Memikul Salib dan Menuai Berkat - Refleksi Singkat atas Warisan Spiritual Santo Paulus dari Salib

Author | Jumat, 07 Juli 2017 22:26 | Dibaca : : 4487
Santo Paulus dari Salib Santo Paulus dari Salib

Santo Paulus dari Salib, dalam buku hariannya pada tanggal 21 Desember 1720, menulis mengenai penderitaan dan salib kita :

"Saya ingin membuat semua orang mengerti rahmat besar yang Tuhan berikan dalam belaskasih-Nya saat Dia mengirim kita penderitaan, terutama penderitaan di ruang paling gelap tanpa cahaya. Sebab, sesungguhnya tanpa kita sadari, jiwa kita sedang dimurnikan seperti emas di dalam tungku. Itu akan menjadi proses di mana kita terbang ke kebaikan dan kesadaran tertinggi, yaitu sebuah transformasi dari luka menjadi berkat. Itu adalah proses alami membawa salib bersama Yesus. Saya melihat bahwa cara luar biasa dan sangat bermanfaat adalah menerima penderitaan kita dan membawanya kepada Tuhan, dan membiarkan jiwa kita bertumbuh sedemikian rupa hingga kita tidak lagi memikirkan dukacita atau sukacita, agar yang tersisa hanyalah kehendak kudus dari Kekasih tercinta, Yesus."

Santo Paulus dari Salib menyadari bahwa rasa sakit akibat penderitaan yang kita alami sering begitu dalam, dan itu tidak bisa hilang begitu saja. Ia menyadari bahwa hal ini juga merupakan realita yang kita milik karena kadang terkait dengan beberapa pengalaman hidup kita yang paling awal. Karena itu, ia sungguh menyadari bahwa bukan hal mudah bagi kita untuk menerima, merangkul, memikul dan membawa salib hidup kita setiap hari. Namun, ia mengingatkan kita bahwa panggilan kita sebagai murid Kristus adalah untuk membawa penderitaan itu sebagai milik kita dan memasukkan rasa sakit kita ke dalam diri kita dan membiarkannya berbuah berkat di hati kita dan hati orang lain.

Inilah yang Yesus maksudkan saat Ia meminta kita untuk memikul salib kita. Dia mendorong kita untuk mengenali dan menerima penderitaan kita yang khusus dan percaya bahwa jalan menuju keselamatan terletak di dalamnya. Dengan mengambil salib berarti kita bersahabat dengan luka-luka kita dan membiarkan luka-luka itu mengungkapkan kebenaran kepada kita.

Santo Paulus dari Salib melalui surat-surat, kotbah dan teladan hidupnya membuka mata hati kita untuk melihat begitu banyak rasa sakit dan penderitaan di dunia ini. Namun, ia mengingatkan kita bahwa penderitaan yang paling sulit ditanggung adalah milik kita sendiri. Karena itu, kita harus terus belajar untuk menerima dan memikul salib hidup kita sambil terus berusaha untuk menggapai puncak kemenangan. Sehinga begitu kita berhasil melewati salib itu, kita akan dapat melihat dengan jelas salib yang dimiliki orang lain, dan kita dapat mengungkapkan kepada mereka untuk dengan cara mereka sendiri menggapai puncak kemenangan, merasakan damai dan menikmati kebebasan.

Salam Passion!

 

“Semoga Sengsara Yesus Kristus Selalu Hidup Di Hati Kita”

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

www.gemapasionis.org | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Leave a comment