P.Avensius Rosis,CP

P.Avensius Rosis,CP

Ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Pasionis pada 18 Agustus 2009 di Gereja Katedral Jakarta. Februari 2016 - Juli 2017 berada di Melbourne, Australia. Sekarang bertugas mendampingi para Novis Pasionis di Biara Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Batu, Malang. | Profil Selengkapnya

Website URL: http://www.gemapasionis.org  

Santo Paulus dari Salib, dalam buku hariannya pada tanggal 21 Desember 1720, menulis mengenai penderitaan dan salib kita : Saya ingin membuat semua orang mengerti rahmat besar yang Tuhan berikan dalam belaskasih-Nya saat Dia mengirim kita penderitaan, terutama penderitaan di ruang paling gelap tanpa cahaya. Sebab, sesungguhnya tanpa kita sadari, jiwa kita sedang dimurnikan seperti emas di dalam tungku.

Segenap Keluarga Besar Kongregasi Pasionis mengucapkan selamat jalan bagimu, saudara kami, P.Andreas Anselmus,CP. Kami berduka dan kehilangan dirimu, namun kami percaya Tuhan akan merangkulmu dengan tangan-Nya yang penuh kasih di surga.

Setiap tanggal 29 Juni kita merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus. Hal pertama yang ingin saya sharingkan adalah refleksi yang dibuat oleh salah seorang teman saya dalam misa komunitas di hari raya kedua tokoh penting ini. Beliau berkata bahwa kita meski ingat bahwa ketika Petrus dan Paulus datang ke Roma, pada waktu itu Roma merupakan kota terbesar dengan penduduk terbanyak di dunia. Hal yang paling menarik adalah sebagian besar dari penduduk kota Roma pada masa itu adalah budak, para pekerja kasar, tawanan perang, orang miskin. Dari sini kita dapat mengerti mengapa agama Kristen yang dibawa oleh Petrus dan Paulus diterima baik oleh penduduk kota Roma.

Berbicara tentang Perjamuan Kudus, St.Augustinus yang hidup pada tahun 400-an di Afrika Utara, mengatakan banyak hal indah tentang siapa kita sebagai anggota, sel dan organ tubuh Kristus. Ia berkata : "Anda adalah apa yang telah Anda terima". Dengan kata-kata ini ia ingin menyatakan kepada kita bahwa ketika kita menerima Yesus sebagai Roti Hidup untuk perjalanan hidup kita, kita menjadi semakin satu dengan-Nya.

Siapa pun di antara kita yang memiliki teman seumur hidup atau 'teman dalam waktu yang lama', tahu bahwa selalu ada hal baru yang harus kita pelajari satu sama lain. Kita tahu bahwa kita sampai tingkat tertentu memiliki misteri satu sama lain karena ada beberapa hal yang saling tidak kita ketahui. Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan cinta kita kepada Allah - tentang Allah sebagai Bapa, Allah sebagai Anak, dan Allah sebagai Roh Kudus. Selama bertahun-tahun kita harus memelihara hubungan baik dengan Tuhan, sebelum kita menjadi sedikit sadar akan apa yang membentuk Misteri besar yaitu Allah.

Seorang filsuf bernama Jean-Paul Sartre ingin mengeksplorasi penderitaan orang-orang yang merasa terjebak dan terperangkap dalam kehidupan mereka. Sartre melihat ini sebagai neraka di bumi. Sartre menulis sebuah drama tentang neraka semacam ini dan menyebutnya No Exit. “Tiga orang tiba di sebuah ‘ruangan’, di mana terdapat ruang tamu dengan cermin di sekeliling dindingnya. Tidak ada pintu keluar di ruangan itu, dan tidak ada selingan atau istirahat dalam permainan. Ketiga karakter itu tetap berada di atas panggung sepanjang waktu, karena mereka tidak pernah bisa meninggalkan ruangan dan harus tetap bersama saling menjaga.

Nyanyian sukacita dalam Kitab Zefanya yang kita dengar dalam bacaan pertama hari Pesta Maria Mengunjungi Elisabet adalah nyanyian harapan Israel. Harapan dan kerinduan bahwa akan tiba  waktunya Tuhan memperbarui Israel dengan cinta dan belaskasihan-Nya. “Pada hari itu, akan dikatakan kepada Yerusalem: Janganlah takut, hai Sion! Janganlah berkecil hati! Tuhan, Allahmu, ada di tengah-tengahmu sebagai Juruselamat. Ia akan bersukacita atasmu dan membaharui engkau dalam kasih-Nya. Tuhan akan bersorak gembira karena engkau.”

Renungan Hari Kenaikan Yesus Ke Surga

Minggu, 28 Mei 2017 16:10

Ketika kita mengucapkan Credo kita mengakui tentang Yesus: 'Ia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa.' Apa gambaran yang muncul dalam pikiran kita saat memikirkan Yesus naik ke surga? Apakah kita membayangkan Dia menaklukkan ruang dengan naik seperti sebuah kapal luar angkasa? Jika kita berpikiran seperti itu, kita telah keliru memahami kata-kata tulisan suci sebab kata-kata itu tidak dapat dimengerti  secara harfiah. Kata-kata itu adalah cara puitis dan buku bergambar yang mengatakan bahwa Yesus tidak lagi berada di bumi secara fisik dan material. Dalam tubuh kebangkitan-Nya yang telah berubah, Ia telah pergi kepada Tuhan dan hidup dengan Tuhan dalam terang dan kemuliaan. Itu berarti bahwa Allah yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati telah memuliakan dan meninggikan Dia.

Sejak awal penciptaan, Tuhan berfirman: Tidak baik manusia itu sendiri (Kejadian 2:18). Manusia, kita diciptakan dalam kasih untuk mengasihi, untuk menjadi komunitas orang-orang yang mengasihi, sama seperti Bapa, Putera, dan Roh Kudus bersatu dalam komunitas cinta yang tidak dapat dipisahkan.

Hari ini kita mendegar Yesus menyatakan diri-Nya sebagai jalan, kebenaran dan hidup. Akan ada banyak makna yang dapat kita petik dari kata-kata Yesus ini. Berikut adalah sebuah refleksi kecil untuk membantu kita menemukan makna dari kata-kata Yesus ini untuk hidup kita.

Halaman 10 dari 21