Kunjungan yang Membangkitkan Sukacita dan Harapan

Author | Rabu, 31 Mei 2017 16:14 | Dibaca : : 2791
Santa Maria dan Elisabeth Santa Maria dan Elisabeth

Nyanyian sukacita dalam Kitab Zefanya yang kita dengar dalam bacaan pertama hari Pesta Maria Mengunjungi Elisabet adalah nyanyian harapan Israel. Harapan dan kerinduan bahwa akan tiba  waktunya Tuhan memperbarui Israel dengan cinta dan belaskasihan-Nya. “Pada hari itu, akan dikatakan kepada Yerusalem: Janganlah takut, hai Sion! Janganlah berkecil hati! Tuhan, Allahmu, ada di tengah-tengahmu sebagai Juruselamat. Ia akan bersukacita atasmu dan membaharui engkau dalam kasih-Nya. Tuhan akan bersorak gembira karena engkau.”  Ini semua adalah tentang harapan. Dalam Injil, Maria dengan sukacita mengunjungi Elisabeth untuk berbagi kegembiraan dan untuk membawa harapan kepada Elizabeth. Maria juga dengan sukacita mengungkapkan magnificatnya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan harapannya akan keselamatan bagi dunia.

Harapan adalah cahaya kecil di tengah kegelapan. Harapan membuat kita mampu berdiri tegak di tengah kompleksitas kehidupan. Bila kita memiliki harapan, kita bertumbuh, sabar menunggu, menanti dengan tenang, dan percaya pada keajaiban Tuhan. Harapan erat terkait dengan rasa syukur. Saat kita minum air putih setiap hari dan kita tidak hanya merasakan air tetapi lebih dari itu kita menikmati anugerah, saat kita menikmati makanan setiap hari dan kita tidak hanya menikmati makanan tetapi lebih dari itu kita merasakan rahmat, itulah rasa syukur. Syukur yang membawa harapan.

Maria adalah teladan harapan bagi kita. Bukan hanya karena Maria telah menerima dan melakukan kehendak Allah tetapi karena seluruh hidupnya adalah satu Magnificat yang panjang (seperti yang telah kita dengar di dalam Injil), - bukan untuk penghormatan yang diberikan kepadanya tetapi karena hal-hal yang sangat hebat seperti kekuatan, daya tahan, harapan yang berkobar dan KEHIDUPANNYA. Maria adalah Bunda Pengharapan Suci dan pada saat yang sama ia adalah Bunda yang Menderita. Maria menerima kedua-duanya, mahkota sukacita dan sebuah salib kesedihan. Kegembiraannya tidak berkurang oleh kesedihannya karena didorong oleh iman, harapan, dan kepercayaannya kepada Tuhan dan janjinya.

Konstitusi Kongregasi Pasionis No. 8 berkata: “Bersama-sama kita berbagi harapan yang sama; dan menyatukan hidup kita dalam Tuhan yang hidup yang menarik kita kepada-Nya. Kita menjalani kehidupan kita untuk mewartakan harapan itu kepada semua orang. Dalam hal ini kita diilhami oleh teladan Perawan Maria yang Terberkati, pelayan Tuhan; seperti dia kita percaya kepada Tuhan dan dengan sukacita yakin bahwa bahkan dalam kelemahan pun kita bisa menunjukkan kepada dunia jalan keselamatan Tuhan.

Akhirnya, setiap hari kita diundang untuk seperti Maria senantiasa bersukacita di dalam Tuhan. Marilah kita menjadi pria dan wanita yang selalu bersyukur, pria dan wanita yang penuh harapan yang berbicara kepada dunia dengan kata-kata harapan dan mewujudkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment