SIMON DIPAKSA UNTUK MEMIKUL SALIB KRISTUS

Saat Simon mendekati pintu gerbang kota, dia melihat kerumunan orang keluar dari kota. Mereka berteriak dan mengolok-olok tiga pria yang sedang memikul salib. Salah satu dari mereka mengalami masa-masa sulit penyiksaan sepanjang malam, karena itu perjalanan itu menjadi semakin lambat. Para tentara yang sangat ingin urusan ini segera berakhir, memerintahkan Simon untuk memikul salib Yesus. (*Tentara Romawi memiliki hak untuk memaksa warga sipil untuk membantu mereka. Ketika Yesus berkata, "Jika seseorang memaksamu pergi sejauh satu mil, pergilah bersamanya sepanjang dua mil," Ia mengacu pada praktik ini).

Kita tidak memiliki informasi tentang mengapa tentara memilih Simon untuk membantu memikul salib Yesus. Kita tahu bahwa Yesus tidak tidur semalaman, dan telah mengalaman penyiksaan hebat yang jika terjadi pada orang lain pasti sudah mati. Karena itu, sangat mungkin kisah tradisional benar - bahwa Yesus tersandung dan jatuh di bawah beban salib beberapa kali. Banyak yang berpendapat bahwa Simon pasti menunjukkan simpati kepada Yesus yang telah diperlakukan dengan sangat kejam, dan bahkan mungkin Simon melangkah maju untuk membantu Yesus. Prajurit-prajurit yang bertanggung jawab atas pelaksanaan hukuman atas Yesus melihat kesempatan untuk mempercepat segalanya. Karena itu, mereka memaksa Simon dan mungkin berkata, "Baiklah, Anda bersimpati terhadap orang ini? Sini dan bantulah Dia memikul salib itu!" *Simon sepertinya, merupakan satu-satunya orang di dalam kerumunan itu yang tidak mengejek Yesus. Jadi, itu berarti bahwa kemungkinan besar Simon-lah yang memilih hal itu.

Saya sendiri lebih menerima gagasan lain yang dipegang oleh banyak orang, bahwa Yesus sambil memikul salib-nya dengan susah payah memandang Simon dengan tatapan cinta yang menggugah rasa belas kasihnya. Yesus memiliki kuasa di mata-Nya untuk menggerakkan manusia. Beberapa jam sebelumnya Dia menggerakkan Simon yang lain, yang disebut Petrus, untuk menangis dan bertobat hanya dengan tatapan sekilas (Lukas 22:61).

Simon tidak memberontak pada kejadian yang tiba-tiba harus menimpa dirinya. Peristiwa itu tentu merupakan saat yang paling mengecewakan, namun kemudian menjadi salah satu peristiwa tindakan cinta terbesar sepanjang sejarah. Seperti Kornelius (Kis 10:1-48), Lydia (Kis 16:13-15), dan orang lain yang benar-benar berusaha untuk mengetahui kehendak Tuhan, pastinya, hari itu, pagi-pagi ia bangun dan berdoa, "Tuhan ajari aku kehendak-Mu dan tariklah aku lebih dekat kepada-Mu hari ini." Simon telah menempuh perjalanan jauh untuk mencari pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan. Ia percaya bahwa kehendak Tuhan adalah belas kasihan dan bukan kutukan, karena itu, dia tunduk pada rasa malu untuk memikul salib itu.

Dia terpaksa menanggungnya, tetapi dia memilih untuk tunduk. Fakta bahwa tidak ada yang ia katakan menunjukkan bahwa Simon menerima salib itu, menanggungnya tanpa merasa terbebani. *Kalau saja kita bisa, seperti Simon, memilih untuk menanggung apa yang harus kita tanggung. Seandainya saja kita bisa melihat berkat di balik beban yang kita tanggung bagi Yesus...

Keadaan sering memaksa kita untuk menanggung beban, dan kita bisa memilih untuk menerima atau memberontak. Prinsip ini berlaku dalam semua segi kehidupan manusia: menerima atau menolak. Para remaja yang terpaksa pergi ke sekolah, melihat sekolah sebagai beban dan banyak dari mereka tidak akan memilih sekolah jika keputusan diserahkan kepada mereka. Setiap kita mempunyai dua pilihan. Kita bisa memberontak dan melawan sistem, dan berhenti sesegera mungkin, atau kita dapat menganggapnya sebagai tantangan, dan memilih untuk tunduk pada beban, dan dengan demikian beban akan menjadi berkat. *Kita tidak dapat menentukan apa yang kehidupan berikan untuk kita, tetapi kita dapat menentukan apa yang kita berikan untuk kehidupan, dan jika kita memilih untuk melakukan apa yang harus kita lakukan, kita dapat mengubah beban menjadi berkat.

 

KONSEKUENSI MEMIKUL SALIB

Perjalanan Simon yang melelahkan hari itu membawa dia kepada Kristus. Kita dapat melihat bahwa Simon merasa bahwa memikul salib itu memberikan kebahagiaan baginya, dan bahwa frustrasinya karena terpaksa melahirkan iman; rasa malunya karena diejek membawa ia kepada kekuatan; rasa belas kasihnya melahirkan komitmen, dan simpatinya kepada Yesus mendatangkan keselamatan.

Ada beberapa alasan yang dapat kita ambil untuk menegaskan hal-hal di atas. Pertama, ada peristiwa yang menarik dan menakjubkan pada hari itu yang mengiringi kejadian yang dialami Simon. Simon percaya ketika memikul salib Kristus, Kepala Pasukan Romawi percaya setelah menyaksikan kematian Kristus di kayu salib (Markus 15:39), dan bersama dengan seorang penjahat di kayu salib yang percaya kepada Kristus, kita memiliki tiga orang yang bertobat di hadapan kayu salib (Lukas 23:40-42) yang mewakili keturunan mereka dari ketiga anak Nuh yakni Syam, Ham, dan Yapeth (Kejadian 9:18-19; 10:1-32). *Ini menjadi ilustrasi konkret universalitas salib, dan bahwa Yesus memang mati untuk semua orang.

Kedua, Kitab Suci mengatakan bahwa Simon adalah ayah dari Alexander dan Rufus (Markus 15:21). Mengapa Markus, yang menulis Injilnya untuk orang-orang Roma (*Injil Markus ditulis sekitar tahun 67-69 M oleh Yohanes Markus (Kisah 12:12, 25; 13:13). Injil ini ditulis di Roma dan ditujukan kepada orang-orang Kristen Romawi), memasukan penjelasan bahwa Simon adalah ayah dari kedua orang itu? Hal ini hanya dapat dilakukan jika orang-orang Romawi mengenal kedua orang itu. Karena tidak ada gunanya memberi nama kedua anak Simon dalam Injilnya, jika keduanya tidak dikenal di kalangan orang-orang Kristen Roma. Juga nama-nama itu tidak akan diketahui lagi jika Simon menghilang begitu saja di antara orang banyak setelah mencapai Golgota. Itu berarti bahwa anak-anak Simon adalah orang-orang Kristen yang terkenal di Roma, dan ini dikonfirmasi oleh Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Romawi 16:13, "Salam kepada Rufus, orang pilihan di dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu." Paulus belum pernah ke Roma saat dia menulis surat itu. Jadi, Paulus pasti sudah bertemu dengan keluarga yang luar biasa itu sebelum mereka (keluarga itu) pindah ke Roma.

Jika kita mengumpulkan fakta-fakta itu, maka itu berarti bahwa bukan Sida-sida Ethiopia yang merupakan orang pertama yang menjadi pengikut Yesus dari Benua Afrika (Kis 8:38), melainkan Simon dari Kirene dan keluarganya. Dari Kirene mereka pindah ke Antiokhia, karena dalam Kisah Para Rasul 13: 1 kita menemukan tentang para nabi dan guru di sana, dua di antaranya adalah Simon dan Lucius dari Kirene. Di sinilah di Antiokhia di mana para pengikut Yesus pertama kali disebut orang Kristen.

Siapa yang dapat mengira bahwa dia yang membantu memikul salib Kristus pada hari yang mengerikan itu kemudian dapat melakukan hal-hal besar? Simon adalah orang pertama yang bertobat ketika berhadapan dengan kayu salib, dan menjadi pemimpin di mana orang-orang percaya kepada Kristus untuk pertama kali disebut orang Kristen (Kis 11:26). Di Antiokhia Paulus mengenal keluarga Simon, dan kemudian bisa berbicara tentang mereka saat mereka telah pindah ke Roma.

Ada banyak hal yang tidak kita ketahui, tetapi hal-hal yang kita ketahui mengajarkan kita untuk melihat bahwa meskipun Simon terpaksa memikul salib di hari itu, ia memilih menanggung sisa hidupnya bagi Kristus.

 

PERISTIWA SIMON DARI KIRENE

DICATAT DALAM INJIL UNTUK SEBUAH TUJUAN

Seluruh isi Kitab Suci ditulis karena ilham Allah dan hal itu tidak dapat diragukan kebenarannya. Kisah Simon, meski kecil (hanya satu ayat), mengajarkan kita pelajaran yang sangat penting. Kisah itu mengajarkan kita tentang apa sesungguhnya arti dari memikul salib itu. *Banyak orang lebih peduli untuk membuat kisah tentang salib daripada yang mereka pelajari tentang apa arti menanggung salib.

Ada kisah yang menarik seputar salib itu. Kisah itu membawa kita kembali ke taman Eden. Dikisahkan bahwa Adam dalam keadaan sakrat maut, hampir mati, putranya yang tertua, Seth berlari ke gerbang taman, dan meminta kepada malaikat buah dari pohon kehidupan. Malaikat itu mengatakan kepada Seth bahwa Adam akan mati, tetapi ia harus menguburnya dengan benih dari buah pohon kehidupan itu di mulutnya. Sebuah pohon besar tumbuh dari benih itu. Pohon itulah yang kemudian ditebang Nuh untuk tiang raja pada bahtera-Nya, dan itulah yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya. Berabad-abad kemudian Hiram, raja Tirus, menurunkan bahtera Nuh dari pegunungan untuk membangun Bait Suci Salomo. Namun, kayu-kayu itu tidak digunakan, tetapi diletakkan di parit di dekat dinding Bait Suci. Nehemia menggunakannya saat membangun Bait Suci, namun ketika Herodes membangun kembali Bait Suci itu, tiang-tiang kayu dari pohon itu kembali diletakkan di samping dinding Bait Suci. Dalam situasi tergesa-gesa pada hari pengadilan Yesus tidak ada yang membuat salib, maka tiang itu diambil dari Bait Suci dan digunakan untuk salib Yesus. Orang-orang Kristen mula-mula tidak memperhatikan apa pun tentang salib yang sebenarnya di mana Kristus telah mati, namun hanya maknanya, dan selama beberapa abad ada jeda dalam kisah tersebut. Tetapi ketika gereja menjadi rusak karena paganisme, legenda itu dihidupkan kembali. Salib itu diklaim ditemukan, dan dijual dalam potongan kecil sebagai daya tarik. Diperkirakan cukup banyak potongan salib yang dijual untuk membangun armada kapal.

 

Pada saat ini salib telah menjadi, bagi banyak orang, tidak lebih dari sebuah perhiasan. Banyak orang mengenakan salib emas di sekitar leher atau pada kerah baju mereka sebagai hiasan. Tentu tidak ada yang salah dengan salib sebagai simbol seperti ini, tetapi ada yang salah dengan pemikiran kita tentang hal itu.  Pengalaman Simon mengajarkan kita untuk memikirkan salib sebagai identifikasi dengan Kristus, dan bukan hanya sebuah hiasan.

Ketika Simon memikul salib Kristus, dia mengidentifikasikan dirinya dengan Kristus, dan menanggung celaan yang sama seperti yang Yesus alami. Yesus berkata, "Pikullah salibmu setiap hari dan ikutlah Aku." Itu berarti dilakukan secara terbuka bersama dengan Yesus, dan jika orang menghina atau mengejek Yesus, kita mengalaminya sebagai hinaan dan ejekan untuk kita. *Saya yakin Simon merasa malu saat memikul salib itu dan saat mendengar tawa dan ejekan orang banyak.

Tidak semua penderitaan adalah salib. Memikul salib tidak sama dengan penderitaan yang dialami seseorang karena beberapa luka atau kelemahan pada tubuh. Itu adalah duri dan bukan salib. Penderitaan kita hanya menjadi salib saat kita mengidentifikasikan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. "Pikullah salibmu setiap hari dan ikutlah Aku" adalah ajakan sekaligus harapan Yesus agar kita setiap hari mengidentifikasikan diri kita dengan Dia. *Akan sangat mudah menjadi orang Kristen jika tidak memikul salib.

Seorang teman saya di Melbourne bercerita tentang sekelompok peziarah di Yerusalem yang ingin mengikuti jalan di mana Yesus menempuh jalan ke Golgota sambil memikul kayu salib. Hari itu panas dan dia menyaksikan bahwa sebagian besar orang dari rombongan itu memiliki payung di atas kepala mereka untuk melindungi mereka dari ketidaknyamanan matahari yang terik. Hal itu tentu sangat mengejutkan. Terjadi kontras yang luar biasa antara kejadian yang dia saksikan hari itu dengan peristiwa sesungguhnya yang dikisahkan Injil yang sedang mereka refleksikan selama perjalanan itu. Mereka ingin mengikuti jalan Kristus, tetapi tidak ingin ada ketidaknyamanan dalam melakukannya. Hal ini bisa dimengerti, karena tidak akan ada keuntungan mengalami sengsara saat mereka mengikuti jalan setapak itu. *Kita ingin mengikuti Yesus, tetapi kita tidak menginginkan biaya apapun. Kita harus mengalami ketidaknyamanan karena identifikasi kita dengan Kristus.

Akhirnya, kisah Simon dari Kirene dicatat untuk menantang kita dalam perjalanan memikul salib hidup kita setiap hari dan mengidentifikasikan diri kita dengan Yesus, berapapun harga yang harus kita bayar.

                                                                                                           

Salam Passion!!!

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup di Hati Kita”

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment