Catatan Kecil : Kronologi Waktu Kematian Yesus
Selama masa Paskah, khususnya pada Jumat Agung, kita, orang-orang Kristen memusatkan perhatian pada penderitaan Yesus Kristus dan kematian-Nya di kayu salib. Beberapa pembaca blog www.gemapasionis.org meminta saya untuk menemukan beberapa catatan penting terkait dengan kronologi waktu peristiwa kematian Yesus. Berikut ini beberapa catatan singkat yang dapat saya berikan terkait dengan Kronologi Waktu Kematian Yesus itu. Ini hanya sebuat informasi singkat, karena itu untuk memperdalam pengetahuan tentang hal ini, para pembaca dapat membaca teks-teks Kitab Suci yang dicatat di sini dan juga dapat membaca sumber-sumber lain yang berkaitan dengan Kronologi Waktu Kematian Yesus.
Mati Setiap Hari - Refleksi Minggu Prapaskah V 18 Maret 2018
Lima puluh tiga tahun yang lalu sebuah lagu untuk perdamaian berjudul Turn, Turn, Turn oleh Pete Seeger dan dinyanyikan oleh The Byrds mendapat ranking pertama dari sekian banyak lagu pada tahun itu. Lirik seluruhnya didasarkan pada Bab 3 dari Kitab Pengkhotbah dalam Alkitab. Di dalamnya termasuk kalimat: 'Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk berkabung dan ada waktu untuk menari'. Paskah akan menjadi waktu bagi kita untuk tertawa dan menari. Tetapi hari ini Gereja membawa kita pada saat menangis dan berkabung ketika kita menanggapi firman Tuhan tentang penderitaan Yesus.
Simon dari Kirene 01
Jutaan orang selama berabad-abad telah bekerja keras dan berjuang untuk membuat nama mereka dicatat dalam sejarah, namun Simon dari Kirene malah dipaksa masuk ke dalam halaman sejarah. Tanpa satu kejadian tak terduga atau lebih tepat disebut insiden dalam hidupnya, dia tidak akan pernah dikenal. Kejadian hari itu membuat Simon dikenal di seluruh dunia di mana Injil Yesus Kristus diwartakan.
Aku, Simon Orang Kirene
Perwira Romawi yang memimpin pelaksanaan hukuman atas Yesus melihat bahwa keadaan Yesus sangat parah. Ia mulai merasa cemas bahwa Yesus tidak akan mampu memikul salib-Nya hingga ke puncak Golgota. Karena itu, ia memaksa salah satu dari banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut untuk membantu Yesus memikul salib-Nya. Orang itu adalah Simon dari Kirene.
Katakan Apa Adanya Kita - Refleksi Minggu Prapaskah III – 11 Maret 2018
Tidak ada yang memaksa mereka melakukan ini. Mereka sendiri yang ingin melakukannya. Mereka adalah orang-orang yang tahu bahwa mereka memiliki masalah dengan alkohol. Mereka juga tahu apa yang Yesus katakan kepada kita hari ini bahwa 'setiap orang yang melakukan kejahatan membenci terang dan menghindarinya, karena takut tindakan mereka itu terlihat; tetapi orang-orang yang hidup oleh kebenaran datang kepada terang, sehingga dapat terlihat dengan jelas bahwa apa yang mereka lakukan dilakukan di dalam Allah’ (Yoh 3:20-21).
Kasih Allah Lebih Besar dari Kelemahan Kita - Refleksi Hari Selasa dalam Pekan Suci
Kabut gelap Sengsara Yesus semakin mendekat. Injil untuk liturgi hari ini diambil dari Injil Yohanes yang menggambarkan suasa perjamuan Paskah Yesus bersama murid-murid-Nya. Yesus “sangat sedih” karena Ia tahu bahwa Yudas, salah seorang murid yang dipilih-Nya, akan mengkhianati Dia, dan bahwa Petrus, salah seorang murid yang Ia panggil pertama kali, akan menyangkal-Nya dan bahkan bersumpah bahwa ia tidak mengenal Yesus.
Refleksi Hari Senin Dalam Pekan Suci
Injil hari Senin Pekan Suci ini diambil dari Injil Yohanes 12: 1-11 yang menyampaikan kepada kita kisah menarik tentang pengurapan Yesus oleh Maria di Betania. Enam hari sebelum hari raya Paskah, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk pergi makan malam di rumah sahabat-sahabat-Nya tercinta Lazarus, Maria dan Marta. Ketika mereka sedang makan, Maria mengambil sebotol minyak yang sangat mahal dan mengurapi kaki Yesus dan mengeringkannya dengan rambutnya, sebagai tanda cintanya yang mendalam kepada Sang Guru dan Sahabatnya. Aroma minyak semerbak memenuhi rumah itu.
Selamat Memasuki Pekan Cinta
Paus Fransiskus membuka secara resmi Tahun Kerahiman Ilahi 8 Desember 2015 lalu dengan kata-kata ini : “Yesus adalah Wajah Manusia dari Allah Yang Murah Hati.” Kata-kata ini juga meringkas misteri iman Kristen. Kebenaran Kristen yang paling mendasar terungkap secara jelas pada diri Yesus yang memberikan hidup-Nya demi cinta dan kasih sayang-Nya kepada kita. Ini adalah pesan utama dari Injil Yohanes : “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia mengirim anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, bukan untuk menghakimi dunia melainkan supaya dunia selamat melalui Dia” (Bdk. Yohanes 3: 16-17).
"Allahku, Allahku, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?" (Bagian Keempat dari Tujuh Refleksi)
Ketika rasa sakit semakin berat dan kematian semakin mendekat, dalam sakrat maut yang penuh derita Yesus berseru, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Yesus menggemakan Mazmur 22, yang berbunyi: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang” (ay. 1-2).
Ibu, inilah anakmu! … Inilah Ibumu! (Bagian Ketiga dari Tujuh Refleksi)
Ketika Yesus mengalami penderitaan berat pada saat menjelang kematian-Nya, Maria, ibu-Nya ada di antara mereka yang tetap setia kepada-Nya. Sebagian besar murid laki-laki telah melarikan diri, kecuali seseorang yang disebut Injil keempat sebagai "murid yang Ia cintai." Kita tidak dapat benar-benar yakin tentang identitas murid yang dikasihi ini, meskipun banyak penafsir yang meyakini bahwa murid itu adalah Yohanes, yang juga merupakan seorang yang berada di belakang penulisan Injil ini.